close
Lompat ke isi

Bahasa Pali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Pali)
Bahasa Pāḷi
  • 𑀧𑀸𑀮𑀺
  • 𐨤𐨫𐨁
  • បាលី
  • ပါဠိ
  • ᨷᩤᩊᩦ
  • บาลี
  • පාලි
  • पाळि
  • 𑄛𑄣𑄨
  • Pāḷi
BERJAYA
Manuskrip Kammavaca daun lontar Burma yang ditulis dalam bahasa Pali menggunakan aksara Burma
Pengucapan[paːli]
Dituturkan diWilayah kuno Magadha di India
EraAbad ke-3 SM – sekarang[1]
Bahasa liturgis dalam Buddhisme Theravāda
Perincian data penutur

Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[2]

Brāhmī, Devanāgarī, Kharoṣṭhī, Khmer, Mon-Burma, Thai, Tai Tham, Tham Lao, Sinhala dan transliterasi ke Latin, Chakma
Kode bahasa
ISO 639-1pi
ISO 639-2pli
ISO 639-3pli
LINGUIST List
LINGUIST list sudah tidak beroperasi lagi
pli
Glottologpali1273[3]
Linguasfer59-AAF-pb
IETFpi
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
Terancam

CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman

NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
ICHEL Red Book: Extinct

Pāḷi diklasifikasikan sebagai bahasa yang telah punah (EX) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

C10
Kategori 10
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa telah punah (Extinct)
C9
Kategori 9
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sudah ditinggalkan dan hanya segelintir yang menuturkannya (Dormant)
C8b
Kategori 8b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa hampir punah (Nearly extinct)
C8a
Kategori 8a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sangat sedikit dituturkan dan terancam berat untuk punah (Moribund)
C7
Kategori 7
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai mengalami penurunan ataupun penutur mulai berpindah menggunakan bahasa lain (Shifting)
C6b
Kategori 6b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai terancam (Threatened)
C6a
Kategori 6a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa masih cukup banyak dituturkan (Vigorous)
C5
Kategori 5
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mengalami pertumbuhan populasi penutur (Developing)
C4
Kategori 4
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan dalam institusi pendidikan (Educational)
C3
Kategori 3
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan cukup luas (Wider Communication)
C2
Kategori 2
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan di berbagai wilayah (Provincial)
C1
Kategori 1
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa nasional maupun bahasa resmi dari suatu negara (National)
C0
Kategori 0
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan bahasa pengantar internasional ataupun bahasa yang digunakan pada kancah antar bangsa (International)
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL Ethnologue: C9 Dormant
Bahasa Pali dikategorikan sebagai C9 Dormant menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini sudah ditinggalkan mayoritas penuturnya dan hanya dituturkan oleh segelintir orang
Referensi: [4][5][6]
Lokasi penuturan
Peta
Peta
Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini.
Koordinat: 25°24′N 85°6′E / 25.400°N 85.100°E / 25.400; 85.100 Sunting di Wikidata
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
BERJAYA Portal Bahasa
L B PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

Bahasa Pali (/ˈpɑːli/; IAST: Pāḷi) adalah bahasa Indo-Arya Pertengahan[note 1] yang dipelajari secara luas sebagai bahasa suci dalam Buddhisme Theravāda dan bahasa dari Kanon Pali (Tipiṭaka), satu-satunya korpus teks buddhis yang sintas dan bertahan secara utuh dalam bahasa Indo-Arya aslinya.[7] Pali ditetapkan sebagai bahasa klasik India oleh Pemerintah India pada 3 Oktober 2024.[8][9]

Secara tradisional, kitab-kitab tafsir Theravāda awal mengidentifikasi bahasa Pali sebagai "bahasa Māgadhī", yakni bahasa vernakular yang diyakini digunakan langsung oleh Buddha Gotama selama hidup-Nya. Adapun dalam kajian linguistik dan epigrafi modern, bahasa Pali dipahami sebagai sebuah basantara (lingua franca) kuno, alih-alih rekaman kata demi kata (verbatim) dari satu dialek lokal. Bahasa pemersatu ini merangkum beberapa dialek Prakerta dari sekitar abad ke-3 SM, yang kemudian digabungkan dan mengalami sebagian proses Sanskritisasi. Mayoritas filolog mengaitkan asal-usul dialek pembentuk bahasa Pali dengan wilayah India Barat, alih-alih India Timur yang merupakan pusat historis kerajaan Magadha. Meskipun bahasa Pali mungkin tidak persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Buddha secara langsung, para akademisi sepakat bahwa bahasa ini berhubungan sangat erat dengan ragam dialek regional yang benar-benar Beliau tuturkan. Bahasa Pali tetap mempertahankan beberapa fitur linguistik dari wilayah timur kuno yang disebut sebagai Māgadhisme, serta diyakini berasal dari matriks konseptual dan rumpun bahasa yang sama, sehingga mampu menangkap nuansa dunia pemikiran dari ajaran Sang Buddha dengan sangat akurat.

Asal-usul dan perkembangan

[sunting | sunting sumber]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata 'Pali' digunakan sebagai nama untuk bahasa dari kanon tradisi Theravāda (Kanon Pali). Kata ini tampaknya berawal dari tradisi kitab tafsir (komentar), yang di dalamnya Pāḷi (dalam arti "baris teks asli yang dikutip") dibedakan dari komentar atau terjemahan vernakular yang mengikutinya dalam manuskrip.[10] K. R. Norman berpendapat bahwa kemunculannya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda terhadap kata majemuk pāḷi-bhāsa, dengan pāḷi ditafsirkan sebagai nama dari suatu bahasa tertentu.[10]:1

Nama Pāḷi tidak muncul dalam sastra kanonis, dan dalam literatur kitab tafsir kadang-kadang diganti dengan tanti, yang berarti untaian atau silsilah.[10]:1 Nama ini tampaknya muncul di Sri Lanka pada awal milenium kedua Masehi selama kebangkitan penggunaan bahasa Pali sebagai bahasa istana dan sastra.[11][10]:1

Oleh karena itu, nama bahasa ini telah menimbulkan perdebatan di antara para cendekiawan dari masa ke masa; ejaan namanya juga bervariasi, tidak hanya ditemukan dengan "ā" panjang [ɑː] tetapi juga "a" pendek [a], dan tidak hanya dengan bunyi "l" aproksiman lateral retrofleks bersuara [ɭ] tetapi juga non-retrofleks [l]. Baik ā panjang maupun retrofleks terlihat dalam render ISO 15919/ALA-LC, Pāḷi. Akan tetapi, sejauh ini, tidak ada ejaan tunggal modern terstandarisasi untuk istilah tersebut, dan keempat kemungkinan ejaan (Pāḷi, Pāli, Paḷi, dan Pali) dapat ditemukan dalam berbagai buku teks. R. C. Childers menerjemahkan kata ini sebagai "rangkaian" dan menyatakan bahwa bahasa ini "menyandang julukan tersebut sebagai konsekuensi dari kesempurnaan struktur tata bahasanya".[12]

Asal geografis

[sunting | sunting sumber]

Terdapat kebingungan yang terus-menerus mengenai hubungan antara Pāḷi dengan bahasa vernakular yang dituturkan di kerajaan kuno Magadha, yang dulunya terletak di wilayah yang sekarang menjadi Bihar. Dimulai pada kitab tafsir Theravāda, Pali diidentifikasi dengan 'Magadhi', bahasa kerajaan Magadha, dan ini juga dianggap sebagai bahasa yang digunakan Buddha Gotama selama hidupnya.[10] Pada abad ke-19, seorang Orientalis Inggris Robert Caesar Childers berpendapat bahwa nama geografis atau nama asli dari bahasa Pali adalah Prakerta Magadhi, dan karena pāḷi berarti "baris, deret, rangkaian", umat Buddha awal memperluas arti istilah tersebut menjadi "serangkaian kitab", sehingga pāḷibhāsā berarti "bahasa naskah-naskah".[13]

Namun, keilmuan modern memandang Pali sebagai campuran dari beberapa bahasa Prakerta dari sekitar abad ke-3 SM, digabungkan dan sebagian disanskritisasi.[14][15] Tidak ada dialek Indo-Arya Pertengahan yang teruji memiliki semua fitur bahasa Pali.[10]:5 Di era modern, perbandingan antara Pali dan prasasti yang diketahui berbahasa Prakerta Magadhi, serta dengan teks-teks dan tata bahasa lain dari bahasa tersebut telah dimungkinkan.[10] Walaupun tidak ada sumber yang ada secara spesifik mendokumentasikan Magadhi pra-Aśoka, sumber-sumber yang tersedia menunjukkan bahwa Pali tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan bahasa tersebut.[10]

Para cendekiawan modern umumnya menganggap Pali berasal dari dialek Barat, bukan dialek Timur.[16] Pali memiliki beberapa kesamaan baik dengan Prasasti batu Junagadh Rudradaman di Kathiawar maupun dengan Prakerta Tengah-Barat yang ditemukan di prasasti Hathigumpha bagian timur.[10]:5 Kesamaan ini mengarahkan para cendekiawan untuk mengaitkan Pali dengan wilayah India barat ini.[17] Meskipun demikian, Pali tetap mempertahankan beberapa fitur timur yang disebut sebagai Māgadhisme (dialek Magadha, logat kampung halaman Buddha).[18]

Pāḷi, sebagai bahasa Indo-Arya Pertengahan, berbeda dari bahasa Sanskerta lebih pada dasar dialektalnya daripada pada waktu asalnya. Sejumlah fitur morfologis dan leksikalnya menunjukkan bahwa ia bukanlah kelanjutan langsung dari bahasa Sanskerta Ṛgveda. Alih-alih, ia diturunkan dari satu atau lebih dialek yang, terlepas dari banyak kesamaannya, berbeda dari Ṛgveda.[19]

Sejarah awal

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Kammavācā ("pengakuan dosa/kesalahan" bagi para biku) Burma abad ke-19, ditulis dalam bahasa Pali di atas daun lontar berlapis emas

Kitab tafsir Theravāda menyebut Pali sebagai "Prakerta Magadhi" atau "bahasa Magadha".[10]:2 Identifikasi ini pertama kali muncul dalam kitab tafsir, dan mungkin merupakan upaya kaum Buddhis untuk mengaitkan diri mereka lebih erat dengan Kekaisaran Maurya.[10] Namun, hanya sebagian ajaran Buddha yang disampaikan di wilayah historis Magadha.[10] Para cendekiawan menganggap kemungkinan besar Buddha mengajar dalam beberapa dialek Indo-Arya Pertengahan yang berhubungan erat, yang memiliki tingkat kejelasan timbal-balik (mutual intelligibility) yang tinggi.

Tradisi Theravāda, sebagaimana tercatat dalam kronik seperti Mahāvaṃsa, menyatakan bahwa Tipiṭaka pertama kali ditulis pada abad pertama SM.[10]:5 Langkah menjauh dari tradisi pelestarian lisan sebelumnya ini digambarkan sebagai motivasi akibat adanya ancaman terhadap Sangha (komunitas Buddhis) dari kelaparan, perang, dan meningkatnya pengaruh tradisi rival dari Abhayagiri Vihāra.[10]:5 Catatan ini umumnya diterima oleh para cendekiawan, meskipun ada indikasi bahwa Pali telah mulai direkam secara tertulis sebelum tanggal ini.[10]:5 Pada titik ini dalam sejarahnya, para cendekiawan menganggap kemungkinan Pali telah mengalami beberapa asimilasi awal dengan Sanskerta, seperti konversi kata Indo-Pertengahan bahmana menjadi kata Sanskerta yang lebih familiar brāhmana yang digunakan oleh para brahmana kontemporer untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri.[10]:6

Di Sri Lanka, bahasa Pali diperkirakan memasuki masa kemunduran yang berakhir sekitar abad ke-4 atau ke-5 (seiring naiknya pamor bahasa Sanskerta, dan secara bersamaan, ketika penganut agama Buddha menjadi bagian yang lebih kecil di anak benua tersebut), tetapi pada akhirnya mampu bertahan. Karya Buddhaghosa sebagian besar bertanggung jawab atas kebangkitan kembali Pali sebagai bahasa ilmiah yang signifikan dalam pemikiran Buddhis. Visuddhimagga, beserta kitab-kitab ikhtisar dan komentar yang disusun Buddhaghosa, mengodifikasi dan meringkas tradisi tafsir Sinhala yang telah dilestarikan dan dikembangkan di Sri Lanka sejak abad ke-3 SM.[20]

Dengan hanya beberapa kemungkinan pengecualian, seluruh korpus teks Pali yang dikenal saat ini diyakini berasal dari Anuradhapura Maha Viharaya di Sri Lanka.[16] Meskipun bukti sastra tentang umat Theravāda di daratan India yang bertahan hingga abad ke-13 memang ada, tidak ada teks Pali yang secara spesifik dapat diatribusikan pada tradisi ini yang telah ditemukan kembali.[16] Beberapa teks, seperti Milindapañha, mungkin disusun di India sebelum ditransmisikan ke Sri Lanka, tetapi versi teks yang bertahan adalah versi yang dilestarikan oleh Mahavihara di Sri Lanka dan dibagikan dengan vihara-vihara di Asia Tenggara Theravāda.[16]

Prasasti paling awal dalam bahasa Pali yang ditemukan di daratan Asia Tenggara berasal dari milenium pertama Masehi, dengan beberapa kemungkinan seawal abad ke-4.[16] Prasasti ditemukan di wilayah yang sekarang menjadi Burma, Laos, Thailand, dan Kamboja, dan mungkin menyebar dari India selatan alih-alih dari Sri Lanka.[16] Pada abad ke-11, apa yang disebut "renaisans Pali" dimulai di sekitar Kerajaan Pagan, secara bertahap menyebar ke seluruh daratan Asia Tenggara saat dinasti-dinasti kerajaan mensponsori silsilah monastik yang berasal dari Anuradhapura Maha Viharaya.[16] Era ini juga ditandai dengan adopsi konvensi Sanskerta dan bentuk-bentuk puitis (seperti kavya) yang belum menjadi fitur sastra Pali sebelumnya.[21] Proses ini dimulai sejak abad ke-5, tetapi meningkat pada awal milenium kedua saat teks-teks Pali tentang puitika dan komposisi yang dimodelkan pada bentuk Sanskerta mulai semakin populer.[21] Salah satu tonggak periode ini adalah penerbitan Subodhālaṅkāra pada abad ke-14, sebuah karya yang diatribusikan kepada Sangharakkhita Mahāsāmi dan dimodelkan pada Kavyadarsha Sanskerta.[21]

Peter Masefield mencurahkan penelitian yang cukup besar terhadap bentuk Pali yang dikenal sebagai Pali Indocina, yang juga disebut 'Pali Kham'. Hingga saat ini, bentuk ini dianggap sebagai bentuk Pali yang terdegradasi; tetapi, Masefield menyatakan bahwa pemeriksaan lebih lanjut dari korpus teks yang sangat besar kemungkinan akan mengungkap bahwa ini adalah dialek Pali yang konsisten secara internal. Alasan perubahannya adalah karena beberapa kombinasi karakter sulit ditulis dalam aksara-aksara tersebut. Masefield lebih lanjut menyatakan bahwa pada saat introduksi kembali Buddhisme Theravāda yang ketiga ke Sri Lanka, catatan di Thailand menyatakan bahwa sejumlah besar teks juga turut dibawa. Hilangnya penahbisan monastik di Sri Lanka dibarengi dengan hilangnya banyak teks. Oleh karena itu, kanon Pali Sri Lanka pertama kali diterjemahkan ke dalam Pali Indocina dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam Pali.[22]

