close
Lompat ke isi

Polder

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
BERJAYA
Polder di Neßmersiel, Jerman, tampak udara, Mei 2012

Polder adalah sebidang tanah yang rendah, dikelilingi oleh tanggul atau timbunan yang membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan, yang berarti tidak ada kontak dengan air dari daerah luar selain yang dialirkan melalui perangkat manual.[1] Polder umumnya dijumpai di kawasan delta sungai, bekas rawa, dan daerah tepi pantai yang elevasi lahannya berada di bawah permukaan air laut sekitarnya.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata "polder" berasal dari bahasa Belanda, diturunkan dari bahasa Belanda Pertengahan polre, dari bahasa Belanda Kuno polra, dan pada akhirnya dari akar kata pol- yang berarti sebidang tanah yang terangkat di atas lingkungan sekitarnya, dengan akhiran pembesar -er dan penyisipan -d-.[1] Kata ini pertama kali diserap ke dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1600 dalam rujukan terhadap kawasan rawa di Belanda, Flandria, dan Frisia.[2] Saat ini, kata "polder" telah diadopsi ke dalam 36 bahasa di seluruh dunia.[1]

Jenis-jenis polder

[sunting | sunting sumber]

Terdapat tiga jenis polder:[1]

  1. Polder reklamasi air — tanah yang direklamasi dari badan air seperti danau atau dasar laut yang dikeringkan dan dijadikan kawasan tertentu.
  2. Polder dataran banjir — dataran banjir yang dipisahkan dari laut atau sungai menggunakan tanggul.
  3. Polder rawa — rawa yang dikelilingi air kemudian dikeringkan; disebut pula koog, terutama di Jerman.

Cara kerja

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Contoh kincir angin polder. Permukaan air berbeda di bagian depan kincir dibandingkan dengan bagian belakangnya.

Tanah dasar berupa rawa yang dikeringkan akan surut seiring berjalannya waktu, sehingga seluruh polder pada akhirnya akan berada di bawah muka air sekitarnya. Air memasuki kawasan polder yang rendah melalui resapan (infiltration), tekanan air tanah, curah hujan, serta aliran sungai dan kanal. Ini berarti polder mengalami kelebihan air yang harus dipompa keluar atau dikeringkan dengan membuka pintu air pada saat muka air laut surut.[1]

Namun, pengaturan muka air dalam tanah tidak boleh terlalu rendah. Tanah polder yang terdiri dari gambut (bekas rawa) akan memperlihatkan percepatan pemampatan akibat dekomposisi gambut pada saat kondisi kering, karena gambut yang terpapar udara akan teroksidasi dan menyusut. Proses ini menyebabkan permukaan polder semakin dalam dari waktu ke waktu.[3]

Polder senantiasa berada pada bahaya banjir, dan tanggul yang mengelilinginya harus selalu dijaga. Tanggul-tanggul tersebut biasanya dibangun dengan material yang tersedia di daerah tersebut. Tanggul dari pasir rawan runtuh akibat oversaturation (tanah terlampau jenuh air), sementara tanah gambut kering malah lebih ringan daripada air sehingga berpotensi tidak stabil pada musim kering. Beberapa jenis binatang dapat menggali dan membuat terowongan pada struktur tanggul — di Eropa, musang air (muskrat) dikenal karena perilaku ini dan diburu di beberapa negara karena kerusakannya pada tanggul polder.[1]

BERJAYA
Sistem Kerja Polder

Teknologi pengeringan

[sunting | sunting sumber]

Sepanjang sejarah, teknologi yang digunakan untuk mengeringkan polder berkembang pesat:

  • Kincir angin — dikembangkan di Belanda sejak abad ke-15, memungkinkan pengeringan badan air yang signifikan untuk pertama kalinya.[4]
  • Pompa uap — pertama kali digunakan pada tahun 1787 di Belanda, menggantikan kincir angin untuk skala yang lebih besar.[4]
  • Pompa listrik dan diesel — digunakan pada era modern, memungkinkan pengelolaan air yang lebih presisi dan efisien.

