Kongres Wina
Kongres Wina adalah sebuah pertemuan antara para wakil dari kekuatan-kekuatan besar di Eropa. Pertemuan ini dipimpin oleh negarawan Austria, Klemens Wenzel von Metternich dan diadakan di Wina, Austria dari 1 September 1814 hingga 9 Juni 1815. Tujuannya adalah untuk menentukan kembali peta politik di Eropa setelah kekalahan Prancis kekuasaan Napoleon pada musim semi sebelumnya.
Perbicangan dalam kongres ini tetap berlanjut meskipun Napoleon Bonaparte, mantan Kaisar Prancis kembali dari pengasingan dan melanjutkan kekuasaan di Prancis pada Maret 1815. Pasal Terakhir Kongres ditandatangani sembilan hari sebelum kekalahan terakhir Napoleon pada Pertempuran Waterloo. Secara teknis, "Kongres Wina" sebenarnya tidak pernah dilaksanakan, karena Kongres tersebut tidak pernah bersidang dalam sesi pleno, tetapi hanya berbincang dalam sesi-sesi informal yang dihadiri para kekuatan besar.
Beberapa pemimpin dan wakil negara yang hadir:
- Pangeran Metternich dari Austria, Kanselir Austria
- Viscount Castlereagh (Britania Raya)
- Tsar Alexander I dari Rusia
- Karl August von Hardenberg, Perdana Menteri Prusia
- Raja Friedrich Wilhelm III dari Prusia
- Charles Maurice de Talleyrand-Perigord (Prancis)
Hadirin
[sunting | sunting sumber]
Arthur Wellesley, 1st Duke of Wellington
Joaquim Lobo Silveira, 7th Count of Oriola
António de Saldanha da Gama, Count of Porto Santo
Count Carl Löwenhielm
Louis Joseph Alexis, Comte de Noailles
Klemens Wenzel, Prince von Metternich
André Dupin
Count Karl Robert Nesselrode
Pedro de Sousa Holstein, 1st Count of Palmela
Robert Stewart, Viscount Castlereagh
Emmerich Joseph, Duke of Dalberg
Baron Johann von Wessenberg
Prince Andrey Kirillovich Razumovsky
Charles Stewart, 1st Baron Stewart
Pedro Gómez Labrador, 1st Marquess of Labrador
Richard Le Poer Trench, 2nd Earl of Clancarty
Friedrich von Gentz (Congress Secretary)
Baron Wilhelm von Humboldt
William Cathcart, 1st Earl Cathcart
Prince Karl August von Hardenberg
Charles Maurice de Talleyrand-Périgord
Count Gustav Ernst von Stackelberg
Kongres dilaksanakan dengan format pertemuan formal dan pembentukan kelompok kerja antar seluruh negara yang hadir dengan fungsi diplomasi formal. Namun, sebagian besar Kongres Wina dilakukan secara informal melalui salon, jamuan dan pesta.[1]
Empat Besar
[sunting | sunting sumber]Empat kekuatan besar sebelumnya membentuk bagian utama dari Koalisi Keenam dalam perang melawan Prancis. Pada saat Napoleon akan kalah, mereka telah menggaris besarkan syarat mereka di Perjanjian Chaumont pada Maret 1814, dan merundingkan Traktat Paris (1814) dengan pemerintahan Kerajaan Prancis pengasingan dibawah Louis XVIII dari Prancis untuk menfasilitasi restorasi:[2]
- Kekaisaran Austria diwakili oleh Pangeran Klemens von Metternich, Menteri Luar Negeri, dan wakilnya, Baron Johann von Wessenberg. Austria menginginkan keseimbangan kekuatan tetap terjaga sembari melindungi kepentingan negara-negara konservatif, serta membangun kembali reputasi diplomatik Austria di Jerman dan Italia. Karena diselengarakan di Wina, hasil Kongres akan diikuti oleh Kaisar Franz dengan seksama.[3]