Terlepas dari perluasan jumlah dan pengaruh monastik yang diturunkan dari Mahavihara, kebangkitan kembali studi Pali ini tidak menghasilkan produksi karya sastra baru yang sintas dalam bahasa Pali.[16] Selama era ini, korespondensi antara istana kerajaan di Sri Lanka dan daratan Asia Tenggara dilakukan dalam bahasa Pali, dan tata bahasa yang ditujukan untuk penutur bahasa Sinhala, Burma, dan bahasa-bahasa lain pun diproduksi.[11] Kemunculan istilah 'Pali' sebagai nama bahasa dari kanon Theravāda juga terjadi pada era ini.[11]

Manuskrip dan prasasti

[sunting | sunting sumber]

Meskipun Pali secara umum diakui sebagai bahasa kuno, tidak ada bukti epigrafi atau manuskrip yang bertahan dari era-era paling awal.[23][24] Sampel paling awal dari bahasa Pali yang ditemukan adalah prasasti yang diyakini berasal dari abad ke-5 hingga ke-8 yang terletak di daratan Asia Tenggara, khususnya di Thailand tengah dan Myanmar bagian bawah.[24] Prasasti-prasasti ini biasanya terdiri dari kutipan pendek dari Kanon Pali dan teks non-kanonik, dan mencakup beberapa contoh teks paritta Paṭiccasamuppāda gāthā.[24]

Manuskrip Pali tertua yang bertahan ditemukan di Nepal yang berasal dari abad ke-9.[24] Manuskrip ini berbentuk empat folio manuskrip daun lontar yang menggunakan aksara transisi yang diturunkan dari aksara Gupta untuk menuliskan sebuah fragmen dari Cūḷavagga.[25] Manuskrip tertua yang diketahui dari Sri Lanka dan Asia Tenggara berasal dari abad ke-13–15, dengan sedikit contoh yang bertahan.[24][26] Sangat sedikit manuskrip yang berusia lebih dari 400 tahun yang sintas, dan manuskrip lengkap dari empat Nikāya hanya tersedia dari contoh-contoh dari abad ke-17 dan sesudahnya.[23]

Penelitian Barat awal

[sunting | sunting sumber]

Pali pertama kali disebutkan dalam literatur Barat dalam deskripsi Simon de la Loubère mengenai perjalanannya di kerajaan Siam.[10] Tata bahasa dan kamus awal diterbitkan oleh misionaris Metodis Benjamin Clough pada tahun 1824, dan studi awal diterbitkan oleh Eugène Burnouf dan Christian Lassen pada tahun 1826 (Essai sur le Pali, ou Langue sacrée de la presqu'île au-delà du Gange).[10] Kamus Pali-Inggris modern pertama diterbitkan oleh Robert Childers pada tahun 1872 dan 1875.[27] Setelah pendirian Pali Text Society, studi Pali bahasa Inggris berkembang pesat dan kamus Childers menjadi ketinggalan zaman.[27] Perencanaan kamus baru dimulai pada awal 1900-an, tetapi penundaan (termasuk pecahnya Perang Dunia I) membuat pekerjaan tersebut tidak selesai sampai tahun 1925.[27]

T. W. Rhys Davids dalam bukunya Buddhist India,[28] dan Wilhelm Geiger dalam bukunya Pāli Literature and Language, mengemukakan bahwa bahasa Pali mungkin bermula sebagai basantara (lingua franca) atau bahasa budaya umum di antara orang-orang yang menggunakan dialek berbeda di India Utara, yang digunakan pada masa Buddha Gotama dan dipergunakan-Nya. Cendekiawan lain menyatakan bahwa pada waktu itu ia merupakan "vernakular yang halus dan elegan dari semua orang berbahasa Arya".[29] Keilmuan modern belum mencapai konsensus mengenai masalah ini; terdapat berbagai teori yang saling bertentangan dengan para pendukung dan penentangnya.[30] Setelah kemangkatan Sang Buddha, Pali mungkin telah berevolusi di antara umat Buddha keluar dari bahasa Buddha Gotama sebagai bahasa buatan yang baru.[31] R. C. Childers, yang memegang teori bahwa Pali adalah Prakerta Magadhi Kuno, menulis: "Seandainya Gotama tidak pernah berkhotbah, kecil kemungkinan bahasa Magadhi akan dibedakan dari sekian banyak bahasa daerah Hindustan lainnya, kecuali mungkin oleh keanggunan dan kekuatan inheren yang menjadikannya semacam Toskana di antara dialek-dialek Prakerta."[32]

Keilmuan modern

[sunting | sunting sumber]

Menurut K. R. Norman, perbedaan antara teks-teks yang berbeda di dalam kanon menunjukkan bahwa itu berisi materi dari lebih dari satu dialek tunggal.[10]:2 Beliau juga menyarankan ada kemungkinan bahwa beberapa vihāra di India Utara memiliki koleksi materi yang terpisah, dilestarikan dalam dialek lokal.[10]:4 Pada periode awal, sangat mungkin bahwa tidak diperlukan tingkat penerjemahan apa pun dalam mengomunikasikan materi ini ke area lain. Sekitar waktu Aśoka mulai ada lebih banyak divergensi linguistik, dan ada upaya untuk mengumpulkan semua materi tersebut.[10]:4 Sangat mungkin bahwa bahasa yang cukup dekat dengan Pali dari kanon tersebut muncul sebagai hasil dari proses ini sebagai kompromi dari berbagai dialek tempat materi paling awal dilestarikan, dan bahasa ini berfungsi sebagai basantara (lingua franca) di kalangan penganut Buddha Timur sejak saat itu.[10]:5 Setelah periode ini, bahasa tersebut mengalami sedikit proses Sanskritisasi (misalnya istilah bahasa Indo-Arya Pertengahan bamhana > brahmana, dan tta > tva dalam beberapa kasus).[33]

Bhikkhu Bodhi, yang meringkas status kecendekiaan saat ini, menyatakan bahwa bahasa tersebut "berhubungan erat dengan bahasa (atau, lebih mungkin, ragam dialek regional) yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri". Ia melanjutkannya dengan menulis:

Para cendekiawan menganggap bahasa ini sebagai bahasa hibrida yang menunjukkan ciri-ciri dari beberapa dialek Prakerta yang digunakan sekitar abad ketiga SM, yang tunduk pada sebagian proses Sanskritisasi. Meskipun bahasanya tidak persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Buddha sendiri, ia termasuk dalam rumpun bahasa yang sama dengan [bahasa] yang mungkin digunakan-Nya, dan berasal dari matriks konseptual yang sama. Bahasa ini dengan demikian mencerminkan dunia pemikiran yang diwarisi Buddha dari budaya India yang lebih luas tempat-Nya dilahirkan, sehingga kata-katanya menangkap nuansa halus dari dunia pemikiran tersebut.

Bhikkhu Bodhi[14]

Menurut A. K. Warder, bahasa Pali adalah bahasa Prakerta yang digunakan di wilayah India Barat.[34] Warder mengaitkan bahasa Pali dengan wilayah (janapada) dari Avanti, yang menjadi pusat Sthavira nikāya.[34] Setelah perpecahan awal dalam komunitas monastik Buddhis, cabang Sthavira Nikāya menjadi berpengaruh di India Barat dan India Selatan sementara cabang Mahāsāṃghika menjadi berpengaruh di India Tengah dan India Timur.[17] Akira Hirakawa dan Paul Groner juga mengaitkan bahasa Pali dengan India Barat dan Sthavira nikāya, mengutip prasasti Saurashtran, yang secara linguistik paling dekat dengan bahasa Pali.[17]

Pandangan emik terhadap Pali

[sunting | sunting sumber]

Walaupun dalam tradisi Brahmanis bahasa Sanskerta dikatakan sebagai bahasa abadi yang digunakan oleh para dewa yang meyakini bahwa setiap kata memiliki signifikansinya tersendiri, pandangan semacam ini untuk bahasa apa pun tidak diyakini dalam tradisi-tradisi awal Buddhisme, yang memandang bahwa kata-kata hanyalah tanda konvensional dan bisa berubah.[35] Pandangan bahasa ini secara alamiah meluas ke bahasa Pali dan mungkin berkontribusi terhadap pemakaiannya (sebagai pendekatan linguistik atau standardisasi dialek Indo-Arya Pertengahan setempat) sebagai pengganti Sanskerta. Meskipun demikian, pada saat kompilasi kitab tafsir Pali (abad ke-4 atau ke-5), Pali dideskripsikan oleh para penggubah anonim sebagai bahasa alamiah, akar bahasa dari semua makhluk.[36][10]:2

Sebanding dengan Mesir Kuno, Latin, atau Ibrani dalam tradisi mistis Barat, pelafalan Pali sering kali dipercaya memiliki kekuatan supranatural (yang dapat dikaitkan dengan maknanya, karakter pembaca, atau kualitas bahasanya sendiri), dan pada stratum awal sastra Buddha kita sudah dapat melihat dhāraṇī Pali (paritta) digunakan sebagai "mantra", seperti misalnya untuk mengobati gigitan ular. Banyak orang di kultur Theravāda masih meyakini bahwa mengambil sumpah dalam bahasa Pali memiliki signifikansi khusus, dan, sebagai salah satu contoh dari kekuatan supranatural yang diperuntukkan bagi pelafalan dalam bahasa tersebut, pembacaan sumpah dari Aṅgulimāla diyakini mampu meredakan rasa sakit melahirkan di Sri Lanka. Di Thailand, membacakan seloka-seloka dari bagian Abhidhammapiṭaka dipercaya membawa manfaat yang menguntungkan bagi orang yang baru saja meninggal dunia, dan upacara adat semacam ini secara rutin biasanya menyita waktu hingga tujuh hari pengerjaan. Tidak ada di dalam bagian teks tersebut yang membahas topik ini secara persis, dan asal-usul adat kebiasaannya tidak terlalu jelas.[37]

Pali hari ini

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Pali telah punah dari statusnya sebagai bahasa sastra di daratan India pada abad ke-14, tetapi terus bertahan di tempat lain hingga abad ke-18. Bahasa ini dibangkitkan di lingkungan akademis India berkat upaya keras para peneliti seperti Dharmananda Kosambi. Kini, Pali dipelajari utamanya untuk mendapatkan akses ke naskah-naskah suci Buddha, dan lazim dirapalkan dalam konteks upacara keagamaan. Kepustakaan Pali sekuler yang mencakup kronik sejarah Pali, naskah medis, dan prasasti juga memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Pusat-pusat besar pembelajaran Pali masih bertahan di Sri Lanka dan negara-negara Theravāda lainnya di Asia Tenggara: Myanmar, Thailand, Laos, dan Kamboja. Sejak abad ke-19, berbagai komunitas pelestarian studi Pali di India telah mempromosikan kesadaran akan bahasa beserta kesusastraannya ini, termasuk Maha Bodhi Society yang didirikan oleh Anagarika Dhammapala.

Di Eropa, Pali Text Society telah menjadi kekuatan utama dalam mempromosikan studi Pali di kalangan cendekiawan Barat sejak didirikan pada 1881. Berbasis di Britania Raya, komunitas ini menerbitkan edisi romanisasi teks Pali beserta terjemahan bahasa Inggrisnya. Pada 1869, kamus Pali pertama diterbitkan dengan memanfaatkan riset Robert Caesar Childers, salah seorang anggota pendiri Pali Text Society. Terjemahan teks Pali pertama ke dalam bahasa Inggris diterbitkan pada 1872. Kamus karya Childers ini kelak dianugerahi Penghargaan Volney pada 1876.

Pali Text Society didirikan antara lain untuk mengompensasi minimnya dana yang dialokasikan bagi studi Indologi di Inggris pada akhir abad ke-19; ironisnya, aktivitas warga Britania Raya dalam studi bahasa Sanskerta dan Prakerta saat itu tak segiat Jerman, Rusia, atau bahkan Denmark. Bahkan tanpa diinspirasi oleh penguasaan kolonial seperti pendudukan Inggris atas Sri Lanka dan Burma, institusi-institusi seperti Perpustakaan Kerajaan Denmark mampu menghimpun koleksi besar manuskrip Pali beserta tradisi kuat dalam studi bahasa tersebut.

Hampir setiap kata dalam Pāḷi memiliki kognat (kata serumpun) dalam bahasa-bahasa Indo-Arya Pertengahan lainnya, yakni bahasa-bahasa Prakerta. Hubungannya dengan Sanskerta Weda kurang begitu langsung dan lebih rumit; bahasa-bahasa Prakerta diturunkan dari bahasa vernakular Indo-Arya Kuno. Secara historis, pengaruh antara bahasa Pali dan Sanskerta terjadi di kedua arah. Kemiripan bahasa Pali dengan bahasa Sanskerta sering kali dilebih-lebihkan dengan membandingkannya dengan komposisi bahasa Sanskerta yang lebih belakangan—yang ditulis berabad-abad setelah bahasa Sanskerta berhenti menjadi bahasa yang hidup, dan dipengaruhi oleh perkembangan bahasa Indo-Arya Pertengahan, termasuk peminjaman langsung dari sebagian leksikon Indo-Arya Pertengahan; padahal, sebagian besar terminologi teknis Pali yang lebih baru justru dipinjam dari kosakata disiplin ilmu yang setara dalam bahasa Sanskerta, baik secara langsung maupun dengan adaptasi fonologis tertentu.[butuh rujukan]

Pali pascakanonik juga memiliki beberapa kata serapan dari bahasa-bahasa lokal di tempat bahasa Pali digunakan (misalnya orang-orang Sri Lanka yang menambahkan kata-kata Sinhala ke dalam bahasa Pali). Penggunaan ini membedakan bahasa Pali yang ditemukan di dalam Suttapiṭaka dari komposisi-komposisi yang lebih belakangan seperti kitab-kitab tafsir Pali mengenai kanon dan cerita rakyat (misalnya, kitab tafsir atas kitab Jātaka), dan studi perbandingan (beserta penanggalan) naskah-naskah berdasarkan kata serapan semacam itu kini menjadi bidang keahlian tersendiri.[butuh rujukan]

Bahasa Pali tidak semata-mata digunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran Buddha, sebagaimana dapat disimpulkan dari keberadaan sejumlah naskah sekuler, seperti buku-buku sains/instruksi medis, dalam bahasa Pali. Namun, minat para cendekiawan terhadap bahasa ini difokuskan pada sastra keagamaan dan filosofis, karena ia membuka jendela yang unik ke salah satu fase dalam perkembangan Buddhisme.[38]

Morfologi

[sunting | sunting sumber]

Pali adalah bahasa yang sangat berinfleksi; dengan hampir setiap kata di dalamnya mengandung afiks (biasanya sufiks) di luar keberadaan akar katanya untuk memodifikasi makna dalam berbagai cara. Kata benda (nomina) diinfleksikan berdasarkan gender, jumlah, dan kasus; infleksi verbal (kata kerja) menyampaikan informasi mengenai persona, jumlah, kala (tense), dan modus.

