close
Lompat ke isi

Gerakan Perang Salib

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gerakan Perang Salib adalah gerakan religius, politis, dan militer besar-besaran pada Abad Pertengahan, yang lazimnya dianggap bermula pada penyelenggaraan Konsili Clermont tahun 1095, ketika Paus Urbanus II mencanangkan pelaksanaan ekspedisi bersenjata untuk menolong umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim. Ekspedisi bersenjata itu dikemas Sri Paus sebagai ziarah penyilih dosa. Pada masa itu, kewibawaan Sri Paus sudah meningkat lewat pembenahan tatanan hidup bergereja, dan ketegangan dengan para penguasa sekuler mendorong tumbuhnya gagasan perang suci, yang memadukan teori perang yang sah dari zaman klasik, preseden-preseden Alkitabiah, dan ajaran Agustinus tentang kekerasan yang dapat dibenarkan. Ziarah bersenjata, yang diselaraskan dengan ajaran agama Katolik yang kristosentris dan militan pada masa itu, menyalakan semangat juang di mana-mana. Ekspansi bangsa Eropa juga kian dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonomi, surutnya kekuatan-kekuatan lama Laut Tengah, dan tidak bersatunya umat Islam. Faktor-faktor tersebut membuka peluang bagi tentara salib untuk melakukan perebutan wilayah dan mendirikan empat negara di kawasan Levans. Perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan negara-negara ini menginspirasi perang-perang salib berikutnya. Kepausan juga melancarkan perang salib yang membidik sasaran-sasaran lain, yaitu orang-orang Muslim di jazirah Iberia, orang-orang pagan di kawasan Baltik, dan pihak-pihak lain yang menentang kewibawaan Sri Paus.

Meskipun mengedepankan keikutsertaan orang-orang dari kalangan elit kesatria, yang digugah semangat juangnya dengan cara mengungkit nilai-nilai keutamaan kesatria yang menjadi pedoman hidup mereka, gerakan ini bergantung kepada dukungan luas dari kaum rohaniwan, masyarakat perkotaan, dan rakyat tani. Sekalipun dicegah, kaum wanita pun ikut terseret arus gerakan ini, baik sebagai peserta, sebagai pengemban tugas dan tanggung jawab kaum pria yang menjadi tentara salib dan berangkat ke Tanah Suci, maupun sebagai korban. Banyak orang menjadi tentara salib lantaran ingin mendapatkan indulgensi (penghapusan siksa dosa), tetapi keuntungan materi juga menjadi salah satu daya pikat. Biasanya perang salib dimaklumkan melalui bula Sri Paus, dan para pesertanya mengikrarkan kaul ikut berjuang dengan cara "memikul salib", yang dilambangkan melalui tindakan menjahitkan tanda salib pada pakaian mereka. Kegagalan menunaikan kaul ini dapat membuat seorang peserta diekskomunikasi. Gelora semangat juang yang berulang kali memuncak dari waktu ke waktu memunculkan "perang salib rakyat" yang dilancarkan tanpa izin paus.

Perang-perang yang dilancarkan atas izin paus memunculkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi yang khas. Kendati mula-mula pendanaannya acak-acakan, kemudian hari perang-perang ini didanai dengan cara yang lebih tertata melalui pengenaan pajak kepada rohaniwan dan penjualan indulgensi. Pasukan inti tentara salib beranggotakan kesatria-kesatria aswasada berpersenjataan berat, didukung pasukan infanteri, laskar-laskar pribumi, dan bantuan angkatan laut dari kota-kota maritim. Tentara salib mengukuhkan kekuasaannya dengan cara membangun puri-puri yang kuat, dan penyatuan nilai-nilai keutamaan kesatria dengan nilai-nilai luhur kerahiban menghasilkan ordo-ordo militer. Gerakan ini membuat dunia Kristen Barat bertambah luas dan menciptakan negara-negara perbatasan yang baru, beberapa di antaranya bertahan hingga permulaan zaman modern. Perang salib menyuburkan pertukaran budaya dan masih membekas dalam seni rupa dan seni sastra Eropa. Sekalipun meredup akibat Reformasi Protestan, "liga-liga suci" anti-Usmani terus memelihara semangat gerakan perang salib hingga abad ke-18.

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya Perang salib didefinisikan sebagai perang agama Kristen yang dikobarkan oleh para pejuang Eropa Barat pada Abad Pertengahan demi merebut Yerusalem.[1][2] Kampanye-kampanye militer yang berkaitan dengannya berbeda-beda dari segi luas jangkauan, rentang waktu, dan tujuan yang memotivasi.[3][4] Gerakan perang salib yang lebih luas menumbuhkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi khas yang membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat di Eropa Katolik maupun di kawasan-kawasan sekitarnya.[5][6]

Teori-teori perang yang sah dari zaman klasik

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Salah satu halaman naskah Kota Allah dari awal abad ke-12

Pada zaman klasik, filsuf-filsuf Yunani dan ahli-ahli hukum Romawi merumuskan teori-teori perang yang sah, yang kelak memengaruhi teologi perang salib. Aristoteles menitikberatkan kebutuhan akan akhir yang sah, dengan menegaskan bahwa "perang semestinya dilakukan demi perdamaian". Hukum Romawi mengharuskan adanya sebab yang sah, dan berpendirian bahwa hanya pemerintah yang sah sajalah yang berhak memaklumkan perang. Bela negara, pemulihan hak, dan penghukuman dianggap sebagai alasan-alasan yang dapat diterima.[7]

Meskipun Alkitab—susastra pokok agama Kristen—menyajikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan mengenai kekerasan,[keterangan 1][9] kristenisasi Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 menuntun kepada pengembangan teori perang yang sah versi Kristen. Uskup Ambrosius adalah teolog pertama yang menyamakan musuh-musuh negara Kristen dengan musuh-musuh Gereja.[10][11]

Pada tahun 395, Kekaisaran Romawi terbagi permanen menjadi belahan timur dan belahan barat.[12] Peristiwa penyerbuan dan penjarahan kota Roma, yang terjadi 15 tahun kemudian, mendorong Agustinus—anak didik Ambrosius—untuk menulis risalah Kota Allah,[13] yang memaparkan pandangannya bahwa larangan membunuh yang termaktub di dalam Alkitab tidak berlaku atas perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah.[14] Agustinus berpendirian bahwa perang yang sah haruslah dimaklumkan oleh pemerintah yang sah, dikobarkan dengan alasan yang sah apabila upaya damai sudah menemui jalan buntu, dan dilaksanakan secara terkendali dengan didasari niat baik.[10][15] Renungan-renungannya nyaris terlupakan sesudah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476.[10][16]