- Britania Raya diwakili oleh Menteri Luar Negeri Britania Raya, Viscount Castlereagh dan kemudian oleh Adipati Wellington setelah Castlereagh pulang ke Inggris pada 1815. Tujuan Britania Raya di Kongres ini adalah untuk mencegah Prancis untuk mendapatkan kembali status negara adikuasa serta menghentikan Rusia dari mendapatkan status tersebut. Seperti Austria, Britania Raya juga ingin menjaga keseimbangan kekuatan namun Britania mengangkat hak-hak negara kecil untuk mencapai tujuannya. Pada hari terakhir, delegasi Britania diwakili oleh Earl Clancarty karena Adipati Wellington kembali ke medan tempur melawan Napoleon Bonaparte di Seratus Hari.[4]
- Tsar Aleksandr I dari Rusia memimpin delegasi dari Kekaisaran Rusia yang sebenarnya berada di bawah pimpinan Count Karl Nesselrode. Ada dua tujuan Aleksandr I dalam Kongres Wina, yakni mendapatkan pengakuan internasional atas kekuasaan Rusia di Polandia dan menjalin hubungan damai dengan negara Eropa lain, dengan Rusia sebagai negara darat adikuasa. Di Kongres ini Aleksandr I berhasil membentuk Aliansi Suci bersama Austria dan Prusia berdasarkan prinsip monarkisme dan anti-sekularisme, serta melawan prinsip-prinsip revolusi atau republikanisme.[5]
- Prusia diwakili oleh Pangeran Karl August von Hardenberg, Kanselir Prusia dan Wilhelm von Humboldt, seorang diplomat dan akademisi. Prusia ingin meningkatkan kekuatan mereka di negara-negara Jerman, serta menganeksasi Sachsen dan sebagian wilayah Ruhr. Raja Friedrich Wilhelm III dari Prusia juga hadir di Wina untuk memainkan peran dibalik layar.[6]
- Prancis memainkan peran sebagai kekuatan "kelima". Mereka diwakili oleh Charles-Maurice de Talleyrand-Périgord, Adipati Benevento ke-1 sebagai Menteri Luar Negeri dan juga Emmerich Joseph de Dalberg, Adipati Dalberg ke-1. Talleyrand sebelumnya menegosiasikan Traktat Paris (1814) atas nama Louis XVIII dari Prancis. Tujuan Talleyrand adalah mengembalikan status Prancis sebagai kekuatan besar dan mencegah Prancis dari partisi wilayah oleh pihak Koalisi. Louis XVIII namun tidak begitu memercayai Talleyrand sepenuhnya maka ia juga melakukan negosiasi dengan Pangeran Metternich melalui surat.[7]
Kekuatan Kecil, peserta Trakat Paris 1814
[sunting | sunting sumber]Negara-negara ini tidak hadir di Perjanjian Chaumont namun mereka meratifikasi Traktat Paris (1814):
- Swedia, diwakili oleh Count Carl Löwenhielm[8]
Taktik diplomasi
[sunting | sunting sumber]Polandia dan Sacshen
[sunting | sunting sumber]Isu yang paling kompleks dalam Kongres Wina adalah perlakuan terhadap wilayah Polandia dan Sachsen. Karena keduanya berpihak kepada Napoleon Bonaparte, Rusia menginginkan sebagian besar wilayah Polandia sementara Prusia ingin menganeksasi Sachsen. Tsar Aleksandr I dari Rusia mau menjadi Raja Polandia.[9] Setelah dianalisa oleh Austria, Austria menolak gagasan tersebut. Penolakan Austria didukung oleh Britania Raya sementara Prusia mendukung mosi Rusia, menyebabkan hasil seri. Talleyrand kemudian menawarkan solusi: Masukan Prancis ke dalam lingkaran dalam koalisi dan Prancis akan mendukung Austria dan Britania Raya. Ketiga negara kemudian menandatangani sebuah perjanjian pada 3 Januari 1815 diantara ketiga negara yang berisi bahwa mereka akan berperang melawan Rusia dan Prusia, jika diperlukan, untuk menghentikan rencana Rusia.[10]