Infleksi nominal

[sunting | sunting sumber]

Kata benda bahasa Pali berinfleksi untuk tiga gender gramatikal (maskulin, feminin, dan netral) dan dua jumlah gramatikal (tunggal dan jamak). Pada prinsipnya, kata benda juga menampilkan delapan kasus gramatikal: nominatif atau kasus paccatta, vokatif, akusatif atau kasus upayoga, instrumental atau kasus karaṇa, datif atau kasus sampadāna, ablatif, genitif atau kasus sāmin, dan lokatif atau kasus bhumma. Namun, dalam banyak contoh, dua atau lebih kasus ini memiliki bentuk yang identik; hal ini terutama berlaku untuk kasus genitif dan datif, yang hanya dibedakan secara opsional pada bentuk tunggal dari pangkal-a (datif dapat menyatakan tujuan atau periode waktu).[39] Beberapa pola deklinasi yang lebih langka memiliki pergantian antara pangkal kuat (nominatif, vokatif, dan akusatif tunggal, nominatif jamak), pangkal lemah (sebelum akhiran yang dimulai dengan konsonan), dan pangkal tengah (sebelum akhiran yang dimulai dengan vokal).[40] Kasus akusatif menyatakan, selain objek langsung, juga arah pergerakan dan tujuan dari suatu tindakan, serta perluasan waktu dan ruang.[41]

Pangkal-a

[sunting | sunting sumber]

Pangkal-a (a-stem), yang pangkal tak terinfleksinya berakhiran dengan a pendek (/ə/), bersifat maskulin atau netral. Bentuk maskulin dan netral hanya berbeda pada kasus nominatif, vokatif, dan akusatif.

Maskulin (loka- "dunia") Netral (yāna- "kereta")
TunggalJamakTunggalJamak
Nominatif lokolokāyānaṁyānāni
Vokatif loka
Akusatif lokaṁloke
Instrumental lokenalokehi (lokebhi)yānenayānehi
Ablatif lokā (lokamhā, lokasmā; lokato)yānā (yānamhā, yānasmā; yānato)
Datif lokassa (lokāya)lokānaṁyānassa (yānāya)yānānaṁ
Genitif lokassayānassa
Lokatif loke (lokasmiṁ, lokamhi)lokesuyāne (yānasmiṁ, yānamhi)yānesu

Pangkal-ā

[sunting | sunting sumber]

Kata benda berakhiran (/aː/) hampir selalu bergender feminin.

Feminin (kathā- "cerita")
TunggalJamak
Nominatif kathākathāyo
Vokatif kathe
Akusatif kathaṁ
Instrumental kathāyakathāhi
Ablatif
Datif kathānaṁ
Genitif
Lokatif kathāya, kathāyaṁkathāsu

Pangkal-i dan pangkal-u

[sunting | sunting sumber]

Pangkal-i dan pangkal-u maskulin serta netral hanya berbeda pada kasus nominatif dan akusatif. Vokatif memiliki bentuk yang sama dengan nominatif.

Maskulin (isi- "resi") Netral (akkhi- "mata")
TunggalJamakTunggalJamak
Nominatif isiisayo, isīakkhi, akkhiṁakkhī, akkhīni
Vokatif
Akusatif isiṁ
Instrumental isināisihi, isīhiakkhināakkhihi, akkhīhi
Ablatif isinā, isitoakkhinā, akkhito
Datif isino, isissaisinaṁ, isīnaṁakkhino, akkhissaakkhinaṁ, akkhīnaṁ
Genitif
Lokatif isismiṁisisu, isīsuakkhismiṁakkhisu, akkhīsu
Maskulin (bhikkhu- "biku") Netral (cakkhu- "mata")
TunggalJamakTunggalJamak
Nominatif bhikkhubhikkhavo, bhikkhūcakkhu, cakkhuṁcakkhūni
Vokatif
Akusatif bhikkhuṁ
Instrumental bhikkhunābhikkhūhicakkhunācakkhūhi
Ablatif
Datif bhikkhuno, bhikkhussabhikkhūnaṁ, bhikkhunnaṁcakkhuno, cakkhussacakkhūnaṁ, cakkhunnaṁ
Genitif
Lokatif bhikkhusmiṁbhikkhūsucakkhusmiṁcakkhūsu

Pangkal-i dan pangkal-u feminin dapat memiliki vokal pendek atau panjang pada bentuk nominatif, tetapi sisa akhirannya sama.[42]

Feminin jāti- "kelahiran" Feminin dhenu- "sapi"
tunggal jamak tunggal jamak
Nominatif jāti jātiyo dhenu dhenuyo
Vokatif
Akusatif jātiṃ dhenuṃ
Instrumental jātiyā jātīhi dhenuyā dhenūhi
Ablatif
Datif jātīnaṃ dhenūnaṃ
Genitif
Lokatif jātiyā, jātiyāṃ jātīsu dhenuyā, dhenuyāṃ dhenūsu

Pangkal-s

[sunting | sunting sumber]

Pangkal-s bersifat netral dan hanya berdeklinasi pada bentuk tunggal.

Netral (manas- "pikiran")
Tunggal
Nominatif mano 
Vokatif
Akusatif
Instrumental manasā 
Ablatif
Datif manaso
Genitif
Lokatif manasi 

Pangkal-nt

[sunting | sunting sumber]

Pangkal-nt bersifat maskulin dan dapat menggunakan akhiran yang sama dengan pangkal-a (-anto dsb.), tetapi deklinasi aslinya memiliki pergantian antara pangkal kuat (bahasa Inggris: strong stem) berakhiran -ant dan pangkal lemah (bahasa Inggris: weak stem) berakhiran -at,[43] sebagai berikut:

Maskulin (bhagavant- "beruntung")
TunggalJamak
Nominatif bhagavābhagavanto
Vokatif
Akusatif bhagavantaṁ
Instrumental bhagatābhagavantehi
Ablatif
Datif bhagato bhagavataṁ
Genitif
Lokatif bhagatibhagavantesu

Pangkal-an

[sunting | sunting sumber]

Pangkal-an bersifat maskulin atau netral. Mereka dapat mengalami asimilasi konsonan dan berganti-ganti antara pangkal kuat berakhiran -ān, pangkal lemah -n atau -in, dan pangkal tengah -u.[44] Apabila pangkal tersebut mengandung konsonan ganda, pangkal lemahnya berakhiran -an atau -un dan pangkal tengahnya -a.

Maskulin (rājan- "raja") Netral (kamman- "tindakan")
TunggalJamakTunggalJamak
Nominatif rājārājānokammakammāni
Vokatif
Akusatif rājānaṁ
Instrumental raññā, rājinārājūhikammanā, kammunākammehi
Ablatif
Datif rañño, rājinoraññāṁkammano, kammunokammānaṁ, kammunaṁ
Genitif
Lokatif rājinirājūsukammanikammesu

Pangkal-in

[sunting | sunting sumber]

Pangkal-in bersifat maskulin. Mereka juga dapat dipengaruhi oleh pangkal-i,[45] tetapi deklinasi karakteristiknya memiliki pergantian antara pangkal kuat berakhiran -in dan pangkal lemah berakhiran -i. Adjektiva posesif berakhiran seperti balī "kuat" (feminin balinī, netral bali) berdeklinasi dengan cara yang sama.[46]

Maskulin (hatthin- "gajah")
TunggalJamak 
Nominatif hatthī (hatthi)hatthino 
Vokatif hatthi
Akusatif hatthinaṁ
Instrumental hatthināhatthīhi 
Ablatif
Datif hatthinohatthīnaṁ 
Genitif
Lokatif hatthinihatthīsu 

Pangkal-ar

[sunting | sunting sumber]

Kategori ini mencakup kata benda relasional (maskulin dan feminin) dan nomina agen (pelaku). Kata benda relasional memiliki vokal pendek pada pangkal kuat, sedangkan nomina agen memiliki vokal panjang.[47]

Nomina relasional (pitar- "ayah") Netral (satthar- "guru")
TunggalJamakTunggalJamak
Nominatif pitāpitarosatthāsatthāro
Vokatif
Akusatif pitaraṁ satthāraṁ
Instrumental pitarāpitūhisattharāsatthūhi
Ablatif
Datif pitupitūnaṁsatthusatthūnaṁ
Genitif
Lokatif pitaripitūsusattharisatthūsu

Tingkat perbandingan

[sunting | sunting sumber]
  • Biasanya tingkat perbandingan (komparatif) dibentuk dengan sufiks -tara dan superlatif dengan -tama: cth paṇḍita "bijaksana" - paṇḍitara "lebih bijaksana" - paṇḍitama "paling bijaksana".
  • Dalam beberapa kasus, bentuk komparatif dibentuk dengan -iya dan superlatif dengan -iṭṭha: pāpa "berdosa" - pāpiya - pāpiṭṭha.
  • Sufiks superlatif lainnya adalah -(i)ma.[48]
  • Kata sifat tertentu menunjukkan adanya suplesi: sant - seyya - seṭṭha "baik", yuva - kaniyya - kaniṭṭha "muda", vuḍḍha - jeyya - jeṭṭha "tua".

Pronomina (kata ganti)

[sunting | sunting sumber]

Pronomina persona untuk orang ke-1 dan ke-2 dideklinasikan sebagai berikut:[49]

Orang ke-1 tunggal Orang ke-2 tunggal Orang ke-1 jamak Orang ke-2 jamak
Nominatif ahaṁ tvaṁ mayaṁ, amhe tumhe
Akusatif maṁ taṁ amhe tumhe
Instrumental mayā tayā amhehi tumhehi
Ablatif
Datif mama, mayhaṁ tava, tuyhaṁ amhākaṁ tumhākaṁ
Genitif
Lokatif mayi tayi amhesu tumhesu
Oblik enklitik me te no vo

Pronomina demonstrativa (kata ganti penunjuk) so "itu" merangkap sebagai kata ganti orang ke-3. Ia dideklinasikan sebagai berikut:[50]

tunggal jamak
mask. netr. fem. mask. netr. fem.
Nominatif so taṁ te tāni tā, tāyo
Akusatif taṁ
Instrumental tena tāya tehi tāhi
Ablatif tasmā
Datif tassa tesaṁ tāsaṁ
Genitif
Lokatif tasmiṁ tāyaṁ tesu tāsu

Varian dengan awalan n- sebagai pengganti t- juga muncul: cth naṁ alih-alih taṁ.[51]

Dengan menambahkan elemen prefiks e- pada bentuk-bentuk so, demonstrativa proksimal "ini" terbentuk: eso, dsb.

Ada dua pronomina demonstrativa lainnya: proksimal ayaṁ "ini" dan asu "itu". Keduanya dideklinasikan sebagai berikut:[52]

ayaṁ  asu
tunggal jamak tunggal jamak
mask. netr. fem. mask. netr. fem. mask. netr. fem. mask. netr. fem.
Nominatif ayaṁ  idaṁ ayaṁ  ime imāni imā, imāyo asu, amu aduṁ asu amū amūni amū, amūyo
Akusatif imaṁ imaṁ amuṁ amuṁ
Instrumental iminā, anenā imāya imehi, ehi imāhi amunā amuyā amūhi
Ablatif imasmā, asmā amusmā
Datif imassa, assa imesaṁ, esaṁ imāsaṁ amussa amūsaṁ
Genitif
Lokatif imasmiṁ, asmiṁ imāyaṁ imesu, esu imāsu amusmiṁ amuyaṁ amūsu

Kata ganti relatif adalah yo. Ia dideklinasikan dengan akhiran yang sama seperti so (lihat di atas). 

Kata tanya (interogatif) adalah ko, yang juga menggunakan akhiran yang sama, kecuali bentuk netralnya ("apa") adalah kiṁ.[53] Darinya diturunkan kata katara, katama "yang mana", kati "berapa (jumlah)" dan kittaka "berapa (banyak/harga)".

Kata ganti tak tentu (indefinit) dapat dibentuk dengan menambahkan partikel -ci pada bentuk-bentuk interogatif: koci "seseorang".[53]

Infleksi verbal

[sunting | sunting sumber]

Kata kerja bahasa Pali berinfleksi untuk kala/tense (sekarang, lampau/preterite, dan akan datang), diatesis/suara (aktif dan pasif), dan modus (indikatif, optatif, kondisional, dan imperatif).[54] Kata kerja juga bersesuaian dengan subjek dalam hal persona (ke-1, ke-2, dan ke-3) dan jumlah gramatikal (tunggal dan jamak). Diatesis medium (bahasa Inggris: middle voice) dari bahasa Indo-Arya Kuno tetap dipertahankan, tetapi jarang digunakan,[55] hanya sintas dalam beberapa bentuk[56] dan jarang ada perbedaan semantik antara bentuk medium dengan bentuk aktif yang bersesuaian, sehingga cukup dideskripsikan sebagai salah satu tipe konjugasi saja.[57] Ketika bentuk ini menyatakan makna tertentu, ia merupakan tindakan yang dilakukan demi kepentingan subjek itu sendiri.[58]

Terdapat tiga set akhiran:[59]

  • primer: digunakan pada kala sekarang dan kala akan datang (dan terkadang pada modus optatif);
  • sekunder: digunakan pada kala lampau dan kondisional (dan terkadang pada modus optatif);
  • imperatif. 

Akhirannya adalah sebagai berikut:[60][61]

Aktif Medium
Primer Sekunder Imperatif Primer Sekunder Imperatif
Orang ke-1 tunggal -mi (-āhaṁ, -ahaṁ) -(a) -e -(a)
Orang ke-2 tunggal -si -  -∅ (-hi setelah ) -se -tho -ssu
Orang ke-3 tunggal -ti -  -tu -te -tha -taṁ
Orang ke-1 jamak -ma, -masi -ma -mu (jarang)  -mase, -mhe -mhase
Orang ke-2 jamak -tha -tha -tha -vhe -vho -vho
Orang ke-3 jamak -nti -u() -ntu -nte, -re -re, -raṁ -ntaṁ

Konjugasi

[sunting | sunting sumber]

Semua bentuk kata kerja beraturan dikonstruksikan dari pangkal yang sama (secara historis merupakan pangkal kala sekarang), tetapi juga sering terdapat bentuk-bentuk historis yang diturunkan langsung dari akar kata. Terdapat dua konjugasi produktif:[62] 

  • Konjugasi ke-1, dengan pangkal berakhiran -a (labh-a-ti "mendapatkan");
  • Konjugasi ke-2, dengan pangkal berakhiran vokal panjang, paling sering e (cint-e-ti "berpikir"), kadang-kadang ā (suṇ-ā-ti "mendengar"), dan jarang vokal lain (kar-o-ti "melakukan").

Pola-pola lainnya sebagian besar adalah peninggalan historis.