Tiga tatanan peradaban

[sunting | sunting sumber]

Di atas puing-puing Kekaisaran Romawi Barat, tumbuh kerajaan-kerajaan Kristen baru, yang rata-rata dipimpin oleh seorang panglima perang Jermani. Kemahiran dalam bertempur dan kesetiakawanan merupakan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh kaum bangsawan di kerajaan-kerajaan baru itu. Kaum rohaniwan kerap menyanjung-nyanjung perilaku kekerasan mereka demi mendapatkan perlindungan, sekalipun Gereja tetap mengecap pembunuhan sebagai perbuatan dosa, sehingga pelakunya harus menjalankan laku tobat—biasanya puasa[17]—untuk mendapatkan pengampunan dosa.[18]

Sementara itu, belahan timur Kekaisaran Romawi masih terus bertahan, kendati banyak bagian dari wilayah kedaulatannya, termasuk Yerusalem, sudah jatuh ke tangan Khilafah Islamiyah yang sedang gencar melebarkan sayap pada pertengahan abad ke-7.[19][20] Alquran, susastra tersuci agama Islam, menyerukan jihad, yakni perjuangan untuk menyiarkan dan membela agama.[keterangan 2][22][23] Pada awal abad ke-8, tentara Muslim memasuki Eropa dan menaklukkan sebagian besar jazirah Iberia. Umat Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Muslim harus membayar pajak khusus yang disebut jizyah.[24] Begitu perang-perang penaklukan mereda, muncullah tiga tatanan peradaban, yaitu Eropa Barat yang terfragmentasi, Romawi Timur yang sedang melemah, dan dunia Islam yang kian menanjak.[25]

Perang suci dan ketakwaan

[sunting | sunting sumber]

Perlawanan terhadap ekspansi Muslim lambat laun memunculkan sebuah negara kecil di barat laut jazirah Iberia, yaitu Kerajaan Asturias. Seiring bergulirnya waktu, perlawanan ini tumbuh menjadi sebuah gerakan ekspansi, yang dianggap oleh masyarakat setempat sebagai gerakan yang diizinkan Allah. Invasi berulang kelompok-kelompok non-Kristen ke Eropa Barat pada abad ke-9 menghidupkan kembali gagasan perang suci,[15] yaitu perang yang dilancarkan atas izin seorang pemimpin spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat religius, dan berpahalakan keselamatan.[26] Paus Leo IV adalah paus pertama yang menjanjikan pahala keselamatan bagi orang-orang yang berjuang membela wilayah kedaulatan paus pada tahun 846.[27][28]

Ketika perang mulai terjadi terus-menerus, muncul golongan militer baru yang beranggotakan petarung-petarung berkuda, dan dikenal dengan sebutan milites di dalam karya-karya tulis sezaman. Mereka adalah orang-orang yang terampil menggunakan berbagai jenis senjata, misalnya ganjur yang berat.[29][30] Supaya perilaku kekerasan mereka tidak kebablasan, para petinggi Gereja mencetuskan gerakan Damai Allah.[31][32] Ironisnya, usaha-usaha untuk membatasi pertumpahan darah justru membuat Gereja menjadi termiliterisasi, karena para uskup berlomba-lomba membentuk angkatan perang dalam rangka menegakkan Damai Allah.[33]

BERJAYA
Gambar denah Gereja Makam Kudus di dalam sebuah naskah dari awal abad ke-9 yang berisi risalah De locis sanctis (Ihwal Tempat Suci) karangan Adomnánus, seorang rahib Irlandia

Saat pemerintah pusat melemah, orang-orang kuat di daerah-daerah merebut kendali atas paroki-paroki maupun biara-biara, dan acap kali mengangkat rohaniwan yang kurang layak. Umat beriman merasa khawatir kalau-kalau pengangkatan yang melangkahi kewenangan Gereja itu akan membuat sakramen-sakramen yang dilayankan oleh si rohaniwan menjadi tidak sah.[34][35] Kekhawatiran ini membuat mereka bertambah cemas memikirkan azab akhirat.[17][36] Orang yang berbuat dosa diharapkan mengakui dosanya dan menjalankan laku tobat untuk dirukunkan kembali dengan Gereja. Lantaran laku tobat bisa sangat memberatkan, para imam mulai menawarkan indulgensi, yaitu pengalihan laku tobat ke dalam bentuk tindakan seperti bersedekah atau berziarah.[37][38] Ziarah laku tobat ke Palestina, yang dikenal sebagai Tanah Suci, dinilai istimewa lantaran keterkaitan erat kawasan itu dengan karya pelayanan Yesus,[39][40] juga lantaran di kawasan itulah orang dapat berziarah ke Gereja Makam Kudus, yang diyakini sebagai lokasi peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus.[41][42]

Pembenahan tatanan hidup bergereja

[sunting | sunting sumber]

Di zaman yang penuh dengan kekerasan itu, kepedulian terhadap urusan azab akhirat semakin meningkat, sehingga menyuburkan gerakan-gerakan berbenah di dalam lingkungan Gereja, lembaga yang dipercaya sebagai saluran pengalir rahmat Allah. Pada tahun 910, piagam pendirian biara Kluni menetapkan preseden dengan memberikan hak kepada para rahib untuk bebas memilih abas mereka. Upaya pembenahan tatanan hidup bergereja yang diprakarsai biara Kluni merembet dengan cepat ke mana-mana, didukung oleh kaum bangsawan yang menghargai syafaat para rahib bagi keselamatan jiwa mereka.[43][44] Pusat maupun cabang-cabang biara Kluni hanya tunduk kepada kewibawaan paus.[45][46]