Tsar Aleksandr I mengetahui perjanjian rahasia tersebut, dan kemudian ia menawarkan kompromi yang memuaskan seluruh pihak pada 24 Oktober 1815. Kompromi tersebut adalah Rusia akan mendapatkan sebagian besar wilayah Kadipaten Warsawa sebagai "Kerajaan Polandia" yang bernama Ketsaran Polandia dimana Tsar Aleksandr I menjadi raja dan negara tersebut dikuasai secara terpisah dari Rusia. Namun, wilayah mayoritas Polandia Raya dan Kuyavia, beserta Wilayah Chełmno akan diberikan kepada Prusia dan sebagian besar termasuk juga wilayah Keharyapatihan Posen (Poznań), sementara Kraków akan diberikan status kota bebas dan akan menjadi wilayah protektorat bersama untuk Rusia, Prusia dan Austria. Selain itu, Tsar Aleksandr I setuju untuk tidak mengabungkan wilayah yang ia dapatkan dengan wilayah yang sudah dianeksasi dari pemisahan pertama yang sudah menjadi wilayah Rusia pada 1790an. Prusia mendapatkan 60% wilayah Sachsen, kebanyakan wilayah tersebut menjadi Provinsi Sachsen sejak 1816 (dengan Lusatia Hilir dan beberapa wilayah lain digabungkan ke Provinsi Brandenburg dan Lusatia Hulu masuk ke Provinsi Silesia); Sisa wilayah Sachsen tetap menjadi negara merdeka dibawah pimpinan Frederick Augustus I dari Sachsen sebagai Kerajaan Sachsen.[11]
Perjanjian akhir
[sunting | sunting sumber]Akta Akhir, yang mencakup semua perjanjian terpisah, ditandatangani pada tanggal 9 Juni 1815 (sembilan hari sebelum Pertempuran Waterloo).[12] Beberapa pasal meliputi:
- Sebagian besar Kadipaten Warsawa, kecuali provinsi-provinsi yang merupakan bagian dari Austria dan Prusia, menjadi bagian dari Kerajaan Polandia yang merdeka. Raja Polandia adalah Tsar Alexander. Peran ini seharusnya sebagian besar bersifat seremonial karena ia seharusnya terikat erat oleh konstitusi. Namun, secara praktis, Polandia ditelan oleh pengaruh Rusia (Tsar Nikolai I, yang memerintah Rusia setelah Alexander, mengatakan bahwa ia tidak merasa terikat oleh konstitusi).[13]
- Selain peran mereka di Polandia, Rusia mempertahankan Finlandia (yang telah dianeksasi dari Swedia pada tahun 1809 dan akan dikuasai hingga tahun 1917, sebagai Keharyapatihan Finlandia).
- Prusia menerima tiga perlima wilayah Sachsen, bagian barat Kadipaten Warsawa (sebagian besar menjadi bagian dari Keharyapatihan Posen yang baru dibentuk), Gdańsk (Danzig), Keharyapatihan Rhein Hilir (penggabungan departemen Prancis sebelumnya, Rhin-et-Moselle, Sarre, dan Roer), dan Provinsi Jülich-Cleves-Berg (yang merupakan penggabungan dari Guelders Prusia sebelumnya, Kepangeran Moers, dan Kadipaten Agung Berg).
- 39 negara Jerman, termasuk Austria dan Prusia akan membentuk Konfederasi Jerman dibawah kepresidenan Kaisar Austria. Konfederasi ini merupakan bentuk lanjutan dari Kekaisaran Romawi Suci yang beranggotakan 300 negara. Hanya bagian dari Austria (Austria, Bohemia, Tirol Selatan, Moravia, Silesia Austria, Krain dan Küstenland) dan Prusia (termasuk Provinsi Prusia dan Keharyapatihan Posen) masuk ke Konfederasi ini.
- Belanda dan Belanda Selatan (Belgia masa kini) akan menjadi negara monarki persatuan sebagai Kerajaan Bersatu Belanda dengan Wangsa Oranye-Nassau menjadi wangsa penguasa utama. (lihat Delapan Pasal London)
- Pomerania Swedia, yang diberikan kepada Kerajaan Denmark pada 1814 sebagai ganti untuk Kerajaan Norwegia, akan dijual ke Prusia.[14] Prancis juga akan menerima kembali Guadeloupe dari Swedia, dengan pembayaran tahunan kepada Raja Swedia.
