close
Lompat ke isi

Perang Teluk I

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Teluk
Bagian dari Perang Dingin
BERJAYA
Searah jarum jam dari atas: F-15E USAF, F-16, dan F-15C terbang di atas sumur minyak Kuwait yang terbakar; Pasukan Inggris dari Resimen Staffordshire dalam Operasi Granby; tampilan kamera dari Lockheed AC-130; Jalan Raya Kematian; Kendaraan Insinyur Tempur M728
Tanggal2 Agustus 1990 – 17 Januari 1991
(Operasi Gurun Perisai)
17 Januari – 28 Februari 1991
(Operasi Badai Gurun)
(6 bulan, 3 minggu, 5 hari)
LokasiTeluk Persia, Kuwait, dan Arab Saudi
Hasil

Kemenangan mutlak koalisi

  • Pembebasan Kuwait.


  • Terbentuknya Zona larangan terbang di Utara dan Selatan Irak


  • Pemberontakan Irak 1991
Pihak terlibat

BERJAYA Kuwait
BERJAYA Amerika Serikat
BERJAYA Arab Saudi
BERJAYA Suriah
BERJAYA Britania Raya
BERJAYA Prancis
BERJAYA Kanada
BERJAYA Mesir


Koalisi :

BERJAYA Belanda
BERJAYA Belgia
BERJAYA Selandia Baru
BERJAYA Bahrain
BERJAYA Pakistan
BERJAYA Turki
BERJAYA Yunani
BERJAYA Uni Emirat Arab
BERJAYA Singapura
BERJAYA Korea Selatan
BERJAYA Jepang
BERJAYA Jerman
BERJAYA Italia
BERJAYA Honduras
BERJAYA Maroko
BERJAYA Norwegia
BERJAYA Denmark
BERJAYA Qatar
BERJAYA Polandia
BERJAYA Filipina
BERJAYA Spanyol
BERJAYA Portugal
BERJAYA Argentina
BERJAYA Swedia
BERJAYA Bangladesh
BERJAYA Ba'athis Irak
Tokoh dan pemimpin
BERJAYA George H. W. Bush
Amerika Serikat Dan Quayle
BERJAYA Norman Schwarzkopf
Amerika Serikat John W. Hendrix
Amerika Serikat Robert B. Johnston
Amerika Serikat James O. Ellis
Amerika Serikat James Mattis
Amerika Serikat Tommy Franks
Kuwait Saad Al-Abdullah
Kuwait Amir Jabir al-Ahmad
Kuwait Fahad Al-Ahmed 
Britania Raya Margaret Thatcher
Britania Raya John Major
Britania Raya Peter de la Billière
Britania Raya Rupert Smith
Prancis François Mitterrand
Prancis Michel Roquejeoffre
Prancis Bernard Janvier
Arab Saudi Raja Fahd
Arab Saudi Pangeran Abdullah
Arab Saudi Khalid bin Sultan
Arab Saudi Saleh Al-Muhaya
Mesir Hosni Mubarak
Mesir Hussein Tantawi
Mesir Sabri Abu Taleb
Suriah Hafez al-Assad
Suriah Mustafa Tlass
Suriah Dawoud Rajiha
Kanada Brian Mulroney
Kanada Kenneth J. Summers
BERJAYA Saddam Hussein
BERJAYA Tariq Aziz
BERJAYA Ali Hassan al-Majid
BERJAYA Izzat Ibrahim al-Douri
BERJAYA Iyad Futayyih
BERJAYA Uday Hussein
BERJAYA Maher Abd al-Rashid
Kekuatan
950.000 Pasukan
1.800 Pesawat
3.118 Tank
8 Kapal Induk
2.200 Artileri
600.000 Pasukan di Kuwait
5.500 Tank
700 Pesawat
3.000 Artileri
Korban
Koalisi :
392 Tewas
776 Terluka
31 Tank Hancur
31 APC Hancur
75 Pesawat Jatuh/Kecelakaan
Kuwait :
420 Tewas
12.000 ditangkap
200 Tank Hancur/direbut
800 APC Hancur/direbut
57 Pesawat Hilang
25.000 Tewas
75.000 Terluka
3.000 Tank Hancur/Rusak
110+ Pesawat Hancur/Jatuh
4,739 Warga Sipil Tewas

Perang Teluk Persia atau Gulf War dengan kode nama Operasi Badai Gurun atau Operation Desert Storm disebabkan atas Invasi Irak atas Kuwait 2 Agustus 1990 dengan strategi gerak cepat yang langsung menguasai Kuwait. Emir Kuwait Syeikh Jaber Al Ahmed Al Sabah segera meninggalkan negaranya dan Kuwait dijadikan provinsi ke-19 Irak dengan nama Saddamiyat Al-Mitla` pada tanggal 28 Agustus 1990, sekalipun Kuwait membalasnya dengan serangan udara kecil terhadap posisi posisi Irak pada tanggal 3 Agustus 1991 dari pangkalan yang dirahasiakan (kemungkinan berada di Saudi Arabia).