Para paus, yang dihormati sebagai pengganti Rasul Petrus, menyatakan diri sebagai pemimpin tertinggi Gereja, dengan menyitir kata-kata pujian Yesus kepada Petrus.[47] Pada kenyataannya, keluarga-keluarga bangsawan Roma mengendalikan kepausan sampai Kaisar Hendrikus III memasuki kota Roma pada tahun 1053. Kaisar Hendrikus mengangkat rohaniwan-rohaniwan yang mencetuskan Pembenahan Gregorius demi tegaknya "kebebasan Gereja", melarang simoni alias praktik jual-beli jabatan gerejawi, dan menjadikan para kardinal, yakni rohaniwan-rohaniwan senior, sebagai satu-satunya pihak yang berhak memilih paus.[48][49] Andrew Latham, sarjana hubungan internasional, berpendapat bahwa Pembenahan Gregorius membuat Gereja Barat berkonflik dengan "sederet kekuatan sosial di dalam maupun di luar dunia Kristen".[50] Pada masa itu, perbedaan-perbedaan teologi dan liturgi di antara kelompok Kristen arus utama di Barat dan kelompok Kristen arus utama di Timur sudah semakin dalam,[keterangan 3] dan berbuntut aksi saling ekskomunikasi pada tahun 1054 dan perpecahan antara Gereja Katolik di barat dan Gereja-Gereja Ortodoks di timur.[51][52]

Kebangkitan semangat bergama mulai mengakar seiring munculnya komunitas-komunitas rahib seperti tarekat Kartusian dan tarekat Sistersien, dan menyebarnya Tata Tertib Santo Agustinus di kalangan rohaniwan sekuler. Kristosentrisme—fokus baru kepada hidup dan sengsara Kristus—juga turut menempa corak kehidupan pada masa itu, dan menginspirasi para penceramah keliling.[53]

Situasi dunia menjelang perang salib pertama

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Peta Eropa menjelang pertempuran Manzikert

Sekitar tahun 1000, ada empat kekuatan besar yang mendominasi kawasan sekitar Laut Tengah, yaitu khilafah bani Umayah di Andalus, khilafah bani Fatimah di Mesir, khilafah bani Abas (secara nominal) di Timur Tengah, dan Kekaisaran Romawi Timur di Eropa Selatan dan Anatolia. Dalam hitungan beberapa dasawarsa, semuanya mengalami krisis serius, khususnya di timur, tempat kekeringan dan gelombang dingin memicu kelaparan dan kerawanan.[54][55] Perubahan iklim menguntungkan Eropa Barat, memicu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan populasi.[56] Kota-kota di Eropa Barat masih relatif kecil-kecil ukurannya. Kota-kota terbesar sekalipun, seperti Venesia dan Roma, hanya berpenduduk kurang dari 40.000 jiwa.[keterangan 4][56]

Andalus melemah akibat konflik dan pecah menjadi beberapa negara kecil yang rawan terhadap ekspansi Kristen alias Reconquista.[57] Di Mesir dan Palestina, akibat sungai Nil berulang kali tidak meluap saat tiba musimnya, terjadi bencana kelaparan dan ketegangan antarumat beragama. Pada tahun 1009, Gereja Makam Kudus dihancurkan atas perintah Khalifah Alhakim dari bani Fatimah,[keterangan 5][59] kendati kelak dibangun kembali dengan dukungan Romawi Timur.[60] Sementara itu, migrasi-migrasi orang Turkoman dari Asia Tengah mengguncang stabilitas Timur Tengah. Togril I, pemimpin Turkoman dari kabilah Seljuk, merebut kekuasaan dari khilafah bani Abas pada tahun 1055.[61][62] Penggantinya, Alp Arslan, mengalahkan Romawi Timur di Manzikert pada tahun 1072, dan dengan demikian melapangkan jalan bagi orang Turkoman untuk masuk dan menetap di Anatolia.[63][64]

Dengan memudarnya kekuatan-kekuatan tradisional, kaum saudagar Italia menguasai perdagangan di Laut Tengah.[65] Orang-orang Norman dari kawasan utara Prancis menaklukkan bagian selatan jazirah Italia dan pulau Sisilia pada tahun 1091.[66][67] Lantaran ekspansi mereka mengancam kepentingan kepausan, Paus Leo IX terdorong untuk memerangi mereka. Meskipun mengalami kekalahan, Sri Paus menjanjikan pengampunan dosa kepada orang-orang yang ikut serta berjuang di pihak kepausan,[68][69] menunjukkan bahwa kepausan tidak segan-segan melimpahkan insentif spiritual bagi kepentingan perang.[70]

Hasrat kesatria-kesatria Eropa Barat akan tanah dan kekuasaan cocok dengan paus-paus yang kian lama kian lugas, yang menganugerahkan pengampunan dosa untuk kepentingan perang melawan kekuatan-kekuatan Muslim di Sisilia dan Iberia.[keterangan 6][71][72][73] Kenyataan bahwa negeri-negeri itu dulunya Kristen membuat kepausan teringat akan nasib Palestina. Pada tahun 1074 Paus Gregorius VII mengusulkan perang untuk merebut kembali Yerusalem, tetapi tak kunjung terlaksana.[74] Tidak lama kemudian, timbul kontroversi investitur yang dipicu oleh perdebatan seputar kewenangan paus dan kewenangan raja. Konflik bersenjata yang terjadi selama kontroversi itu berlangsung menggugah kembali minat orang terhadap teori-teori perang yang sah.[75][76] Anselmus asal Lucca, seorang ahli hukum kanonik, menghimpun risalah-risalah Agustinus untuk mengukuhkan dalilnya bahwa perang yang ditujukan untuk mencegah terjadinya dosa merupakan tindakan cinta kasih. Teolog Bonizo asal Sutri menganggap orang-orang yang gugur dalam perang semacam itu sebagai martir.[75][77] Gagasan-gagasan ini bermuara kepada keyakinan bahwa perang yang sah bisa dijadikan laku tobat.[78]

Perang salib

[sunting | sunting sumber]

Berkat pulihnya minat mengkaji ajaran Agustinus tentang kekerasan yang sah, Gereja Barat mendapatkan kerangka ideologis bagi pertembungan militer.[73] Menjelang akhir abad ke-11, ketika kepedulian orang terhadap urusan dosa sedang tinggi-tingginya, kepausan berada di posisi yang tepat untuk menggerakkan nilai-nilai yang dipedomani golongan kesatria.[79]

Perang Salib I

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Gambar peristiwa pengepungan Yerusalem tahun 1099 di dalam naskah babad karangan Wilelmus asal Tirus, dari abad ke-13