Pembuatan polder memiliki sejarah panjang yang paling terkenal di Belanda, di mana sebanyak 20% luas wilayah daratan negara tersebut pernah direklamasi dari laut pada suatu titik dalam sejarahnya.[1] Pepatah terkenal dalam bahasa Inggris bahkan menyebut: "Tuhan menciptakan dunia, tetapi orang Belanda menciptakan Belanda" (God created the world, but the Dutch created the Netherlands).[1]

Embankmen pertama di Eropa dibangun pada zaman Romawi. Polder pertama dibangun pada abad ke-11. Polder tertua yang masih ada adalah Polder Achtermeer, dibangun pada tahun 1533.[1] Sejak abad ke-15, penggunaan kincir angin untuk pemompaan air memungkinkan pengeringan badan-badan air yang jauh lebih besar. Di Belanda, terdapat sekitar 3.000 polder yang dikelilingi tanggul, yang pada tahun 1961 mencakup sekitar 18.000 km² atau setengah dari total luas daratan negara tersebut.[1]

Di Tiongkok, kawasan Jiangnan di Delta Sungai Yangtze memiliki sejarah panjang pembangunan polder, dengan sebagian besar proyek dilaksanakan antara abad ke-10 hingga ke-13.[1]

Polder-polder terkenal

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Contoh kincir angin polder. Permukaan air berbeda di bagian depan kincir dibandingkan dengan bagian belakangnya.

Belanda merupakan negara yang paling identik dengan polder. Sekitar separuh total luas polder di Eropa barat laut berada di Belanda.[1] Beberapa polder terpenting meliputi:

BERJAYA
Pompa angin di tanggul polder Overwaard dekat Kinderdijk

Bangladesh

[sunting | sunting sumber]

Bangladesh memiliki 139 polder, 49 di antaranya menghadap laut, sementara sisanya berada di sepanjang berbagai distributari Delta Gangga-Brahmaputra-Meghna. Polder-polder ini dibangun pada 1960-an untuk melindungi pesisir dari banjir pasang surut dan mengurangi intrusi salinitas, serta juga dimanfaatkan untuk pertanian.[1]

BERJAYA
Friedrichskoog, polder di Schleswig-Holstein

Kota Kunshan memiliki lebih dari 100 polder. Kawasan Jiangnan di Delta Sungai Yangtze memiliki sejarah panjang pembangunan polder sejak abad ke-10 hingga ke-13.[1]

Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, sistem polder diterapkan di beberapa kota pesisir yang menghadapi masalah banjir dan penurunan muka tanah. Jakarta menggunakan sistem polder di kawasan Pluit dan beberapa wilayah lainnya sebagai bagian dari manajemen banjir perkotaan.

Penggunaan militer

[sunting | sunting sumber]

Selain untuk pertanian dan permukiman, polder pernah digunakan sebagai taktik militer. Salah satu contoh terkenal adalah penggenangan polder di sepanjang Sungai Yser selama Perang Dunia I. Dengan membuka pintu air pada saat air pasang dan menutupnya saat air surut, tentara Belgia berhasil mengubah polder menjadi rawa yang tidak dapat dilalui. Taktik ini efektif menghentikan laju tentara Kekaisaran Jerman dan memungkinkan pasukan Sekutu mempertahankan garis pertahanan mereka.[1] Dua warga sipil yang berjasa dalam operasi ini, Karel Cogge dan Hendrik Geeraerts, menjadi pahlawan nasional Belgia.[8]

Polder dan perubahan iklim

[sunting | sunting sumber]

Seiring meningkatnya perubahan iklim dan kenaikan muka air laut, polder menghadapi tantangan baru. Di Belanda, bencana banjir besar tahun 1953 yang menewaskan lebih dari 8.000 jiwa mendorong pembangunan Delta Works (Deltawerken) — jaringan besar infrastruktur pengendalian banjir yang terdiri dari 13 bendungan, penghalang, pintu air, dan tanggul untuk melindungi delta Rhine, Meuse, dan Scheldt.[9] Delta Works diakui oleh American Society of Civil Engineers sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Modern.[10]

Polder gambut menghadapi masalah khusus: ketika gambut terpapar udara akibat pengeringan, terjadi oksidasi yang menyebabkan penurunan permukaan tanah (subsidence) secara terus-menerus. Kondisi ini menciptakan lingkaran bermasalah di mana makin banyak air yang harus dipompa keluar seiring polder semakin dalam.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 "Polder". Wikipedia.
  2. "Polder – Etymology, Origin & Meaning". Online Etymology Dictionary.
  3. "What Are Polders and How Do They Work?". Biology Insights.
  4. 1 2 "Land reclamation in the Netherlands". Wikipedia.
  5. "Droogmakerij de Beemster (Beemster Polder)". UNESCO World Heritage Centre.
  6. "Flevopolder". Wikipedia.
  7. "IJsselmeer Polders". Encyclopædia Britannica.
  8. "Pertempuran Yser". Wikipedia bahasa Indonesia.
  9. "Mengenal Delta Works, Cara Belanda Mengatasi Banjir". Kompas. 19 Juli 2021.
  10. "Belajar Dari Sistem Polder Negara Belanda". MAULA Nusantara. 7 Maret 2016.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]