Kala sekarang

[sunting | sunting sumber]

Kala sekarang dibentuk dengan menambahkan akhiran primer pada pangkal kala sekarang. Kata kerja dengan pangkal berakhiran -e- mengubahnya menjadi -aya- pada diatesis medium.[63]

Aktif Medium
Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2 Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2
Orang ke-1 tunggal labhāmi cintemi labhe cintaye
Orang ke-2 tunggal labhasi cintesi labhase cintayase
Orang ke-3 tunggal labhati cinteti labhate cintayate
Orang ke-1 jamak labhāma cintema labhamhe cintayamhe
Orang ke-2 jamak labhatha cintetha labhavhe cintayavhe
Orang ke-3 jamak labhanti cintenti labhante, labhare cintayante, cintayare

Kala akan datang

[sunting | sunting sumber]

Kala akan datang dibentuk dengan sufiks -(i)ssa- + akhiran primer[64], meskipun -ss- dapat direduksi menjadi -s- tunggal atau dilemahkan lebih lanjut (lenisi) menjadi -h-.[65] Sekali lagi, kata kerja berakhiran -e- dapat atau tidak dapat menggantinya dengan -aya-.[66] Vokal selain -e- dihilangkan dan diganti dengan -i-; cth suṇāti "mendengar" - suṇissati "dia akan mendengar".[67] 

Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2
Orang ke-1 tunggal labhissāmi cintayissāmi, cintessāmi
Orang ke-2 tunggal labhissasi cintayissasi, cintessasi
Orang ke-3 tunggal labhissati cintayissati, cintessati
Orang ke-1 jamak labhissāma cintayissāma, cintessāma
Orang ke-2 jamak labhissatha cinteyissatha, cintessatha
Orang ke-3 jamak labhissanti cinteyissanti, cintessanti

Beberapa kata kerja dapat menambahkan -ssa secara langsung ke pangkal, yang menyebabkan berbagai perubahan sandhi: cth labhati memiliki bentuk alternatif kala akan datang lacchati (dari labh-ssa-ti).[68]

Kondisional

[sunting | sunting sumber]

Bentuk kondisional dibentuk seperti kala akan datang, dari pangkal kala sekarang dan sufiks akan datang -(i)ssa-, tetapi dibedakan dengan menggunakan awalan augmen (augment prefix) dan akhiran sekunder.[69] Selain itu, akhiran pada orang ke-3 jamak adalah -ṁsu. Meskipun bentuk untuk diatesis medium diberikan oleh para ahli tata bahasa Pali, hanya bentuk orang ke-3 tunggal yang benar-benar terbukti pengunaannya.[70] Bentuk ini menyatakan kondisi atau hasil yang belum atau tidak dapat diwujudkan.[71]

Aktif Medium
Orang ke-1 tunggal alabhissaṁ alabhissaṁ
Orang ke-2 tunggal alabhissa alabhisse
Orang ke-3 tunggal alabhissa alabhissatha
Orang ke-1 jamak alabhissāma alabhissāmhase
Orang ke-2 jamak alabhissatha alabhissavhe
Orang ke-3 jamak alabhissaṁsu alabhissiṁsu

Bentuk optatif dibentuk baik dengan sufiks -eyyā- beserta akhiran primer atau sekunder, maupun dengan sufiks -e- beserta akhiran sekunder.[72][73] Akhiran-akhiran ini ditambahkan pada pangkal kala sekarang, tetapi vokal akhir dari pangkal dihilangkan, sehingga tidak ada perbedaan antara konjugasi-konjugasi tersebut. Selain harapan atau keinginan, optatif dapat menyatakan tindakan yang mungkin terjadi atau tidak nyata di dalam konstruksi kondisional.[74]

Aktif Medium
Orang ke-1 tunggal labheyyāmi, labheyyaṁ, labhe labbheyyaṁ
Orang ke-2 tunggal labheyyāsi, labheyya, labhe labbhetho
Orang ke-3 tunggal labheyyāti, labheyya, labhe labbhetha
Orang ke-1 jamak labheyyāma, labbhema (dan labbhemu!) labbhemase
Orang ke-2 jamak labheyyātha, labbhetha labbheyavho
Orang ke-3 jamak labbheyyuṁ, labbheyyu labbheraṁ

Beberapa kata kerja pengecualian membentuk optatif dengan -yā- alih-alih -e(yya)-, yang menghasilkan perubahan sandhi: jānāti "mengetahui" - jān-yā > jāñña.[75]

Imperatif

[sunting | sunting sumber]

Hanya kata kerja dari konjugasi ke-1 yang dapat menggunakan pangkal murni sebagai imperatif orang ke-2 tunggal, sementara kata kerja konjugasi ke-2 mengambil -hi.[76] Kata kerja berakhiran -e- dapat atau tidak dapat menggantinya dengan -aya-. Pada persona ke-1, bentuk indikatif dapat digunakan dengan fungsi imperatif.

Aktif Medium
Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2 Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2
Orang ke-1 tunggal (labhāmi) (cintemi) (labhe) (citaye)
Orang ke-2 tunggal labha, labhāhi cintehi, cintayahi labhassu cintayassu
Orang ke-3 tunggal labhatu cinteti, cintayati labhataṁ cintetaṁ
Orang ke-1 jamak (labhāmu) (cintemu, cintayamu) (labhāmase) (cintayāmase)
Orang ke-2 jamak labhatha cintetha, cintayatha labhavho cintayavho
Orang ke-3 jamak labhantu cintentu, cintayantu labhantaṁ cintayantaṁ

Preterite (kala lampau)

[sunting | sunting sumber]

Kala lampau (preterite) dibentuk dengan menambahkan akhiran sekunder pada pangkal preterite, yang dikonstruksikan sebagai berikut:

  • Konjugasi ke-1 – sebagian besar dengan sufiks -i(s)- (cth labhati - labhi < labh-is);[77]
  • Konjugasi ke-2 – sebagian besar dengan sufiks -s(i)- (cth cinteti - cintesi).[78] 

Konsonan dari sufiks-sufiks ini sering kali mengalami perubahan, asimilasi, dan elisi karena aturan fonotaktik Pali. Dua tipe yang tidak produktif adalah:

  • Aoris tematik – dengan sufiks -a[79] (cth gacchati "pergi" - agamā);
  • Aoris akar kata – tanpa sufiks.[80] (cth dadati "memberi" - adā)

Preterite sering kali juga mengambil awalan augmen a-, tetapi ini tidak wajib pada bentuk-bentuk dengan lebih dari dua suku kata dan biasanya tidak ada pada bentuk dengan -is- (konjugasi ke-1).[81][82]

Sering kali terdapat variasi bentuk antara pangkal-pangkal aoris yang berbeda di dalam kata kerja yang sama: cth gacchati "pergi" dapat menggunakan aoris tematik (agamā), aoris-i(s)- turunan dari akar kata (agami), aoris-i(s) turunan dari pangkal kala sekarang (gacchi), atau gabungan aoris tematik-dan-i(s) (agamāsi);[83] karoti "melakukan" dapat menggunakan aoris akar kata akā, aoris tematik akarā, atau aoris--s(i) akāsi.[84] 

Aktif Medium
Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2 Konjugasi ke-1 Konjugasi ke-2
Orang ke-1 tunggal labhiṁ (< labh-is-ṁ cintesiṁ (< cinte-s-i-ṁ
Orang ke-2 tunggal labhi (< labh-is-∅ cintesi (< cinte-s-i-∅ labbhittho (< labbh-is-tho
Orang ke-3 tunggal labhi (< labh-is-∅ cintesi (< cinte-s-i-∅ labbhittha (< labh-is-tha cintettha (< cinte-s-tha)
Orang ke-1 jamak labhimha (< labh-is-ma cintayimha (< cintay-is-ma)*  labhimhase? cintayimhase?
Orang ke-2 jamak labhittha (< labh-is-tha) cintayittha (< cintay-is-tha)*
Orang ke-3 jamak labbhisuṁ, labbhiṁsu cintesuṁ, cintayiṁsu

* Perlu dicatat bahwa bentuk orang ke-1 dan ke-2 jamak dari kata kerja-e biasanya termasuk dalam aoris-i(s)-.[85] Contoh dari aoris-s yang konsisten dapat dilihat cth pada preterite dari karoti: orang ke-3 tunggal akāsi (< a-kā-si), orang ke-1 jamak akamha (< a-kā-s-ma), orang ke-2 jamak akattha (< a-kā-s-tha).

Contoh konjugasi dari aoris tematik:

Aktif Medium
Orang ke-1 tunggal agamaṁ
Orang ke-2 tunggal agamā agamase
Orang ke-3 tunggal agamā agamatha 
Orang ke-1 jamak agamāma agamamhase
Orang ke-2 jamak agamatha
Orang ke-3 jamak agamuṁ agamare

Pasif dan denominatif

[sunting | sunting sumber]

Bentuk pasif dibentuk dengan penambahan sufiks -(i/ī)ya- pada pangkal; akhirannya biasanya aktif.[86][87] Pola aslinya melibatkan -ya yang ditambahkan secara langsung pada akar kata, yang pada umumnya menghasilkan efek sandhi, cth labh-ya-ti > labbhati "diperoleh"; chindati "memotong" - chid-ya-ti  > chijjati "dipotong". Pola produktif dengan vokal -i/ī- sebelum -ya- ditemukan, antara lain, pada pangkal kata kerja berakhiran -e- (cth cinteti - cintiyati "dipikirkan") dan pada pangkal kata kerja dalam suku kata berat (bahasa Inggris: heavy syllable): chindati "memotong" - chind-i-ya-ti "dipotong".[88] Namun, pasif sintetik jarang digunakan; yang lebih umum, berbagai konstruksi perifrastik digunakan seperti kata kerja penghubung (kopula) ditambah partisipel lampau (samannāgto hoti "dia dianugerahi") atau kata kerja yang dipasangkan dengan kata benda abstrak.[89]

Sufiks serupa -(i/ī/ā)ya- digunakan untuk membentuk kata kerja denominatif secara produktif dari kata benda dan kata sifat: pihā "hasrat" > pihāyati "berhasrat".[90][91] 

Pangkal kausatif dibentuk dengan menambahkan salah satu dari dua sufiks berikut:

  • -e- atau -aya-, lebih umum pada akar kata, cth gam-e-ti "menyebabkan pergi" (kadang-kadang dengan vṛddhi (pelebaran vokal): kar-oti 'melakukan', tetapi kār-eti 'menyuruh melakukan')
  • -pe- atau -paya-, biasanya pada pangkal kala sekarang dan pada akar kata yang berakhiran -Cā: jānā-pe-ti "membuat agar diketahui, menginformasikan". 

Bahkan kausatif ganda juga ada, dengan pengulangan sufiks kausatif yang menghasilkan bentuk -pāpe-, seperti pada rūhati "tumbuh" > ropeti "menanam" > ropāpeti "menyuruh agar ditanam".[92]  

Bentuk kata kerja nonfinit

[sunting | sunting sumber]
  • Infinitif mengambil akhiran –(i)tuṁ (jarang -tuṁye, -tave, -tāye).[93][94] Akhiran ini ditambahkan secara produktif pada pangkal kala sekarang, yang mana vokal akhirnya dihilangkan: pucchati "bertanya" - pucchituṁ. Ada juga bentuk infinitif yang lebih tua dengan akhiran yang ditambahkan langsung ke akar kata, yang sering kali menghasilkan sandhi: cth puṭṭhuṁ untuk kata kerja yang sama.
  • Partisipel sekarang (present participle) dibentuk dengan sufiks -nt(a)- yang selalu ditambahkan pada pangkal kala sekarang pada diatesis aktif; ia dideklinasikan seperti pangkal-nt (oleh karena itu, dengan sufiks yang berganti-ganti antara -ant- dan -at-). Selain itu, sufiks dapat direduksi menjadi -ṁ pada akhir kata (labhaṁ atau labhanto, "memperoleh"' cintento, "berpikir"). Pada gender feminin, akhiran pada nominatif adalah -antī (labhantī) dan sisanya sebagian besar dideklinasikan seperti pangkal-i feminin. Pada diatesis medium, akhirannya adalah -māna- (jarang -āna-): labhamāno.[95] 
  • Partisipel keharusan (participle of need) dibentuk dengan menambahkan salah satu sufiks -(i)tabba, -anīya/aniya/aneyya, atau, jarang, -tāya/tayya/teyya atau -(i)ya-: cth pucchitabba "yang dapat/harus ditanyakan" dan kātabba, karanīya, kāriya, kayya (< kārya), kicca (< kṛtya), yang semuanya berarti "yang dapat/harus dilakukan".[96][97]
  • Partisipel (pasif) lampau dapat dibentuk secara produktif dengan menambahkan sufiks -ita pada pangkal kala sekarang: cth deseti "mengkhotbahkan" > desita "(yang) dikhotbahkan". Namun, sangat banyak kata kerja yang menambahkan sufiks -ta atau -na pada pangkal yang tidak beraturan dan tidak dapat diprediksi (awalnya merupakan tingkat akar kata lemah (weak grade) dalam bahasa Indo-Arya Kuno: cth suṇāti - suta "didengar", pucchati - puṭṭha "ditanya"). Akhirannya sering mengalami asimilasi dan perubahan bunyi lainnya karena konsonan yang mendahuluinya: cth labbhati > laddha "diperoleh", yajati "mengorbankan" - iṭṭha, bhaj-na > bhagga "patah".[98][99] Maknanya biasanya pasif pada kata kerja transitif dan aktif pada kata kerja intransitif, tetapi makna aktif juga kadang-kadang ditemukan pada kata kerja transitif.[100]
  • Kadang-kadang, partisipel aktif lampau diturunkan dari partisipel lampau dengan menambahkan sufiks -vant- atau -āvi(n)- : cth bhuttavanta "seseorang yang telah makan".[101][102]
  • Bentuk gerund/absolutif, yang selalu memiliki makna anterior (mendahului), paling umum dibentuk dengan -(i)tvā: produktif pada pangkal kala sekarang seperti pada cintayitvā, cintetvā "setelah berpikir", tetapi kadang-kadang ditambahkan pada akar kata dalam bentuk-bentuk yang lebih tua, yang dapat menghasilkan sandhi: labh-tvā > laddhā "setelah memperoleh". Bentuk ini juga dapat dibentuk dengan -(t-)(i)yā, terutama dengan kata kerja berprefiks/majemuk (ā-gam-ya > āgamma "setelah kembali"), dan kadang-kadang dengan -tvāna, -tūna, -yāna dan -aṁ.[103][104]

Sintaksis

[sunting | sunting sumber]

Kata kerja biasanya berada di akhir klausa, tetapi hal tersebut tidak wajib.[105] Adposisi murni/asli (preposisi atau posposisi) jarang ditemukan, tetapi adverbia, nomina yang terdeklinasi, dan gerund dapat digunakan secara adposisional.[106]