Lantaran kelabakan membendung arus migrasi orang Turkoman ke wilayah Romawi Timur, Kaisar Aleksius Komnenus meminta bantuan militer dari Paus Urbanus II pada tahun 1095. Sri Paus menyambut baik permintaan tersebut sebagai peluang untuk menegaskan kembali wibawa kepausan, lantas menyerukan perang melawan orang Turkoman dalam Konsili Clermont, dengan iming-iming pahala rohani bagi orang-orang yang mematuhi seruannya.[80][81] Sejarawan Jonathan Riley-Smith menyifatkan seruan perang Paus Urbanus sebagai "seruan yang revolusioner" karena menautkan dua hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain, yaitu perang dan ziarah.[78]

Di luar dugaan, seruan Paus Urbanus ternyata mampu membangkitkan semangat juang yang bergelora. Pada awal tahun 1096, rombongan tentara salib yang kurang terpimpin, beranggotakan 20.000 orang, berangkat ke Tanah Suci untuk mendarmabaktikan diri bagi perjuangan yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Perang Salib Rakyat. Sebagian besar gugur atau tewas dibantai dalam perjalanan.[82][83] Gelombang kedua, yang sudah lebih terpimpin, menyusul antara bulan Agustus dan Oktober tahun yang sama, beranggotakan sekurang-kurangnya 30.000 orang petarung dan orang-orang bukan petarung yang sama banyaknya, dipanglimai bangsawan-bangsawan terkemuka, antara lain Raimundus asal Saint-Gilles, Boamundus asal Taranto, dan Godefridus asal Bouillon.[84][85] Rombongan bergerak melintasi wilayah-wilayah kekuasaan Muslim dan merebut kota Edesa, Antiokhia, serta Yerusalem pada bulan Juli 1099.[86][87]

Perang salib demi Tanah Suci

[sunting | sunting sumber]

Para pejuang perang salib pertama mengukuhkan keberhasilan aksi penaklukkan mereka dengan mendirikan empat negara, yaitu Kabupaten Edesa, Kepangeranan Antiokhia, Kerajaan Yerusalem, dan Kabupaten Tripoli. Usaha untuk mempertahankan negara-negara ini memicu perang-perang baru, yang pertama meletus seawal-awalnya pada tahun 1101. Beberapa ekspedisi, khususnya ekspedisi yang dikepalai oleh kepala negara monarki, dibedakan dengan label angka.[88][89] Perang-perang tersebut membuat kawasan Levans bergejolak nyaris tanpa jeda, menarik tenaga prajurit dari berbagai belahan dunia, termasuk tentara salib dari Eropa Barat, prajurit budak dari Afrika sub-Sahara, dan aswasada kelana dari kawasan padang belantara Erasia.[90]

Jatuhnya Kabupaten Edesa ke tangan pemimpin Turkoman Imaduddin Zenggi pada tahun 1144 memicu Perang Salib II, di bawah pimpinan Raja Prancis Ludovikus VII dan Raja Jerman Konradus III, yang berakhir gagal pada tahun 1148.[91][92] Nuruddin, anak Imaduddin Zenggi, mempersatukan Suriah di bawah pemerintahan Muslim dan melucuti kekuatan khilafah bani Fatimah. Kekuasaan atas Suriah dan Mesir akhirnya jatuh ke tangan Salahuddin, seorang panglima Kurdi yang ambisius. Pada tahun 1187, Salahuddin menghancurkan pasukan Kerajaan Yerusalem di Hatin dan merebut sebagian besar wilayah yang dikuasai tentara salib, termasuk kota Yerusalem.[93][94]

Wujud nyata pelaksanaan

[sunting | sunting sumber]

Memikul salib

[sunting | sunting sumber]

Tentara salib mengikrarkan kaul keikutsertaan dalam perjuangan, dan biasanya diikuti upacara penjahitan lambang salib berbahan kain biasa atau kain sutra—biasanya berwarna merah—pada mantel mereka. Dengan "memikul salib", mereka membulatkan tekad untuk menanggapi seruan Kristus yang termaktub di dalam Injil Matius, yaitu "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus  memikul salibnya dan mengikut Aku".[95][96] Upacara ini menggemakan kembali semangat imitatio Christi (mengikuti jejak Kristus), gerakan spiritual abad ke-11 yang mendorong umat beriman meneladani Kristus dengan cara melayani sesama.[53] Benda-benda khas peziarah seperti tongkat dan pundi-pundi juga dibagi-bagikan.[97] Lambang salib harus terus melekat pada pakaian tentara salib sampai mereka kembali dari medan perang. Pencopotan lambang salib sebelum waktunya dapat dikenai sanksi oleh pihak Gereja,[keterangan 7][99] dengan pengecualian langka seperti sakit, miskin, atau ketidakcakapan.[100] Pada akhir abad ke-12, tentara salib secara luas dikenal dengan sebutan crucesignati (orang-orang yang diberi tanda salib).[101]

Hak istimewa

[sunting | sunting sumber]

Selaku orang-orang yang sedang melaksanakan laku tobat dan ziarah bersenjata, tentara salib digolongkan di dalam hukum kanonik sebagai rohaniwan sementara di bawah yurisdiksi gerejawi.[102] Hah-hak istimewa sekuler yang mula-mula diberikan kepada mereka tidak terdokumentasi dengan baik. Menurut salah satu kitab kumpulan hukum kanonik, tentara salib perdana berikut barang-barang bawaan mereka berada "di bawah perlindungan keamanan Jeda Allah". Guibertus asal Nogent, mencatat bahwa Paus Urbanus menawarkan perlindungan kepada tentara salib dan seisi rumahnya, dengan ancaman ekskomunikasi bagi siapa saja yang berani mencelakai mereka.[103] Pendekatan hukum semacam ini masih disifatkan sebagai "barang baru" pada tahun 1107 oleh Ivo asal Chartres, ahli hukum kanonik yang enggan mengadili perkara perebutan sebuah benteng tentara salib.[keterangan 8][105] Konsili Lateran I menjadikan keistimewaan tersebut bersifat resmi, melindungi "rumah dan seisi rumah" tentara salib, lengkap dengan ancaman hukuman ekskomunikasi otomatis atau latae sententiae bagi pelanggar, hanya saja pelaksanaannya tidak konsisten.[106] Paus Egenius III juga menangguhkan tindak lanjut tuntutan hukum terhadap tentara salib, menangguhkan kewajiban mereka untuk membayar bunga pinjaman,[107][108] dan memberi kuasa kepada mereka untuk menjual tanah—termasuk tanah lungguh—tanpa perlu persetujuan anggota keluarga maupun bangsawan majikan.[109]