- Elektorat Hannover akan dinaikkan menjadi status kerajaan. Kadipaten Lauenburg akan diberikan kepada Denmark, namun Hannover akan menerima wilayah bekas Keuskupan Münster dan Frisia Timur dari Prusia.
- Ekspansi wilayah untuk Bayern, Württemberg, Baden, Hessen-Darmstadt, dan Nassau dibawah mediasi 1801 sampai 1806 akan diakui. Bayern juga akan menerima kekuasaan atas Pfalz dan bagian dari Kadipaten Wurzburg dan Keharyapatihan Frankfurt yang pro Napoleon. Hessen-Darmstadt akan melepaskan kekuasaan atas Kadipaten Westfalia ke Prusia dengan ganti menerima Rheinhessen dengan ibukota Mainz.
- Ferdinand III diakui kembali sebagai Adipati Agung Toscana.[15]
- Negara Gereja akan diakui sebagai negara berdaulat dengan Paus sebagai kepala negara. Wilayah Negara Gereja akan direstorasikan kecuali untuk wilayah Avignon dan Comtat Venaissin yang akan berada dibawah Prancis.
- Britania Raya mengakuisisi Koloni Tanjung di Afrika Selatan, Tobago, Ceylon, dan beberapa wilayah jajahan lain di Asia dan Afrika. Jajahan lain seperti Martinik dan Hindia Belanda akan dikembalikan ke penjajah masing-masing.
- Kerajaan Sardinia yang dibentuk kembali di Piemonte, Nice dan Savoia akan mengakuisisi Genova.
- Perdagangan budak telah dikecam.[16]
- Kebebasan navigasi akan diterapkan untuk banyak sungai, terutama Sungai Rhein dan Sungai Donau.[17]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Rösch, Felix (2020-10-26). "Affect, practice, and change: Dancing world politics at the Congress of Vienna". Cooperation and Conflict (dalam bahasa Inggris). 56 (2): 123–140. doi:10.1177/0010836720954467. ISSN 0010-8367.
- ↑ Nicolson 1946, hlm. 118–133.
- ↑ Kissinger 1957, hlm. 7–28.
- ↑ Kissinger 1957, hlm. 9–36.
- ↑ Nicolson 1946, hlm. 158.
- ↑ Simon, Walter M. (1956). "Prince Hardenberg". Review of Politics. 18 (1): 88–99. doi:10.1017/S0034670500023597. JSTOR 1404942.
- ↑ Blinn, Harold E. (1935). "New Light on Talleyrand at the Congress of Vienna". Pacific Historical Review. 4 (2): 143–160. doi:10.2307/3633726. JSTOR 3633726.
- ↑ Bernard, hlm. 381.
- ↑ Zawadzki, W.H. (1985). "Russia and the Re-Opening of the Polish Question, 1801–1814". International History Review. 7 (1): 19–44. doi:10.1080/07075332.1985.9640368.
- ↑ Nicolson, Sir Harold (2001). The Congress of Vienna: A Study in Allied Unity: 1812–1822 Diarsipkan 22 March 2015 di Wayback Machine. Grove Press; Rep. Ed. pp. 140–164. ISBN 0-8021-3744-X
- ↑ Webster 1913, hlm. 49–101.
- ↑ An Italian version of the Final Act was published in 1859: Atto finale del Congresso di Vienna fra le cinque grandi potenze, Austria, Francia, Inghilterra, Prussia e Russia del 9 giugno 1815 (dalam bahasa Italia). Milan: Sanvito. 1859.
- ↑ Historia Civilis (2022-04-02). The Congress of Vienna (Part 2) (1814 to 1815). Diakses tanggal 2025-03-07 – via YouTube.
- ↑ "Prussian payment for Swedish Pomerania". Grosstuchen.
- ↑ Bernard, hlm. 417.
- ↑ Atto Finale 1859, hlm. 67–68, Art. 118, paragraph n. 15.
- ↑ Atto Finale 1859, hlm. 64 ff, Articles 108 et seq..