Beberapa konjungsi yang sering digunakan seperti ca ('dan') dan va ('atau') ditambahkan secara enklitik pada frasa yang mereka gabungkan atau pada kata-kata pertama dari klausa yang mereka gabungkan.[107] Partikel kondisional ce ('jika') juga bersifat enklitik.[108] Partikel kutipan enklitik adalah ti.[109] Akan tetapi, terdapat juga konjungsi awal-klausa seperti sace ('jika') dan konjungsi yang ditempatkan di antara konjung (bahasa Inggris: conjuncts) seperti udāhu ('atau'). Ada banyak enklitik lain, cth partikel penegas kho ('tepatnya') dan pi ('juga', 'tetapi').[110]

Kombinasi kata benda dengan sebuah partisipel, apabila keduanya diinfleksikan dalam bentuk lokatif, dan, kurang lazimnya, bentuk genitif atau akusatif, dapat berfungsi sebagai konstruksi absolut yang menyatakan arti "setelah", "kapan", "jika", dan sebagainya.[111] Kata kerja penghubung (kopula) dapat dihilangkan.[112]  Larangan dinyatakan dengan partikel yang diikuti oleh indikatif preterite (meski lebih jarang menggunakan optatif atau imperatif).[113]

Berkebalikan dengan bahasa Sanskerta, sandhi eksternal (yakni sandi antarkata) biasanya tidak diterapkan di dalam bahasa Pali[114] dan selalu bersifat opsional.[115][116] Penggunaan umum sandhi dibatasi pada kata-kata tugas seperti adverbia, preposisi, pronomina, numeralia (kata bilangan), dan kata kerja kopula, yang mungkin dilafalkan sebagai klitik kemudian mengalami peleburan sandhi dengan kata yang menempel padanya.[114] Secara peninggalan sisa bahasa terdahulu, kata-kata lain mungkin saja digabungkan dalam bentuk sandhi, tetapi kata-kata tersebut harus terkait erat secara sintaksis,[117] misalnya seperti gabungan verba dan objek, adjektiva dan nomina, adverbia dan verba[116] atau kata-kata yang memang sering dipergunakan secara bersamaan.[114]

Pembentukan kata

[sunting | sunting sumber]

Pemajemukan nomina (nominal compounding) lazim ditemukan.[118] Kata kerja berprefiks atau kata kerja majemuk sering kali dibentuk dengan adposisi dan adverbia (secara historis) sebagai anggota awal pemajemukan tersebut.[119] 

Penambahan sufiks (sufiksasi) juga tersebar luas. Beberapa sufiks yang menonjol adalah sebagai berikut:

  • Nomina tindakan dibentuk:
    • dari kata kerja: -na, -a, -nā, -taṁ, -tā, -tti, -tta;[120]
  • Nomina abstrak dibentuk:

Sufiks dan -i juga dapat membentuk nomina abstrak.[124]

  • Nomina agen (pelaku) dibentuk dengan ,[125] -(a)ka,[126] -tar, -in, dan -vin.[127]
  • -(a)ka juga merupakan sufiks diminutif.[128]
  • -tima membentuk numeralia ordinal (angka urutan).[129]

Adverbia dapat dibentuk dengan sufiks seperti:[130]

  • -tra, -ttha : tempat (atra, ittha "di sini", tatra "di sana")
  • - : waktu (tadā "kemudian")
  • -thā, -thaṁ : cara/gaya (tathā "demikian", itthaṁ "dengan cara ini")
  • -hiṁ : arah, "ke" (tahiṁ "ke sana, ke arah sana")
  • -to : "dari" (ito "dari sini, karenanya")

Analisis linguistik teks Pali

[sunting | sunting sumber]

Dari bagian awal kitab Dhammapada:

Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā;

Mano-pubbaṅ-gam-ā

Pikiran-sebelum-pergi-M.PL.NOM

dhamm-ā,

darma-M.PL.NOM,

mano-seṭṭh-ā

pikiran-terdepan-M.PL.NOM

mano-may-ā;

pikiran-terbuat-M.PL.NOM

Mano-pubbaṅ-gam-ā dhamm-ā, mano-seṭṭh-ā mano-may-ā;

Pikiran-sebelum-pergi-M.PL.NOM darma-M.PL.NOM, pikiran-terdepan-M.PL.NOM pikiran-terbuat-M.PL.NOM

Manasā ce paduṭṭhena, bhāsati vā karoti vā,

Manas-ā=ce

Pikiran-N.SG.INST=jika

paduṭṭh-ena,

rusak-N.SG.INST

bhāsa-ti=vā

berbahasa-3.SG.PRES=atau

karo-ti=vā,

beperkara-3.SG.PRES=atau,

Manas-ā=ce paduṭṭh-ena, bhāsa-ti=vā karo-ti=vā,

Pikiran-N.SG.INST=jika rusak-N.SG.INST berbahasa-3.SG.PRES=atau beperkara-3.SG.PRES=atau,

Tato naṁ dukkhaṁ anveti, cakkaṁ'va vahato padaṁ.

Ta-to

Itu-dari

naṁ

dia

dukkhaṁ

duka

anv-e-ti,

setelah-pergi-3.SG.PRES,

cakkaṁ

cakra

'va

seperti

vahat-o

pewahana-M.SG.GEN

pad-aṁ.

kaki-N.SG.ACC

Ta-to naṁ dukkhaṁ anv-e-ti, cakkaṁ 'va vahat-o pad-aṁ.

Itu-dari dia duka setelah-pergi-3.SG.PRES, cakra seperti pewahana-M.SG.GEN kaki-N.SG.ACC

Ketiga kata majemuk pada baris pertama secara harfiah memiliki arti:

manopubbaṅgama "yang pendahulunya adalah pikiran", "memiliki pikiran sebagai pendahulu atau pemimpin"
manoseṭṭha "yang anggota terdepannya adalah pikiran", "memiliki pikiran sebagai kepala/pemimpin"
manomaya "terdiri dari pikiran" atau "dibuat oleh pikiran"

Oleh karena itu, makna harfiahnya adalah: "Dhamma (fenomena) memiliki pikiran sebagai pemimpin mereka, pikiran sebagai kepala mereka, terbuat dari/oleh pikiran. Jika [seseorang] berbicara atau bertindak dengan pikiran yang rusak, dari [penyebab] itulah penderitaan mengikutinya, sebagaimana roda [kereta] mengikuti jejak kaki hewan penarik."

Terjemahan yang sedikit lebih luwes oleh Acharya Buddharakkhita:

Mind precedes all mental states. Mind is their chief; they are all mind-wrought.
If with an impure mind a person speaks or acts suffering follows him like the wheel that follows the foot of the ox.
(Pikiran mendahului semua kondisi mental. Pikiran adalah kepala mereka; semuanya dibuat oleh pikiran.
Jika dengan pikiran yang tidak murni seseorang berbicara atau bertindak, penderitaan akan mengikutinya
seperti roda yang mengikuti jejak kaki lembu.)

Konversi antara bentuk Sanskerta dan Pali

[sunting | sunting sumber]

Pali dan Sanskerta berkerabat sangat dekat dan karakteristik umum dari bahasa Pali dan Sanskerta selalu mudah dikenali oleh orang-orang di India yang akrab dengan keduanya. Sebagian besar akar kata Pali dan Sanskerta identik dalam bentuknya, dan hanya berbeda dalam detail infleksi.

Istilah-istilah teknis dari bahasa Sanskerta dikonversi ke dalam bahasa Pali melalui serangkaian transformasi fonologis konvensional. Transformasi ini meniru sebagian perkembangan fonologis yang telah terjadi pada bahasa Proto-Pali. Oleh karena maraknya transformasi semacam ini, tidak selalu mungkin untuk membedakan apakah sebuah kata Pali adalah bagian dari leksikon Prakerta kuno, atau merupakan serapan yang ditransformasikan dari bahasa Sanskerta. Keberadaan sebuah kata Sanskerta yang secara reguler berkorespondensi dengan sebuah kata Pali tidak selalu menjadi bukti kuat dari etimologi Pali, karena dalam beberapa kasus, kata-kata Sanskerta artifisial diciptakan melalui pembentukan balik (back-formation) dari kata-kata Prakerta.[diragukan ]

Proses-proses fonologis berikut tidak dimaksudkan sebagai deskripsi komprehensif mengenai perubahan historis yang menghasilkan bahasa Pali dari leluhur Indo-Arya Kuno-nya, melainkan lebih sebagai ringkasan dari persamaan fonologis yang paling umum antara bahasa Sanskerta dan Pali, tanpa mengklaim kelengkapannya.

Vokal dan diftong

[sunting | sunting sumber]
  • ai dan au dalam Sanskerta selalu mengalami monoftongisasi masing-masing menjadi e dan o dalam Pali
Contoh: maitrī (keramahan, cinta kasih) → mettā, auṣadha (ramuan medis) → osadha
  • āya, ayā dan avā dalam Sanskerta tereduksi menjadi ā dalam Pali[131]
Contoh: katipayāha (seseorang) → katipāha, vaihāyasa (tinggal di langit) → vehāsa, yāvagū (jelai) → yāgu
  • aya dan ava dalam Sanskerta juga sering tereduksi menjadi e dan o dalam Pali
Contoh: dhārayati (seseorang memelihara, seseorang menahan) → dhāreti, avatāra (penurunan) → otāra, bhavati (seseorang menjadi) → hoti
  • avi dan ayū dalam Sanskerta menjadi e (yakni aviaie) dan o dalam Pali
Contoh: sthavira (lebar, tebal, padat) → thera, mayūra (merak) → mora
  • Sanskerta muncul dalam Pali sebagai a, i atau u, yang sering kali bersesuaian dengan vokal pada suku kata berikutnya. juga kadang-kadang menjadi u setelah konsonan labial (bibir).
Contoh: kṛta (dilakukan) → kata, tṛṣṇa (haus) → taṇha, smṛti (ingatan, kenangan) → sati, ṛṣi (resi/rohaniwan) → isi, dṛṣṭi (penglihatan, pandangan) → diṭṭhi, ṛddhi (pertumbuhan, peningkatan) → iddhi, ṛju (lurus) → uju, spṛṣṭa (disentuh) → phuṭṭha, vṛddha (tua) → vuddha
  • Vokal panjang dalam Sanskerta dipendekkan apabila berada di depan rangkaian dua konsonan yang mengikutinya.
Contoh: kṣānti (kesabaran, ketahanan, pengampunan) → khanti, rājya (kerajaan) → rajja, īśvara (tuan) → issara, tīrṇa (diseberangi, dilampaui) → tiṇṇa, pūrva (timur) → pubba

Perubahan bunyi

[sunting | sunting sumber]
  • Sibilan (konsonan desis) Sanskerta ś, , dan s melebur menjadi s dalam Pali
Contoh: śaraṇa (pelindung, pembela) → saraṇa, doṣa (malam, kegelapan) → dosa
  • Konsonan letup (stop) Sanskerta dan ḍh menjadi dan ḷh di antara dua vokal (seperti dalam bahasa Weda)
Contoh: cakravāḍa (siklik) → cakkavāḷa, virūḍha (dinaiki, tumbuh bertunas) → virūḷha

Asimilasi

[sunting | sunting sumber]
Aturan umum
[sunting | sunting sumber]
  • Banyak peristiwa asimilasi dari sebuah konsonan terhadap konsonan tetangganya terjadi dalam perkembangan bahasa Pali, yang menghasilkan sejumlah besar konsonan geminat (ganda). Oleh karena aspirasi dari konsonan geminat hanya dapat dideteksi secara fonetis pada konsonan terakhir dalam kluster, bentuk geminat dari kh, gh, ch, jh, ṭh, ḍh, th, dh, ph dan bh akan muncul sebagai kkh, ggh, cch, jjh, ṭṭh, ḍḍh, tth, ddh, pph dan bbh, bukannya khkh, ghgh dan seterusnya.
  • Kluster konsonan awal disederhanakan menjadi konsonan tunggal.
Contoh: prāṇa (respirasi) → pāṇa (bukan ppāṇa), sthavira (padat, rapat) → thera (bukan tthera), dhyāna (meditasi) → jhāna (bukan jjhāna), jñāti (kecerdasan) → ñāti (bukan ññāti)
  • Apabila asimilasi akan menghasilkan rangkaian tiga konsonan di tengah kata, geminat akan disederhanakan hingga hanya tersisa dua konsonan berurutan.
Contoh: uttrāsa (rasa takut, teror) → uttāsa (bukan utttāsa), mantra (instrumen pikiran, ucapan) → manta (bukan mantta), indra (penakluk) → inda (bukan indda), vandhya (mandul, tak berbuah, terampas) → vañjha (bukan vañjjha)
  • Rangkaian vv yang dihasilkan dari asimilasi akan berubah menjadi bb.
Contoh: sarva (semua, setiap, beragam) → savva → sabba, pravrajati (seseorang bergerak maju) → pavvajati → pabbajati, divya (supranatural, luar biasa, ajaib) → divva → dibba, nirvāṇa (meninggal, padam; kepunahan, penghentian, lenyap, hilang) → nivvāṇa → nibbāna
Asimilasi total
[sunting | sunting sumber]

Asimilasi total—yakni saat satu bunyi menjadi identik dengan bunyi tetangganya—terdiri dari dua jenis: progresif (yakni saat bunyi yang berasimilasi menjadi identik dengan bunyi berikutnya) dan regresif (yakni saat bunyi tersebut menjadi identik dengan bunyi sebelumnya).