Seni rupa

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Sampul depan buku mazmur Melisendis berbahan gading, dari sekitar tahun 1135

Di tiga negara tentara salib di utara Tanah Suci, karya seni rupa figuratif yang sintas hanya berupa gambar pada kepingan-kepingan uang logam,[keterangan 9] tetapi Kerajaan Yerusalem meninggalkan warisan artistik yang jauh lebih kaya.[111] Artefak-artefak tersebut menyingkap kentalnya pengaruh seni rupa Bizantin,[112] kendati hiasan-hiasan tertua yang sintas menampakkan ciri-ciri seni rupa Barat.[keterangan 10][113] Pada pertengahan abad ke-12, baik Gereja Makam Kudus maupun Gereja Kelahiran dihiasi mozaik.[112][114] Seniman-seniman Barat yang menggarap naskah-naskah gemilap di Yerusalem juga menyerap cita rasa keindahan Bizantin.[115] Contoh yang paling indah adalah buku mazmur Melisendis, yang dibuat atas pesanan Raja Fulko untuk dihadiahkan kepada Ratu Melisendis sekitar tahun 1135.[116][117] Menurut Andrew Jotischky, kepenajaan Peranggi dalam pembuatan ikon-ikon mungkin adalah tanda paling kentara dari "cita rasa Bizantin dalam karya-karya seni rupa tentara salib", yang sebagian besar terlestarikan di Biara Santa Katerina di Gunung Sinai dan di Siprus.[118]

Hanya sedikit karya seni yang sintas dari zaman penjajahan Peranggi di Yunani. Fresko-fresko Santo Fransiskus Asisi masih dapat dijumpai di dalam Masjid Jami Kalenderhane di Istambul,[119] dan lukisan dinding Santo Antonius dan Santo Yakobus masih terpampang di salah satu regol di Akronauplia.[120] Di kawasan Baltik, kaum elit pendatang yang hidup selibat atau endogamis menolak tradisi-tradisi seni rupa lokal, sembari melanggengkan seni budaya sendiri yang khas Katolik dan Jerman.[121]

Seni sastra

[sunting | sunting sumber]

Gerakan perang salib, yang bertepatan dengan "Renesans Abad XII", mengilhami penulisan karya-karya sastra yang sangat beragam,[122] termasuk karya-karya yang disifatkan sebagai sekumpulan sumber naratif "yang besar dan beraneka di luar kelaziman" oleh sejarawan Elizabeth Lapina.[123]

Riwayat-riwayat perdana mengenai perang salib yang pertama menghidupkan kembali tradisi sejarah militer komprehensif yang terakhir kali muncul pada Abad Kuno.[124] Gajak Orang Peranggi, yang rampung ditulis pada tahun 1104, menjadi acuan bagi riwayat-riwayat berikutnya yang terlahir lewat goresan pena Raymundus asal Aguilers, Fulkerus asal Chartres, dan Robertus asal Rheims. Sastrawan-sastrawan pro paus tersebut mendapuk Paus Urbanus sebagai pencetus utama perang salib, kendati pencetus utama perang salib menurut Albertus asal Aachen adalah Petrus Pertapa.[125][126]

Meskipun Perang Salib I tetap merupakan perang salib yang paling banyak catatan sejarahnya, perang-perang salib berikutnya juga menginspirasi penulisan karya-karya sastra baru oleh Odo asal Deuil, Otto asal Freising, dan Oliverus asal Paderborn.[127][128] Jika catatan-catatan perang salib terdahulu ditulis dalam bahasa Latin, maka tiga penulis babad Perang Salib IV, yaitu Galfridus asal Villehardouin, Robertus asal Clari, dan Hendrikus asal Valenciennes, menganggit karya-karya mereka dalam bahasa Prancis Lama.[129] Banyak penulis babad yang khusus meliput sepak terjang tokoh pejuang tertentu.[keterangan 11][130] Beberapa sastrawan memadukan bentuk prosa dan sajak menjadi karya sastra hibrida yang disebut prosimetra.[129]

Di lingkungan negara-negara tentara salib, muncul sebuah ragam sastra yang khas. Babad yang ditulis Wilelmus asal Tirus memperlihatkan upaya untuk mengumpulkan dukungan dari negara-negara Barat dan terus mengobarkan semangat juang orang-orang Peranggi.[132] Babad Morea, sumber sejarah utama tentang sepak terjang orang Peranggi di negeri Yunani, sintas dalam bahasa Prancis, bahasa Yunani, bahasa Aragon, dan bahasa Italia.[133] Di kawasan Baltik, babad anggitan sastrawan Hendrikus asal Livonia memperlihatkan belarasa terhadap umat Kristen pribumi, sedangkan Babad Bersajak Livonia mengagung-agungkan kebrutalan tentara salib.[134]

Petikan dari prakata Kidung Antiokhia

Umat Kristen harus memikul tanda salib demi Dia, dan berjuang mengasam anak cucu Antikristus. Tuhan kita menyerumu supaya berangkat ke Yerusalem untuk membunuh dan membikin kelu kaum pagan fasik yang enggan beriman kepada Allah, meluhurkan karya-karya-Nya, maupun menuruti titah-titah-Nya.

Awanama, Kidung Antiokhia[135]

Syair Kidung Tuanku Cid

Babad anggitan Robertus asal Rheims menginspirasi bait-bait Kidung Antioch, sebuah syair wiracarita Prancis yang meriwayatkan peristiwa pengepungan Antiokhia.[136] Kidung ini memunculkan lingkup sastra wiracarita perang salib yang bersifat semihistoris.[137] Hanya 179 nyanyian dalam bahasa rakyat yang sintas, sebagian besar adalah nyanyian bahasa Oksitan gubahan para biduan kelana, yang menggunakan ragam-ragam tembang tradisional seperti sirventes, pastorella, dan planh.[138] Sarjana kesusastraan Linda Paterson mengetengahkan nyanyian Oksitan gubahan Marcabru, yang mengagung-agungkan perang salib Iberia, sebagai nyanyian dengan kekuatan yang istimewa.[139] Sebagian besar nyanyian Prancis dan Oksitan berasal dari zaman perang salib yang ketiga.[140] Di Iberia, Kidung Tuanku Cid, yang mengisahkan sepak terjang tokoh bangsawan Kastilia, Rodrigo Díaz de Vivar, melahirkan tradisi balada perang Reconquista.[141][142]

Karya sastra Muslim, Kristen Timur, dan Yahudi

[sunting | sunting sumber]

Meskipun alim-ulama Muslim Abad Pertengahan tidak pernah menjadikan perang salib sebagai sebuah topik khusus, penyair-penyair Muslim seperti Ibu Khayat memperingatkan ancaman "kaum musyrik".[143] Hanya dua karya tulis Muslim yang memuat keterangan tentang hubungan sehari-hari dengan orang Peranggi, yaitu memoar seorang bangsawan bernama Usama bin Munqid dan catatan ziarah Ibnu Jubair. Beberapa wiracarita Arab—misalnya hikayat srikandi Zatul Himmah—juga menyinggung perang salib.[144] Untuk sejarah perang salib Iberia, kompendium dari awal abad ke-14 karya Ibnu 'Idhari pada khususnya merupakan sumber yang andal.[145]

Seusai perang salib yang pertama, para sastrawan Bizantin mulai menggambarkan orang-orang Eropa sebagai satu kelompok tunggal, dengan menggunakan istilah-istilah seperti Latini (orang Latin). Niketas Khoniates maupun penulis-penulis babad lainnya mengakui kepiawaian militer orang Latin tetapi mencitrakan mereka sebagai orang-orang barbar.[146] Bentrokan-bentrokan yang timbul semasa perang salib yang kedua menginspirasi penulisan dua buah puisi yang menyamakan tentara salib dengan binatang buas.[147] Kemudian hari, kesusastraan rakyat Bizantin menyerap motif-motif roman kewiraan, yaitu kesatria aswasada, asmara, dan petualangan.[148]

Catatan Armenia tertua mengenai perang salib, yaitu sebuah kolofon risalah hukum dari tahun 1098, menyebutkan kedatangan "bangsa pahlawan dari barat". Para penulis babad seperti Matius asal Edesa menggambarkan perang salib dengan istilah-istilah apokalipsis, mengait-ngaitkan pemerintahan orang Peranggi dengan kerajaan keempat dalam nubuat Daniel.[149] Pada tahun 1144, prelatus Nerses Snorhali menggubah Ratapan Kejatuhan Edesa yang menyuarakan harapan akan keruntuhan Islam di masa depan.[150] Babad yang ditulis Sembat, seorang bangsawan Kilikia, memperlihatkan pengetahuan yang dalam tentang adat istiadat Eropa Barat.[151]

Peristiwa pembantaian Rheinland memicu tanggapan sastrawi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Yahudi Eropa. Awanama Mainz, salah satu riwayat tertua yang ditulis dalam bahasa Ibrani, menginspirasi babad-babad yang ditulis sesudahnya, termasuk babad karangan Eliezer bin Natan.[152] Ratapan-ratapan yang mengabadikan kenangan pahit dari pogrom-pogrom yang dialami orang Yahudi terserap ke dalam tata ibadat Hari Kesembilan Bulan Ab sekitar tahun 1200.[153] Peziarah-peziarah Yahudi semisal Benyamin asal Tudela mengabadikan perjalanan mereka dalam catatan-catatan safari,[154] dan seorang Yahudi awanama asal Prancis yang menetap di Tanah Suci pada tahun 1211 menulis sebuah risalah yang menyeru kawan-kawan sebangsanya untuk merebut kembali Tanah Suci bagi kepentingan agama Yahudi.[155]

Warisan sejarah

[sunting | sunting sumber]
BERJAYA
Kuda-kuda Santo Markus, barang jarahan dari Konstantinopel yang diboyong ke Venesia

para sarjana belum mencapai kata sepakat tentang bagaimana gerakan perang salib menempa hubungan antarumat beragama. Sekalipun perang-perang salib mengakibatkan penderitaan dan ketegangan antarumat beragama, kekerasan dalam perang-perang tersebut adalah perkara lumrah yang terjadi pada zamannya. Dampak perang salib terhadap pertukaran budaya belum dapat diketahui secara pasti, karena perdagangan maupun kanal-kanal lain juga menyebarluaskan berbagai macam gagasan dan teknologi. Peristiwa penjarahan kota Konstantinopel benar-benar merusak hubungan Katolik–Ortodoks, menghambat terbinanya kerja sama untuk melawan Usmani.[156] Meskipun demikian, perang-perang salib membuat ekspansi Usmani tertunda, dan usaha terakhir Usmani untuk menerobos masuk ke Eropa Tengah dijegal oleh sepasukan tentara salib.[157]

Gerakan perang salib mendorong penguatan negara-negara Eropa Barat dengan menyingkirkan cukup banyak elit militer lokal dan menciptakan preseden-preseden perpajakan yang terkonsentrasi. Kontak dagang yang kian luas dengan dunia luar mendorong urbanisasi di Eropa Barat. Penjualan aset lahan garapan menggerus tatanan-tatanan tradisional yang terbina di atas ikatan-ikatan pribadi antara kawula dan majikan.[158]

Gerakan perang salib mendorong maju garis perbatasan Dunia Kristen di Iberia dan kawasan Baltik, menyuburkan permukiman Katolik dan memupuk kesatuan liturgi.[159] Ekspansi kekuasaan politik kadang-kadang mengakibatkan perubahan bahkan kepunahan bahasa. Sebagai contoh, dokumen-dokumen dalam bahasa Arab di Iberia nyaris sepenuhnya menghilang pada tahun 1290, dan bahasa Prusia Lama punah pada tahun 1680.[160] Gerakan perang salib juga melahirkan pahlawan-pahlawan dan lambang-lambang nasional, misalnya Dannebrog, bendera Denmark.[161] Segelintir lembaga tentara salib yang masih ada dewasa ini, yang rata-rata adalah cabang-cabang turunan dari ordo-ordo militer terdahulu, dapat dilacak asal-usulnya sampai ke gerakan perang salib. Gagasan tentang kekerasan atas nama agama Kristen sebagai wujud nyata pengamalan cinta kasih terus bertahan dalam beberapa tafsir, misalnya teologi pembebasan.[162]

Baca juga

[sunting | sunting sumber]