Asimilasi regresif
[sunting | sunting sumber]
  • Wisarga internal berasimilasi dengan konsonan letup nirsuara atau sibilan yang mengikutinya
Contoh: duḥkṛta (=duṣkṛta, perbuatan salah) → dukkata, duḥkha (sulit, tidak menyenangkan) → dukkha, duḥprajña (pengetahuan keliru) → duppañña, niḥkrodha (=niṣkrodha, murka) → nikkodha, niḥpakva (=niṣpakva, dimasak dengan baik, digodok, diseduh) → nippakka, niḥśoka (buruk rupa, tidak bahagia, tidak terhormat)→ nissoka, niḥsattvanissatta
  • Dalam rangkaian dua konsonan letup Sanskerta yang berbeda, letupan pertama akan berasimilasi dengan letupan kedua
Contoh: vimuktivimutti, dugdhaduddha, utpādauppāda, pudgalapuggala, udghoṣaugghosa, adbhutaabbhuta, śabdasadda
  • Dalam rangkaian dua konsonan sengau (nasal) yang berbeda, nasal pertama berasimilasi dengan nasal kedua
Contoh: unmattaummatta, pradyumnapajjunna
  • j berasimilasi dengan ñ yang mengikutinya (yakni, menjadi ññ)
Contoh: prajñāpaññā, jñātiñāti
  • Konsonan likuida (cair) Sanskerta r dan l berasimilasi dengan konsonan letup, nasal, sibilan, atau v yang mengikutinya
Contoh: mārgamagga, karmakamma, varṣavassa, kalpakappa, sarva → savva → sabba
  • r berasimilasi dengan l yang mengikutinya
Contoh: durlabhadullabha, nirlopanillopa
  • d kadang-kadang berasimilasi dengan v yang mengikutinya, menghasilkan vv → bb
Contoh: udvigna → uvvigga → ubbigga, dvādaśabārasa (di samping dvādasa)
  • t dan d dapat berasimilasi dengan s atau y yang mengikutinya ketika disela oleh batasan morfem
Contoh: ut+savaussava, ud+yānauyyāna
Asimilasi progresif
[sunting | sunting sumber]
  • Nasal kadang-kadang berasimilasi dengan konsonan letup yang mendahuluinya (dalam kasus lain terjadi epentesis)
Contoh: agni (api) → aggi, ātman (diri/roh) → atta, prāpnotipappoti, śaknotisakkoti
  • m berasimilasi dengan sibilan di awal suku kata
Contoh: smaratisarati, smṛtisati
  • Nasal berasimilasi dengan kluster letup+sibilan yang mendahuluinya, yang kemudian berkembang dengan cara yang sama seperti kluster tersebut jika tanpa diikuti oleh nasal
Contoh: tīkṣṇa → tikṣa → tikkha, lakṣmī → lakṣī →lakkhī
  • Konsonan likuida Sanskerta r dan l berasimilasi dengan konsonan letup, nasal, sibilan, atau v yang mendahuluinya
Contoh: prāṇapāṇa, grāmagāma, śrāvakasāvaka, agraagga, indrainda, pravrajati → pavvajati → pabbajati, aśruassu
  • y berasimilasi dengan konsonan letup atau nasal non-dental/retrofleks yang mendahuluinya
Contoh: cyavaticavati, jyotiṣjoti, rājyarajja, matsya → macchya → maccha, lapsyate → lacchyate → lacchati, abhyāgataabbhāgata, ākhyātiakkhāti, saṁkhyāsaṅkhā (tetapi ada juga saṅkhyā), ramyaramma
  • y berasimilasi dengan v non-awal yang mendahuluinya, menghasilkan vv → bb
Contoh: divya → divva → dibba, veditavya → veditavva → veditabba, bhāvya → bhavva → bhabba
  • y dan v berasimilasi dengan sibilan apa pun yang mendahuluinya, menghasilkan ss
Contoh: paśyatipassati, śyenasena, aśvaassa, īśvaraissara, kariṣyatikarissati, tasyatassa, svāminsāmī
  • v kadang-kadang berasimilasi dengan konsonan letup yang mendahuluinya
Contoh: pakvapakka, catvāricattāri, sattvasatta, dhvajadhaja
Asimilasi parsial dan timbal balik
[sunting | sunting sumber]
  • Sibilan Sanskerta yang berada sebelum konsonan letup akan berasimilasi dengan konsonan letup tersebut, dan jika letupan itu belum beraspirasi, maka letupan itu akan menjadi beraspirasi; cth śc, st, ṣṭ dan sp menjadi cch, tth, ṭṭh dan pph
Contoh: paścātpacchā, astiatthi, stavathava, śreṣṭhaseṭṭha, aṣṭaaṭṭha, sparśaphassa
  • Pada urutan sibilan-letupan-likuida, likuida berasimilasi dengan konsonan yang mendahuluinya, dan kluster tersebut berperilaku seperti urutan sibilan-letupan; cth str dan ṣṭr menjadi tth dan ṭṭh
Contoh: śāstra → śasta → sattha, rāṣṭra → raṣṭa → raṭṭha
  • t dan p menjadi c apabila berada sebelum s, dan sibilan berasimilasi dengan bunyi sebelumnya sebagai sebuah aspirat (yakni, rangkaian ts dan ps menjadi cch)
Contoh: vatsavaccha, apsarasaccharā
  • Sibilan berasimilasi dengan k yang mendahuluinya sebagai sebuah aspirat (yakni, rangkaian kṣ menjadi kkh)
Contoh: bhikṣubhikkhu, kṣāntikhanti
  • Setiap konsonan letup atau nasal jenis dental maupun retrofleks yang diikuti oleh y akan berubah menjadi bunyi palatal padanannya, dan y berasimilasi dengan konsonan baru ini, yakni ty, thy, dy, dhy, ny menjadi cc, cch, jj, jjh, ññ; sama halnya dengan ṇy yang menjadi ññ. Nasal yang mendahului konsonan letup yang menjadi palatal juga akan mengalami perubahan ini.
Contoh: tyajati → cyajati → cajati, satya → sacya → sacca, mithyā → michyā → micchā, vidyā → vijyā → vijjā, madhya → majhya → majjha, anya → añya → añña, puṇya → puñya → puñña, vandhya → vañjhya → vañjjha → vañjha
  • Rangkaian mr menjadi mb, melalui epentesis konsonan letup di antara bunyi nasal dan likuida, yang diikuti oleh asimilasi likuida ke arah letupan dan penyederhanaan geminat yang dihasilkan setelahnya.
Contoh: āmra → ambra → amba, tāmratamba

Epentesis

[sunting | sunting sumber]

Vokal epentesis (sisipan, swarabakti tengah) kadang-kadang dimasukkan di antara urutan konsonan tertentu. Seperti pada , vokal yang disisipkan bisa berupa a, i, atau u, bergantung pada pengaruh konsonan tetangganya atau dari vokal pada suku kata berikutnya. i sering ditemukan di dekat i, y, atau konsonan palatal; u sering ditemukan di dekat u, v, atau konsonan labial.

  • Urutan konsonan letup + nasal kadang-kadang disekat oleh a atau u
Contoh: ratnaratana, padmapaduma (u dipengaruhi oleh m labial)
  • Urutan sn dapat menjadi sin di awal kata
Contoh: snānasināna, snehasineha
  • i dapat disisipkan di antara konsonan dan l
Contoh: kleśakilesa, glānagilāna, mlāyatimilāyati, ślāghatisilāghati
  • Vokal epentesis dapat disisipkan di antara sibilan inisial dan r
Contoh: śrīsirī
  • Urutan ry umumnya menjadi riy (i dipengaruhi oleh y sesudahnya), tetapi tetap diperlakukan sebagai urutan dua-konsonan dalam konteks aturan pemendekan vokal
Contoh: ārya → arya → ariya, sūrya → surya → suriya, vīrya → virya → viriya
  • a atau i disisipkan di antara r dan h
Contoh: arhatiarahati, garhāgarahā, barhiṣbarihisa
  • Terdapat epentesis sporadis di antara urutan konsonan lainnya
Contoh: caityacetiya (bukan cecca), vajravajira (bukan vajja)

Perubahan lainnya

[sunting | sunting sumber]
  • Semua sibilan Sanskerta sebelum bunyi nasal menjadi urutan nasal yang diikuti oleh h, yakni ṣṇ, sn, dan sm menjadi ṇh, nh, dan mh
Contoh: tṛṣṇataṇha, uṣṇīṣauṇhīsa, asmiamhi
  • Urutan śn menjadi ñh, akibat asimilasi n dengan sibilan palatal yang mendahuluinya
Contoh: praśna → praśña → pañha
Contoh: jihvājivhā, gṛhyagayha, guhyaguyha
  • h mengalami metatesis dengan bunyi nasal sesudahnya
Contoh: gṛhṇātigaṇhāti
  • y digeminasi di antara vokal e dan vokal lainnya
Contoh: śreyasseyya, MaitreyaMetteyya
  • Konsonan aspirat bersuara seperti bh dan gh dalam kesempatan yang jarang terjadi akan menjadi h
Contoh: bhavatihoti, -ebhiṣ-ehi, laghulahu
  • Bunyi dental dan retrofleks secara sporadis berubah dari satu ke yang lainnya
Contoh: jñānañāṇa (bukan ñāna), dahatiḍahati (di samping Pali dahati) nīḍanīla (bukan nīḷa), sthānaṭhāna (bukan thāna), duḥkṛtadukkaṭa (di samping Pali dukkata), granthigaṇṭhi, pṛthivī → paṭhavī/puṭhuvī (di samping Pali pathavī/puthuvī/puthavī)

Pengecualian

[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa pengecualian yang patut dicatat terhadap aturan-aturan di atas; sebagian besar pengecualian ini merupakan kata-kata Prakerta yang umum, alih-alih serapan dari bahasa Sanskerta.

  • ārya (mulia, murni) → ayya (di samping ariya)
  • guru (guru) → garu (adj.) (di samping guru (n.))
  • puruṣa (pria) → purisa (bukan purusa)
  • vṛkṣa (pohon) → rukṣa → rukkha (bukan vukkha)

Sistem penulisan

[sunting | sunting sumber]

Kaisar Aśoka mendirikan sejumlah pilar yang berisi dekrit-dekritnya dalam sekurang-kurangnya tiga bahasa Prakerta regional menggunakan aksara Brahmi,[132] yang mana seluruhnya sangat mirip dengan bahasa Pali. Secara historis, catatan tertulis pertama dari kanon Pali diyakini telah disusun di Sri Lanka, berdasarkan pada tradisi lisan sebelumnya. Menurut Mahāvaṁsa (kronik Sri Lanka), akibat kelaparan besar yang melanda negara tersebut, para biku menuliskan Tripitaka Pali selama masa pemerintahan Raja Vattagamini pada 100 SM.[butuh rujukan] Koin-koin dwibahasa yang mengandung tulisan Pali menggunakan aksara Kharosthi serta tulisan Yunani dipergunakan oleh James Prinsep untuk memecahkan sandi abugida Kharosthi.[133] Aksara ini kelak menjadi sangat signifikan bagi studi Buddhisme awal pasca penemuan teks Buddhis Gandhara.

Proses pewarisan dari catatan tertulis bahasa Pali telah melestarikan tata sistem yang universal terkait nilai-nilai perabjadan-nya, tapi di saat bersamaan mengekspresikan nilai-nilai patokan dasar tersebut ke dalam berbagai bentuk aksara yang bervariasi. Memasuki tahun 1840-an, raja Thailand Mongkut merancang sistem tata tulis aksara Ariyaka, yang khusus diadaptasi dari alfabet Yunani serta aksara Mon–Burma, sebagai suatu medium perantara nan universal guna mentranskripsikan bahasa Pali, yang diniatkan peruntukannya untuk bisa perlahan-lahan menggantikan bermacam ragam aksara regional lain yang eksis, tidak terkecuali mencakup aksara Khom Thai serta aksara Tai Tham sekalipun.[134][135] Praktik penggunaan sistem aksara baru tersebut sayangnya tidak populer. Wilayah-wilayah pemeluk agama Buddha Theravāda lebih memakai aksara-aksara khusus mereka tersendiri dalam mentranskripsi bahasa Pali:

Alfabet dengan diakritik

[sunting | sunting sumber]

Sejak abad ke-19, bahasa Pali juga telah lazim ditulis menggunakan aksara Latin (Romawi). Skema alternatif yang dirancang oleh Frans Velthuis, yang dinamakan skema Velthuis (lihat § Teks dalam ASCII) memungkinkan pengetikan tanpa menggunakan diakritik melainkan murni melalui metode ASCII standar. Walau begitu, secara komparatif sistem eja dari skemanya relatif kurang bisa dibaca dengan luwes apabila dibandingkan dengan sistem IAST standar, yang tetap memakai penanda diakritik.

Urutan alfabet untuk bahasa Pali adalah sebagai berikut:

  • a ā i ī u ū e o ṃ/ṁ k kh g gh ṅ c ch j jh ñ ṭ ṭh ḍ ḍh ṇ t th d dh n p ph b bh m y r l ḷ v s h

Bunyi ḷh, walau secara fonologi dihitung sebagai bunyi tunggal, sejatinya dituliskan berwujud ligatur (huruf ganda) dari alfabet dan h.

Transliterasi di komputer

[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa fon (font) yang dapat digunakan untuk transliterasi Pali. Namun, fon ASCII lama seperti Leedsbit PaliTranslit, Times_Norman, Times_CSX+, Skt Times, Vri RomanPali CN/CB, dsb., tidak disarankan; fon-fon tersebut sudah usang (deprecated) karena tidak saling kompatibel dan secara teknis sudah ketinggalan zaman. Sebagai gantinya, fon berbasis standar Unicode lebih direkomendasikan.

Meskipun demikian, tidak semua fon Unicode memuat karakter yang diperlukan. Untuk dapat menampilkan semua tanda diakritik yang digunakan dalam romanisasi Pali (maupun Sanskerta) dengan benar, sebuah fon Unicode harus mencakup rentang karakter berikut:

  • Basic Latin: U+0000 – U+007F
  • Latin-1 Supplement: U+0080 – U+00FF
  • Latin Extended-A: U+0100 – U+017F
  • Latin Extended-B: U+0180 – U+024F
  • Latin Extended Additional: U+1E00 – U+1EFF

Beberapa fon Unicode yang tersedia gratis untuk pengetikan tulisan romanisasi Pali adalah sebagai berikut:

  • The Pali Text Society Diarsipkan 13 Februari 2021 di Wayback Machine. merekomendasikan VU-Times dan Gandhari Unicode untuk komputer Windows dan Linux.
  • The Tibetan & Himalayan Digital Library Diarsipkan 10 November 2020 di Wayback Machine. merekomendasikan Times Ext Roman, dan menyediakan tautan ke beberapa fon diakritik Unicode untuk Windows Diarsipkan 10 November 2020 di Wayback Machine. dan Mac Diarsipkan 10 November 2020 di Wayback Machine. yang dapat digunakan untuk mengetik teks Pali, lengkap dengan penilaian dan panduan instalasi. Situs ini juga menyediakan makro Diarsipkan 10 November 2020 di Wayback Machine. untuk mengetik tanda diakritik di OpenOffice dan MS Office.
  • SIL: International menyediakan fon Charis SIL dan Charis SIL Compact Diarsipkan 24 Februari 2010 di Wayback Machine., Doulos SIL, Gentium, Gentium Basic, serta Gentium Book Basic Diarsipkan 26 Februari 2012 di Wayback Machine.. Di antaranya, Charis SIL, Gentium Basic, dan Gentium Book Basic memiliki keempat gaya huruf (reguler, miring, tebal, tebal-miring), sehingga dapat memberikan kualitas pengetikan setaraf publikasi cetak.
  • Proyek Libertine Openfont menyediakan fon Linux Libertine (empat gaya serif dan berbagai fitur Opentype) serta Linux Biolinum (empat gaya sans-serif) di SourceForge.
  • Junicode (singkatan dari Junius-Unicode) adalah fon Unicode untuk para ahli abad pertengahan, tetapi fon ini juga menyediakan seluruh diakritik untuk pengetikan Pali. Fon ini memiliki empat gaya huruf dan beberapa fitur Opentype seperti ragam angka model lama (Old Style).
  • Thryomanes Diarsipkan 25 Juli 2010 di Wayback Machine. memuat seluruh karakter abjad Latin yang tersedia dalam Unicode beserta sejumlah karakter abjad Yunani dan Sirilik yang paling umum digunakan, serta tersedia dalam gaya reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
  • GUST Diarsipkan 10 Juni 2011 di Wayback Machine. (Grup Pengguna TeX Polandia) menyediakan fon Latin Modern Diarsipkan 3 Juni 2011 di Wayback Machine. dan TeX Gyre Diarsipkan 22 Juni 2011 di Wayback Machine.. Masing-masing fon memiliki empat gaya huruf, dengan Latin Modern mendulang penerimaan terluas di kalangan pengguna LaTeX, sedangkan TeX Gyre merupakan rumpun fon yang tergolong relatif baru. Dari rumpun TeX Gyre, masing-masing rupa huruf (typeface) dari keluarga fon berikut ini memiliki hampir 1250 glif dan tersedia dalam format PostScript, TeX, maupun OpenType:
    • Keluarga fon nirserif (sans serif) TeX Gyre Adventor didasarkan pada rumpun URW Gothic L. Fon orisinalnya, ITC Avant Garde Gothic, didesain oleh Herb Lubalin dan Tom Carnase pada tahun 1970.
    • Keluarga fon serif TeX Gyre Bonum didasarkan pada rumpun URW Bookman L. Fon orisinalnya, Bookman atau Bookman Old Style, didesain oleh Alexander Phemister pada tahun 1860.
    • TeX Gyre Chorus adalah fon yang didasarkan pada fon URW Chancery L Medium Italic. Karya aslinya, ITC Zapf Chancery, didesain pada tahun 1979 oleh Hermann Zapf.
    • Keluarga fon serif spasi seragam (monospace) TeX Gyre Cursor didasarkan pada rumpun URW Nimbus Mono L. Fon orisinalnya, Courier, didesain oleh Howard G. (Bud) Kettler pada tahun 1955.
    • Keluarga fon nirserif TeX Gyre Heros didasarkan pada rumpun URW Nimbus Sans L. Fon orisinalnya, Helvetica, didesain pada tahun 1957 oleh Max Miedinger.
    • Keluarga fon serif TeX Gyre Pagella didasarkan pada rumpun URW Palladio L. Fon orisinalnya, Palatino, didesain oleh Hermann Zapf pada tahun 1940-an.
    • Keluarga fon serif TeX Gyre Schola didasarkan pada rumpun URW Century Schoolbook L. Fon orisinalnya, Century Schoolbook, didesain oleh Morris Fuller Benton pada tahun 1919.
    • Keluarga fon serif TeX Gyre Termes didasarkan pada rumpun Nimbus Roman No9 L. Fon orisinalnya, Times Roman, didesain oleh Stanley Morison bersama Starling Burgess dan Victor Lardent.
  • John Smith menyediakan fon Opentype IndUni, yang didasarkan pada fon-fon URW++. Di antaranya:
    • IndUni-C meniru gaya Courier;
    • IndUni-H meniru gaya Helvetica;
    • IndUni-N meniru gaya New Century Schoolbook;
    • IndUni-P meniru gaya Palatino;
    • IndUni-T meniru gaya Times;
    • IndUni-CMono meniru gaya Courier tetapi dalam format monospace;
  • Seorang biku asal Inggris bernama Bhikkhu Pesala secara mandiri merancang beberapa fon Pali OpenType. Di antaranya:
    • Acariya merupakan rupa huruf bergaya Garamond yang diturunkan dari Guru (reguler, miring, tebal, tebal miring).
    • Balava adalah kebangkitan ulang gaya Baskerville yang diturunkan dari Libre Baskerville (reguler, miring, tebal, tebal miring).
    • Cankama adalah skrip bergaya Gothic / Black Letter. Hanya tersedia dalam gaya reguler.
    • (Carita telah dihentikan distribusinya.)
    • Garava didesain untuk teks isi dengan ketinggian-x (x-height) yang leluasa dan hemat ruang (copyfit). Fon ini memuat fitur huruf kapital kecil / Petite Caps (sebagai Fitur OpenType), dan gaya tebal ekstra Heavy selain empat gaya lazimnya (reguler, miring, tebal, tebal miring).
    • Guru adalah rupa huruf bergaya Garamond padat (condensed) yang didesain agar hemat tempat ketikan. Seratus halaman A4 teks berbahasa Pali hanya akan menghabiskan sekitar 98 halaman jika diatur dengan fon Acariya, 95 halaman jika menggunakan Garava atau Times New Roman, tetapi hanya memakan 90 halaman jika menggunakan Guru. (tersedia gaya reguler, miring, tebal, tebal miring).
    • Hari adalah skrip tulisan tangan yang diturunkan dari Allura karya Robert E. Leuschke. (Hanya gaya reguler).
    • (Hattha telah dihentikan distribusinya.)
    • Jivita adalah rupa huruf orisinal bergaya Sans Serif untuk teks isi. (reguler, miring, tebal, tebal miring).
    • Kabala adalah rupa huruf Sans Serif distingtif yang didesain untuk pajangan teks atau tajuk. Bergaya reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
    • Lekhana adalah tiruan dari Zapf Chancery, sebuah skrip mengalir yang dapat digunakan untuk surat-menyurat atau teks isi. Reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
    • Mahakampa adalah skrip tulisan tangan yang diturunkan dari Great Vibes karya Robert E. Leuschke. Hanya gaya reguler.
    • Mandala didesain untuk pajangan teks ukuran besar atau tajuk. Reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
    • Nacca adalah skrip tulisan tangan yang diturunkan dari Dancing Script karya Pablo Impallari dan dirilis di Font Squirrel. Hanya gaya reguler.
    • Odana adalah fon kaligrafi kuas yang cocok untuk judul tajuk, papan nama, atau teks pendek yang menghendaki tampilan kasual tak formal. Hanya gaya reguler.
    • Open Sans adalah fon Sans Serif yang cocok untuk teks isi. Hadir dengan sepuluh variasi gaya.
    • Pali adalah tiruan dari fon Palatino karya Hermann Zapf. Reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
    • Sukhumala diturunkan dari Sort Mills Goudy. Memiliki lima gaya huruf.
    • Talapanna adalah tiruan Goudy Bertham, yang diimbuhi ornamen kapital gothic dekoratif dan ekstra ligatur di dalam area karakter privatnya (Private Use Area). Memiliki gaya reguler dan tebal.
    • (Talapatta telah dihentikan distribusinya.)
    • Veluvana adalah fon kaligrafi kuas lainnya, tetapi dengan glif dasar Yunani yang diambil dari fon Guru. Hanya gaya reguler.
    • Verajja diturunkan dari Bitstream Vera. Reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
    • VerajjaPDA adalah versi ringkas dari Verajja tanpa sisipan ragam simbol; diperuntukkan bagi penggunaan di perangkat portabel seperti PDA. Reguler, miring, tebal, dan tebal miring.
    • Ia juga menyediakan sejumlah tata letak kibor bahasa Pali untuk Windows XP.
  • Bagian fon pada situs Unicode Resources milik Alanwood memuat pautan ke beberapa fon multiguna yang dapat digunakan untuk pengetikan Pali asalkan mencakup rentang karakter di atas.

Beberapa fon bawaan yang dikemas dalam Windows 7 juga dapat digunakan untuk mengetik Pali hasil transliterasi: Arial, Calibri, Cambria, Courier New, Microsoft Sans Serif, Segoe UI, Segoe UI Light, Segoe UI Semibold, Tahoma, dan Times New Roman. Sejumlah di antaranya memuat keempat variasi gaya yang membuatnya mumpuni untuk penataan letak kelas profesional: Arial, Calibri, dan Segoe UI adalah fon sans-serif, Cambria dan Times New Roman adalah fon serif, sementara Courier New adalah fon monospace.

Teks dalam ASCII

[sunting | sunting sumber]

Skema Velthuis awalnya dikembangkan pada tahun 1991 oleh Frans Velthuis untuk digunakan bersama dengan fon "Devanāgarī" ("devnag") karyanya, yang dirancang khusus untuk sistem pengetikan (typesetting) TeX. Sistem penyajian tanda diakritik Pali ini telah digunakan di beberapa situs web dan milis diskusi. Namun, seiring dengan web dan perangkat lunak surel yang perlahan berevolusi mengadopsi standar pengodean Unicode, sistem ini lambat laun menjadi hampir tidak diperlukan dan usang.

Tabel berikut membandingkan berbagai pe-renderan konvensional dan peruntukan pintasan tuts papan tik:

Karakter Render ASCII Nama Karakter Nomor Unicode Kombinasi Tuts Kode ALT Kode HTML
āaaa dengan makronU+0101Alt+A&#257;
īiii dengan makronU+012BAlt+I&#299;
ūuuu dengan makronU+016BAlt+U&#363;
.mm dengan titik di bawahU+1E43Alt+Ctrl+M&#7747;
.nn dengan titik di bawahU+1E47Alt+N&#7751;
ñ~nn dengan tildeU+00F1Alt+Ctrl+NAlt+0241(Numpad)&ntilde;
.tt dengan titik di bawahU+1E6DAlt+T&#7789;
.dd dengan titik di bawahU+1E0DAlt+D&#7693;
"nn dengan titik di atasU+1E45Ctrl+N&#7749;
.ll dengan titik di bawahU+1E37Alt+L&#7735;

Pengaruh terhadap bahasa-bahasa lain

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Pali telah memberikan pengaruh terhadap berbagai bahasa di wilayah daratan Asia Tenggara dan Asia Selatan dalam tingkat yang bervariasi, di antaranya bahasa Burma, Khmer, Lao, Sinhala, dan Thai.

Di Kamboja, bahasa Pali menggantikan bahasa Sanskerta sebagai bahasa prestise pada abad ke-13, bertepatan dengan penyebaran agama Buddha Theravāda di sana.[136] Sepanjang tahun 1900-an, Chuon Nath menggunakan akar kata Pali untuk menciptakan neologisme bahasa Khmer guna mendeskripsikan fenomena modern, seperti 'kereta api'.[137] Serupa dengan hal itu, di Thailand dan Laos pada abad ke-20, para cendekiawan regional, termasuk Jit Bhumisak dan Raja Vajiravudh dari Thailand menciptakan kata-kata baru menggunakan akar kata Pali untuk mendeskripsikan konsep asing dan inovasi teknologi.[138]

Di Myanmar, semenjak fase bahasa Burma Kuno, bahasa Burma telah mengadopsi ribuan kata serapan dari bahasa Pali, khususnya pada ranah agama, pemerintahan, seni, dan sains, sedangkan penyerapan kata dari bahasa Sanskerta hanya dibatasi pada subjek spesifik seperti astrologi, astronomi, dan kedokteran.[139][140][141] Angka urut pertama hingga kesepuluh dalam bahasa Burma juga dipinjam secara langsung dari bahasa Pali.[142] Bahasa Burma memiliki sejarah panjang dalam menggunakan dan mendaur ulang akar kata Pali untuk menciptakan neologisme Burma hingga abad ke-20, termasuk kata untuk 'feodalisme' (dari Pali padesa + rāja), 'organisasi' (dari Pali samagga), dan 'pemimpin' (dari Pali ukkaṭṭha).[139] Bahasa Pali juga memengaruhi struktur tata bahasa Burma, khususnya pada laras bahasa sastra Burma.[143] Menginjak abad ke-13, kata ganti orang ketiga dalam bahasa Pali (so) telah tergramatikalisasi menjadi partikel tata bahasa Burma so (သော), yang masih digunakan untuk memodifikasi kata benda, dengan mengikuti sintaksis Pali.[144] Hingga abad ke-19, penulisan prosa bahasa Burma sangat dipengaruhi oleh teks-teks Pali, khususnya teks nissaya yang pertama kali muncul pada abad ke-15.[143][144]