Keterangan

[sunting | sunting sumber]
  1. Perjanjian Lama mencitrakan perang-perang bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka sebagai perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah, tetapi memuat pula Titah Kelima yang melarang pembunuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan bahwa "barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang", tetapi Yesus juga berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."[8]
  2. Meskipun jihad maupun perang salib sama-sama adalah wujud dari perang suci, tidak ada bukti keterkaitan yang bersifat langsung di antara keduanya. Sejarawan Paul M. Cobb menisbatkan kemiripan keduanya kepada "akar bersamanya di dalam suatu monoteisme universal yang bertuhankan Allah yang cemburu".[21]
  3. Perbedaan-perbedaan paling kentara di antara kedua komunitas Kristen itu terletak di dalam pengubahan isi Syahadat Nikea secara sepihak oleh Gereja Barat, dan penggunaan roti beragi alih-alih roti tak beragi dalam perayaan Ekaristi—upacara utama liturgi Kristen—oleh Gereja Timur.[51]
  4. Sebagai perbandingan, Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, diperkirakan berpenduduk 600.000 jiwa, sementara Bagdad, ibu kota bani Abas, maupun Kairo, ibu kota bani Fatimah, berpenduduk kira-kira 500.000 jiwa, dan Kordoba, ibu kota bani Umayah berpenduduk sekurang-kurangnya 100.000 jiwa.[56]
  5. Sebuah ensiklik—yang diduga diterbitkan oleh Paus Sergius IV pascapenghancuran Gereja Makam Kudus—mengungkapkan niat Paus Sergius untuk memimpin sebuah armada berlayar ke timur dan membangun kembali gereja itu, tetapi ensiklik tersebut adalah dokumen palsu dari akhir abad ke-11 yang dibuat di biara Moissac.[58]
  6. Paus Aleksander II menawarkan pengampunan dosa kepada orang-orang Norman yang memerangi negara Islam Sisilia, dan menjanjikan penghapusan siksa dosa kepada para kesatria yang berangkat ke Iberia.[71]
  7. Ekskomunikasi Kaisar Frederikus II merupakan contoh nyata. Sang kaisar bertolak menuju medan perang pada tahun 1227, tetapi wabah penyakit memaksanya pulang. Meskipun demikian, Paus Gregorius IX menjatuhkan pidana ekskomunikasi kepadanya karena sudah gagal menunaikan kaul. Jotischky berpendapat bahwa mungkin saja alasan sebenarnya di balik ekskomunikasi Frederikus adalah usaha-usaha yang dilakukannya untuk mengukuhkan kekuasaannya atas Gereja di Sisilia.[98]
  8. Paus Paskalis II sudah mengamanatkan kepada Ivo untuk mengekskomunikasi Rotrodus III, Bupati Perche, lantaran priagung Prancis itu membangun benteng di atas lahan milik Hugo II asal Le Puiset. Ivo ragu-ragu, dan mengungkapkan bahwa dia tidak mau "menghukum orang seperti hasasin, tanpa diadili lebih dulu".[104]
  9. Sejarawan seni rupa Jaroslav Folda mengidentifikasi sebuah Alkitab format-besar, yang kini tersimpan di San Daniele del Friuli, sebagai perkecualian lantaran gaya seninya yang khas, memadukan unsur-unsur seni rupa Armenia, Bizantin, dan Suryani—sangat cocok dengan konteks Antiokhia.[110]
  10. Jaroslav Folda menduga bahwa arca Kristus dari perak seukuran orang dewasa adalah artefak pertama yang ditempatkan di Aedicula pada zaman tentara salib, yakni arca yang hanya diketahui keberadaannya dari catatan peninggalan Daniel Musafir, seorang peziarah asal Rus.[113]
  11. Sebagai contoh, Godefridus asal Bouillon menjadi tokoh utama dalam babad anggitan Albertus asal Aachen, Radulfus asal Caen mendedikasikan babad anggitannya, Gajak Tankredus, kepada Tankredus, bangsawan Italia keturunan Norman,[130] sedangkan Yohanes asal Joinville menulis hagiografi Raja Ludovikus IX.[131]
  1. Hornby 2005, hlm. 370.
  2. Nicholson 2004, hlm. xlviii.
  3. Jotischky 2017, hlm. 10–11.
  4. Nicholson 2004, hlm. xl–xli, xlviii.
  5. Murray 2006, hlm. xxxi.
  6. Lloyd 2002, hlm. 65.
  7. Tyerman 2019, hlm. 13–14.
  8. Asbridge 2012, hlm. 14–15.
  9. Jaspert 2006, hlm. 14.
  10. 1 2 3 Tyerman 2019, hlm. 14.
  11. Madden 2013, hlm. 2.
  12. Lock 2006, hlm. 358.
  13. Backman 2022, hlm. 56–59.
  14. Tyerman 2019, hlm. 15, 482 (note 21).
  15. 1 2 Jaspert 2006, hlm. 15.
  16. Jaspert 2006, hlm. 14–15.
  17. 1 2 Thomson 1998, hlm. 69–70.
  18. Jaspert 2006, hlm. 14, 30–31.
  19. Backman 2022, hlm. 126, 141–143.
  20. Lock 2006, hlm. 4.
  21. Cobb 2016, hlm. 29.
  22. Hillenbrand 2018, hlm. 89–91.
  23. Jaspert 2006, hlm. 75.
  24. Cobb 2016, hlm. 30.
  25. Backman 2022, hlm. 144–146.
  26. Dennis 2001, hlm. 31.
  27. Tyerman 2007, hlm. 38.
  28. Bysted 2014, hlm. 53–54.
  29. Jaspert 2006, hlm. 16.
  30. Bull 2002, hlm. 24.
  31. Backman 2022, hlm. 213–214.
  32. Jaspert 2006, hlm. 17–18.
  33. Morris 2001, hlm. 144.
  34. Backman 2022, hlm. 214–215.
  35. Jaspert 2006, hlm. 25.
  36. Jaspert 2006, hlm. 30–31.
  37. Mayer 2009, hlm. 25–27.
  38. Bysted 2014, hlm. 20, 96.
  39. Cobb 2016, hlm. 33–34.
  40. Jaspert 2006, hlm. 21–22.
  41. Tyerman 2019, hlm. xxiii–xxv.
  42. Jotischky 2017, hlm. 34–36.
  43. Thomson 1998, hlm. 33–35.
  44. Jaspert 2006, hlm. 27–28.
  45. Jaspert 2006, hlm. 27.
  46. Latham 2011, hlm. 231.
  47. Thomson 1998, hlm. 39.
  48. Thomson 1998, hlm. 82–85.
  49. Jotischky 2017, hlm. 25.
  50. Latham 2011, hlm. 240.
  51. 1 2 Jaspert 2006, hlm. 4.
  52. Jotischky 2017, hlm. 28–29.
  53. 1 2 Jaspert 2006, hlm. 29.
  54. Tyerman 2019, hlm. 33–41, 47.
  55. Ellenblum 2012, hlm. 3.
  56. 1 2 3 Tyerman 2019, hlm. 47.
  57. Cobb 2016, hlm. 60–70.
  58. Mayer 2009, hlm. 17.
  59. Ellenblum 2012, hlm. 46–47.
  60. Lock 2006, hlm. 12.
  61. Ellenblum 2012, hlm. 61–122.
  62. Lock 2006, hlm. 12–14.
  63. Cobb 2016, hlm. 71–72.
  64. Jotischky 2017, hlm. 45.
  65. Tyerman 2019, hlm. 57.
  66. Backman 2022, hlm. 287–288.
  67. Cobb 2016, hlm. 49–60.
  68. Bysted 2014, hlm. 57.
  69. Jotischky 2017, hlm. 26.
  70. Morris 2001, hlm. 144–145.
  71. 1 2 Bysted 2014, hlm. 57–58.
  72. France 1999, hlm. 188–189.
  73. 1 2 Bull 2002, hlm. 18.
  74. Tyerman 2007, hlm. 49.
  75. 1 2 Jotischky 2017, hlm. 25–27.
  76. Backman 2022, hlm. 301–302.
  77. Bysted 2014, hlm. 209.
  78. 1 2 Riley-Smith 2002a, hlm. 78.
  79. Jaspert 2006, hlm. 33.
  80. Asbridge 2012, hlm. 34–38.
  81. Jotischky 2017, hlm. 54.
  82. Lloyd 2002, hlm. 35–36.
  83. Lock 2006, hlm. 20–21.
  84. Asbridge 2012, hlm. 43–46.
  85. Jaspert 2006, hlm. 40–45.
  86. Irwin 2002, hlm. 215–217.
  87. Lock 2006, hlm. 20–26.
  88. Lloyd 2002, hlm. 37.
  89. Lock 2006, hlm. 137–224.
  90. Tibble 2025, hlm. 16–17.
  91. Lock 2006, hlm. 147–150.
  92. Madden 2013, hlm. 50–59.
  93. Jotischky 2017, hlm. 119–129.
  94. Asbridge 2012, hlm. 343–363.
  95. Riley-Smith 2002a, hlm. 69.
  96. Tyerman 2019, hlm. 4–5.
  97. Riley-Smith 2002a, hlm. 691.
  98. Jotischky 2017, hlm. 237–238.
  99. Riley-Smith 2002a, hlm. 71.
  100. Lloyd 2002, hlm. 48.
  101. Tyerman 2019, hlm. 5.
  102. Riley-Smith 2005, hlm. 128.
  103. Brundage 1997, hlm. 141–143.
  104. Brundage 1997, hlm. 144–145.
  105. Riley-Smith 2002a, hlm. 71–72.
  106. Brundage 1997, hlm. 146-147, 152–153.
  107. Jaspert 2006, hlm. 64.
  108. Brundage 1997, hlm. 147.
  109. Blaydes & Paik 2016, hlm. 558.
  110. Folda 2002, hlm. 148.
  111. Folda 2002, hlm. 139.
  112. 1 2 Dodwell 1993, hlm. 241.
  113. 1 2 Folda 2002, hlm. 140.
  114. Folda 2002, hlm. 143–145.
  115. Dodwell 1993, hlm. 241, 243.
  116. Dodwell 1993, hlm. 242.
  117. Folda 2002, hlm. 141.
  118. Jotischky 2017, hlm. 160.
  119. Folda 2002, hlm. 148–149.
  120. Gerstel 2001, hlm. 264–266.
  121. Christiansen 1997, hlm. 218.
  122. Routledge 2002, hlm. 91.
  123. Lapina 2019, hlm. 11.
  124. Lapina 2019, hlm. 19.
  125. Tyerman 2011, hlm. 8–11, 15.
  126. Jaspert 2006, hlm. 38.
  127. Lapina 2019, hlm. 12.
  128. Jotischky 2017, hlm. 94, 233.
  129. 1 2 Lapina 2019, hlm. 14.
  130. 1 2 Constable 2001, hlm. 4.
  131. Lapina 2019, hlm. 13.
  132. Lapina 2019, hlm. 12, 20.
  133. Lock 1995, hlm. 21–22.
  134. Christiansen 1997, hlm. 94–96.
  135. Ailes 2019, hlm. 34.
  136. Tyerman 2011, hlm. 12–13.
  137. Ailes 2019, hlm. 32–33.
  138. Routledge 2002, hlm. 92–93.
  139. Paterson 2019, hlm. 12, 14, 20.
  140. Paterson 2019, hlm. 41.
  141. Cortest 1998, hlm. xi.
  142. Jaspert 2006, hlm. 117.
  143. Hillenbrand 2018, hlm. 9, 69–71.
  144. Hillenbrand 2018, hlm. 259–266.
  145. O'Callaghan 2003, hlm. xiii.
  146. Kazhdan 2001, hlm. 86–89.
  147. Jeffreys & Jeffreys 2001, hlm. 101–109, 115–116.
  148. Gerstel 2001, hlm. 274.
  149. Thomson 2001, hlm. 72–75.
  150. MacEvitt 2008, hlm. 177.
  151. Thomson 2001, hlm. 80.
  152. Shachar 2019, hlm. 105–106.
  153. Shachar 2019, hlm. 109–110.
  154. Backman 2022, hlm. 480–481.
  155. Shachar 2019, hlm. 112–113.
  156. Jaspert 2006, hlm. 166–168.
  157. Nicholson 2004, hlm. 92.
  158. Blaydes & Paik 2016, hlm. 552–553.
  159. Bartlett 1994, hlm. 11–24.
  160. Bartlett 1994, hlm. 203–204.
  161. Tyerman 2019, hlm. 468.
  162. Riley-Smith 2002b, hlm. 385–389.

Kepustakaan

[sunting | sunting sumber]

Bacaan tambahan

[sunting | sunting sumber]