Di Sri Lanka, bahasa Pali telah memperkaya bahasa Sinhala semenjak zaman Anuradhapura, khususnya pada ranah kesusastraan, sebagaimana yang diteladankan oleh kronik Dīpavaṃsa dan Mahāvaṃsa, yang mana keduanya ditulis dalam syair Pali.[145] Setelah periode Anuradhapura, bahasa Sanskerta menjadi lebih berpengaruh dalam perkembangan bahasa Sinhala.[145]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai Middle Indo-Aryan languages, bedakan dari Central Indo-Aryan languages.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Nagrajji (2003) "Pali language and the Buddhist Canonical Literature". Agama and Tripitaka, vol. 2: Language and Literature.
  2. Ethnologue (dalam bahasa Inggris) (Edisi 25, 19), Dallas: SIL International, ISSN 1946-9675, OCLC 43349556, OL 20243680W, Wikidata Q14790
  3. Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Pali". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
  4. "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
  6. "Bahasa Pali". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  7. Stargardt, Janice (2000). Tracing Thoughts Through Things: The Oldest Pali Texts and the Early Buddhist Archaeology of India and Burma. Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences. hlm. 25. ISBN 978-90-6984-304-9.
  8. "Marathi, Bengali, Pali, Prakrit And Assamese Get Classical Language Status". NDTV. Diakses tanggal 5 Februari 2025.
  9. "Marathi, Pali, Prakrit, Assamese and Bengali approved classical language status by Modi govt". Mint. 3 Oktober 2024. Diakses tanggal 5 Februari 2025.
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Norman, Kenneth Roy (1983). Pali Literature (dalam bahasa Inggris). Wiesbaden: Otto Harrassowitz. hlm. 2–3. ISBN 3-447-02285-X.
  11. 1 2 3 Wijithadhamma, Ven. M. (2015). "Pali Grammar and Kingship in Medieval Sri Lanka". Journal of the Royal Asiatic Society of Sri Lanka. 60 (2): 49–58. JSTOR 44737021.
  12. Hazra, Kanai Lal (1994). Pāli - language and literature: a systematic survey and historical study. New Delhi: D.K. Printworld. hlm. 19. ISBN 978-81-246-0004-7.
  13. Childers, Robert Cæsar (1875). A Dictionary of the Pali Language. London: Trübner. OCLC 7007711.
  14. 1 2 Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words: an anthology of discourses from the Pāli canon. Boston: Wisdom Publications. hlm. 10. ISBN 978-0-86171-491-9.
  15. Eiland, Murray (Winter 2020–2021). "What the Buddha Thought". Antiqvvs. 3 (1). Interview with Richard Gombrich: 41.
  16. 1 2 3 4 5 6 7 8 Collins, Steven (2003). "What Is Literature in Pali?". Literary Cultures in History: Reconstructions from South Asia. University of California Press. hlm. 649–688. ISBN 978-0-520-22821-4. JSTOR 10.1525/j.ctt1ppqxk.19.
  17. 1 2 3 Hirakawa, Akira; Groner, Paul (1990). A History of Indian Buddhism: From Śākyamuni to Early Mahāyāna. University of Hawaii Press. hlm. 119. ISBN 978-0-8248-1203-4.
  18. Rupert Gethin (2008). Sayings of the Buddha: New Translations from the Pali Nikayas. Oxford University Press. hlm. xxiv. ISBN 978-0-19-283925-1.
  19. Oberlies, Thomas (2001). Pāli: A Grammar of the Language of the Theravāda Tipiṭaka. Indian Philology and South Asian Studies, v. 3. Berlin: Walter de Gruyter. hlm. 6. ISBN 3-11-016763-8. "Pāli as a MIA language is different from Sanskrit not so much with regard to the time of its origin than as to its dialectal base, since a number of its morphonological and lexical features betray the fact that it is not a direct continuation of Ṛgvedic Sanskrit; rather it descends from a dialect (or a number of dialects) which was (/were), despite many similarities, different from Ṛgvedic."
  20. Collins, Steven (2009-08-26). "Remarks on the Visuddhimagga, and on its treatment of the Memory of Former Dwelling(s) (pubbenivāsānussatiñāṇa)". Journal of Indian Philosophy. 37 (5): 499–532. doi:10.1007/s10781-009-9073-0. ISSN 0022-1791.
  21. 1 2 3 Gornall, Alastair; Henry, Justin (2017). "Beautifully moral: cosmopolitan issues in medieval Pāli literary theory". Sri Lanka at the Crossroads of History. UCL Press. hlm. 77–93. ISBN 978-1-911307-84-6. JSTOR j.ctt1qnw8bs.9.
  22. Peter Masefield, Indo-Chinese Pali, https://www.academia.edu/34836100/PETER_MASEFIELD_INDO-CHINESE_PALI
  23. 1 2 Anālayo (2012). "The Historical Value of the Pāli Discourses". Indo-Iranian Journal. 55 (3): 223–253. doi:10.1163/001972412X620187. JSTOR 24665100.
  24. 1 2 3 4 5 Skilling, Peter (2014). "Reflections on the Pali Literature of Siam". From Birch Bark to Digital Data: Recent Advances in Buddhist Manuscript Research: Papers Presented at the Conference Indic Buddhist Manuscripts: The State of the Field. Stanford, 15-19 Juni 2009. Austrian Academy of Sciences Press. hlm. 347–366. doi:10.2307/j.ctt1vw0q4q.25. ISBN 978-3-7001-7581-0. JSTOR j.ctt1vw0q4q.25.
  25. Nepalese-German Manuscript Cataloguing Project. "A 1151–2 (Pālībhāṣāvinaya)". Diarsipkan dari asli tanggal 12 April 2022. Diakses tanggal 29 Mei 2021.
  26. Ñāṇatusita, Bhikkhu (2014). "Pali Manuscripts of Sri Lanka". From Birch Bark to Digital Data: Recent Advances in Buddhist Manuscript Research: Papers Presented at the Conference Indic Buddhist Manuscripts: The State of the Field. Stanford, 15-19 Juni 2009. Austrian Academy of Sciences Press. hlm. 367–404. doi:10.2307/j.ctt1vw0q4q.26. ISBN 978-3-7001-7581-0. JSTOR j.ctt1vw0q4q.26. The four oldest known Sinhalese Pali manuscripts date from the Dambadeniya kingdom period.......The oldest manuscript, the Cullavagga in the possession of the library of the Colombo National Museum, dates from the reign of King Parakramabahu II (1236–1237)......Another old manuscript dating from this period is a manuscript of the Paramatthamañjusā, the Visuddhimagga commentary......Another old manuscript, of the Sāratthadīpanī, a sub-commentary on the Samantapāsādikā Vinaya commentary......According to Wickramaratne (1967: 21) another 13th-century manuscript, containing the Mahavagga of the Vinaya Pitaka......Another source ascribes it to the 15th century, along with a Visuddhimagga manuscript......Another 15th-century manuscript of the Sāratthadīpanī is at the Bibliothèque Nationale in Paris.
  27. 1 2 3 Gethin, Rupert; Straube, Martin (2018). "The Pali Text Society's A Dictionary of Pāli". Bulletin of Chuo Academic Research Institute (Chuo Gakujutsu Kenkyūjo Kiyō). 47: 169–185.
  28. Rhys Davids, T. W. (1903). "Language and Literature". Buddhist India. G.P. Putnam's Sons. Diakses tanggal 14 Juni 2010.
  29. Hazra, Kanai Lal. Pāli Language and Literature; a systematic survey and historical study. D.K. Printworld Lrd., New Delhi, 1994, hlm. 11.
  30. Hazra, Kanai Lal. Pāli Language and Literature; a systematic survey and historical study. D.K. Printworld Lrd., New Delhi, 1994, pages 1–44.
  31. Hazra, Kanai Lal. Pāli Language and Literature; a systematic survey and historical study. D.K. Printworld Lrd., New Delhi, 1994, hlm. 29.
  32. Hazra, Kanai Lal. Pāli Language and Literature; a systematic survey and historical study. D.K. Printworld Lrd., New Delhi, 1994, hlm. 20.
  33. K. R. Norman, Pāli Literature. Otto Harrassowitz, 1983, pages 1–7.
  34. 1 2 Warder, A. K. Indian Buddhism. 2000. hlm. 284
  35. David Kalupahana, Nagarjuna: The Philosophy of the Middle Way. SUNY Press, 1986, hlm. 19. Penulis merujuk secara spesifik pada pemikiran Buddhisme awal di sini.
  36. Dispeller of Delusion, Pali Text Society, volume II, pages 127f
  37. Book, Chroniker Press (2012-10-29). Epitome of the Pali Canon (dalam bahasa Inggris). Lulu.com. ISBN 978-1-300-32715-8.[rujukan melingkar]
  38. Levman, Bryan G. (2020-03-01). "Sanskritization in Pāli". Journal of South Asian Languages and Linguistics (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 105–149. doi:10.1515/jsall-2021-2030. ISSN 2196-078X.
  39. Oberlies (2001: 137)
  40. Collins (2006: 56)
  41. Perniola (1997: 307-308)
  42. Oberlies (2001: 160)
  43. Collins (2006: 58)
  44. Collins (2006: 59)
  45. Perniola (1997: 42)
  46. Collins (2006: 57)
  47. Perniola (1997: 42-43), Collins (2006: 56)
  48. Perniola (1997: 48-51)
  49. Perniola (1997: 52-53), Collins (2003: 64)
  50. Perniola (1997: 52-53), Collins (2003: 65)
  51. Perniola (1997: 53)
  52. Perniola (1997: 53-54), Collins (2003: 66-67)
  53. 1 2 Perniola (1997: 55-56), Collins (2003: 67)
  54. Collins (2005: 79)
  55. Perniola (1997: 339)
  56. Oberlies (2001: 199-200)
  57. Collins (2005: 78)
  58. Perniola (1997: 339)
  59. Perniola 1997: 71, 84
  60. Perniola (1997: 71, 84)
  61. Oberlies (2001: 217-218, 220-222, 226, 238-241)
  62. Oberlies (2001: 200)
  63. Perniola (1997: 83-84), Collins (2003: 81)
  64. Perniola (1997: 87)
  65. Oberlies (2001: 245)
  66. Perniola (1997: 88)
  67. Collins (2003: 90)
  68. Perniola (1997: 89)
  69. Perniola (1997: 91), Collins (2003: 92), Oberlies (2001: 250)
  70. Oberlies (2001: 250)
  71. Perniola (1997: 356, 398-399)
  72. Oberlies (2001: 223-224)
  73. Perniola (1997: 85-86)
  74. Perniola (1997: 354-356, 396-399)
  75. Collins (2003: 84-84), (Perniola 1997: 86)
  76. Perniola (1997: 84-85), Collins (2003: 83), Oberlies (2001: 220)
  77. Oberlies (2001: 237, 235)
  78. Oberlies (2001: 237, 234)
  79. Perniola (1997: 92-93)
  80. Perniola (1997: 92-93)
  81. Oberlies (2001: 242)
  82. Perniola (1997: 92-93)
  83. Perniola (1997: 96)
  84. Oberlies (2001: 238), Collins (2003: 87-88)
  85. Perniola (1997: 94)
  86. Perniola (1997: 98)
  87. Oberlies (2001: 253-255)
  88. Perniola (1997: 98-101)
  89. Perniola (1997: 341)
  90. Perniola (1997: 106)
  91. Oberlies (2001: 250-251)
  92. Oberlies (2001: 253)
  93. Oberlies (2001: 263)
  94. Perniola (1997: 126-127)
  95. Perniola (1997: 108-190)
  96. Perniola (1997: 119-122)
  97. Oberlies (2001: 258-259)
  98. Oberlies (2001: 260)
  99. Perniola (1997: 110-111)
  100. Perniola (1997: 360-361)
  101. Perniola (1997: 118-119)
  102. Oberlies (2001: 263)
  103. Perniola (1997: 122-123)
  104. Oberlies (2001: 265-269)
  105. Lie, Kåre. 2009. En liten innføring i Buddhas språk. Budapest: Schweitzerforlaget. hlm. 144
  106. Perniola (1997: 132-133)
  107. Perniola (1997: 390-391)
  108. Perniola (1997: 396)
  109. Perniola (1997: 395)
  110. Lie, Kåre. 2009. En liten innføring i Buddhas språk. Budapest: Schweitzerforlaget. hlm. 168
  111. Perniola (1997: 335-336, 332, 315)
  112. Perniola (1997: 383)
  113. Perniola (1997: 385-386)
  114. 1 2 3 Perniola (2003: 285)
  115. Collins (2003: 116)
  116. 1 2 Masica, Colin hlm. 1991. The Indo-Aryan Languages. Cambridge University Press. hlm. 185
  117. Collins (2003: 116)
  118. Perniola (1997: 157)
  119. Perniola (1997: 175-179)
  120. Perniola (1997: 381)
  121. Perniola (1997: 142-143)
  122. Perniola (1997: 153)
  123. Perniola (1997: 151)
  124. Perniola (1997: 140-143)
  125. Perniola (1997: 147)
  126. Perniola (1997: 155)
  127. Perniola (1997: 378)
  128. Perniola (1997: 137)
  129. Perniola (1997: 152)
  130. Collins (2003: 124)
  131. Jain, Danesh; Cardona, George (2007-07-26). The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 172.
  132. Inscriptions of Aśoka by Alexander Cunningham, Eugen Hultzsch. Calcutta: Office of the Superintendent of Government Printing. Calcutta: 1877
  133. Dias, Miriyagalla; Das (2007). "Brahmi Script in Relation to Mesopotamian Cuneiform". Journal of the Royal Asiatic Society of Sri Lanka. 53: 91–108. JSTOR 23731201.
  134. Crosby, Kate; Kyaw, Pyi Phyo (2022-10-19). "Practices of Protection in the Pali World". Oxford Research Encyclopedia of Religion (dalam bahasa Inggris). doi:10.1093/acrefore/9780199340378.013.764. ISBN 978-0-19-934037-8. Diakses tanggal 2023-03-01.
  135. Ray, Himanshu Prabha (2019-01-25), "Archaeology of Buddhism in Asia", Oxford Research Encyclopedia of Asian History (dalam bahasa Inggris), Oxford University Press, doi:10.1093/acrefore/9780190277727.013.214, ISBN 978-0-19-027772-7, diakses tanggal 2023-03-01
  136. Djité, Paulin G. (2011). The Language Difference: Language and Development in the Greater Mekong Sub-region (dalam bahasa Inggris). Multilingual Matters. hlm. 22. ISBN 978-1-84769-340-2.
  137. Becker, Stuart Alan (2011-04-08). "Chuon Nath: Guardian of cambodian culture". The Phnom Penh Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-02-19.
  138. McDaniel, Justin Thomas (2010-12-01). Gathering Leaves and Lifting Words: Histories of Buddhist Monastic Education in Laos and Thailand (dalam bahasa Inggris). University of Washington Press. hlm. 187–188. ISBN 978-0-295-98922-8.
  139. 1 2 Pe, Hla (2018-06-25), "Part D. On Language", Burma (dalam bahasa Inggris), ISEAS Publishing, hlm. 103–138, doi:10.1355/9789814377904-007, ISBN 978-981-4377-90-4, diakses tanggal 2024-02-19
  140. Jenny, Mathias (2013). "The Mon language:recipient and donor between Burmese and Thai". Journal of Language and Culture. 31 (2): 5–33. doi:10.5167/UZH-81044.
  141. Wheatley, Julian; Hnin Tun, San San (1999). "Languages in Contact: The Case of English and Burmese". Journal of Burma Studies (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 61–99. doi:10.1353/jbs.1999.0001. ISSN 2010-314X.
  142. Okell, John (2002). Burmese By Ear (PDF). The School of Oriental and African Studies, University of London. ISBN 186013758X. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-04-20. Diakses tanggal 2015-01-21.
  143. 1 2 Comrie, Bernard (2018). The World's Major Languages (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-29049-0.
  144. 1 2 Yanson, Rudolf A. (2002-01-01), "On Pali-Burmese Interference", Medieval Tibeto-Burman Languages (dalam bahasa Inggris), Brill, hlm. 39–57, doi:10.1163/9789047401308_008, ISBN 978-90-474-0130-8, diakses tanggal 2024-02-19
  145. 1 2 Silva, K. M. De; Silva, Kingsley M. De (2005). A History of Sri Lanka (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. hlm. 77–79. ISBN 978-955-8095-92-8.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]
  • Collins, Steven (2006). A Pali Grammar for Students. Silkworm Press.
  • Müller, Edward (1995) [First published 1884]. Simplified Grammar of the Pali Language. Asian Educational Services. ISBN 81-206-1103-9.
  • Oberlies, Thomas (2001). Pāli: A Grammar of the Language of the Theravāda Tipiṭaka. Indian Philology and South Asian Studies, v. 3. Berlin: Walter de Gruyter. ISBN 3-11-016763-8.
  • Perniola, Vito (1997). A Grammar of the Pali Language. Pali Text Society. ISBN 0860133540.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • American National Standards Institute. (1979). American National Standard system for the romanization of Lao, Khmer, and Pali. New York: The institute.
  • Andersen, Dines (1907). A Pali Reader. Copenhagen: Gyldendalske Boghandel, Nordisk Forlag. hlm. 310. Diakses tanggal 29 September 2016.
  • Mahathera Buddhadatta (1998). Concise Pāli-English Dictionary. Quickly find the meaning of a word, without the detailed grammatical and contextual analysis. ISBN 8120806050
  • Collins, Steven (2006). A Pali Grammar for Students. Silkworm Press.
  • Gupta, K. M. (2006). Linguistic approach to meaning in Pali. New Delhi: Sundeep Prakashan. ISBN 81-7574-170-8
  • Hazra, K. L. (1994). Pāli language and literature: a systematic survey and historical study. Emerging perceptions in Buddhist studies, no. 4–5. New Delhi: D.K. Printworld. ISBN 81-246-0004-X
  • Martineau, Lynn (1998). Pāli Workbook Pāli Vocabulary from the 10-day Vipassana Course of S. N. Goenka. ISBN 1928706045.
  • Müller, Edward (2003) [1884]. The Pali language: a simplified grammar. Trübner's collection of simplified grammars. London: Trubner. ISBN 1-84453-001-9
  • Bhikkhu Nanamoli. A Pāli-English Glossary of Buddhist technical terms. ISBN 9552400864
  • Perniola, V. (1997). Pali Grammar, Oxford, The Pali Text Society.
  • Soothill, W. E., & Hodous, L. (1937). A dictionary of Chinese Buddhist terms: with Sanskrit and English equivalents and a Sanskrit-Pali index. London: K. Paul, Trench, Trubner & Co.
  • Webb, Russell (ed.) An Analysis of the Pali Canon, Buddhist Publication Society, Kandy; 1975, 1991 (see Diarsipkan 3 Juni 2013 di Wayback Machine.)
  • Wallis, Glenn (2011). Buddhavacana, a Pali reader (PDF eBook). ISBN 192870686X.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Inggris

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Indonesia

[sunting | sunting sumber]