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam Perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Irak juga terjerat utang luar negeri dengan beberapa negara, termasuk Kuwait dan Arab Saudi. Irak berusaha meyakinkan kedua negara tersebut untuk menghapuskan utangnya, tetapi ditolak. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.

Tengah malam tanggal 2 Agustus 1990 Irak secara resmi menginvasi Kuwait, dengan membombardir ibu kota Kuwait City dari udara. Meskipun Angkatan Bersenjata Kuwait, baik kekuatan darat maupun udara berusaha mempertahankan negara, mereka dengan cepat kewalahan. Namun, mereka berhasil memperlambat gerak Irak untuk memaksa keluarga kerajaan Kuwait untuk meloloskan diri ke Arab Saudi, beserta sebagian besar tentara yang masih tersisa. Akibat invasi ini, Kuwait meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990.

Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain baik negara-negara Arab dan Afrika Utara kecuali Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat (Inggris, Prancis dan Jerman Barat, ditambah negara-negara Eropa Utara dan Eropa Timur), serta 2 negara Asia - Bangladesh dan Korea Selatan. Sementara, dari Afrika, Niger turut bergabung dalam koalisi. Pasukan Amerika Serikat dan Eropa di bawah komando gabungan yang dipimpin Jenderal Norman Schwarzkopf serta Jenderal Collin Powell. Pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen. Khalid bin Sultan.

Misi diplomatik antara James Baker dengan menteri luar negeri Irak Tareq Aziz gagal (9 Januari 1991). Irak menolak permintaan PBB agar Irak menarik pasukannya dari Kuwait 15 Januari 1991. Akhirnya Presiden Amerika Serikat George H. Bush diizinkan menyatakan perang oleh Kongres Amerika Serikat tanggal 12 Januari 1991. Operasi Badai Gurun dimulai tanggal 17 Januari 1991 pukul 03:00 waktu Bagdad yang diawali serangan serangan udara masif atas Bagdad dan beberapa wilayah Irak lainnya.

Target utama koalisi adalah untuk menghancurkan kekuatan Angkatan Udara Irak dan pertahanan udara, yang diluncurkan dari Arab Saudi dan kekuatan kapal induk koalisi di Laut Merah dan Teluk Persia. Target berikutnya adalah pusat komando dan komunikasi. Saddam Hussein merupakan titik sentral komando Irak, dan inisiatif di level bawah tidak diperbolehkan. Koalisi berharap jika pusat komando rusak, semangat dan koordinasi tempur Irak akan langsung kacau dan lenyap. Target ketiga dan yang paling utama adalah instalasi rudal jelajah, terutama rudal Scud. Operasi pencarian rudal ini juga didukung oleh pasukan komando Amerika dan Inggris yang mengadakan operasi rahasia di daratan untuk mencari, dan bila perlu, menghancurkan instalasi rudal tersebut. serta operasi di daratan yang mengakibatkan perang darat yang dimulai tanggal 30 Januari 1991.

Irak melakukan serangan balasan dengan memprovokasi Israel dengan menghujani Israel terutama Tel Aviv dan Haifa, Arab Saudi di Dhahran dengan serangan rudal Scud B buatan Soviet rakitan Irak, yang bernama Al Hussein. Untuk menangkal ancaman Scud, koalisi memasang rudal penangkis, Patriot, serta memaksimalkan sorti udara untuk memburu rudal-rudal tersebut sebelum diluncurkan. Irak juga melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur sumur minyak di Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia. Sempat terjadi tawar-menawar perdamaian antara Uni Soviet dengan Irak yang dilakukan atas diplomasi Yevgeny Primakov dan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev tetapi ditolak Presiden Bush pada tanggal 19 Februari 1991. Sementara Soviet akhirnya tidak melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB semisal mengambil hak veto, meskipun Uni Soviet pada saat itu dikenal sebagai sekutu Irak, terutama dalam hal suplai persenjataan. Israel diminta Amerika Serikat untuk tidak mengambil serangan balasan atas Irak untuk menghindari berbaliknya kekuatan militer Negara Negara Arab yang dikhawatirkan akan mengubah jalannya peperangan.

Pada tanggal 27 Februari 1991 pasukan Koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan Presiden Bush menyatakan perang selesai.

Peninggalan

[sunting | sunting sumber]

Perang ini juga diberi julukan Video Game War (Perang Permainan Video) karena siaran gambar harian dari kamera di pesawat pembom Amerika Serikat saat Operasi Desert Storm.[1][2] Ada sebuah Game Boy yang selamat dari pengeboman dan menjadi salah satu "artefak" unik dari perang ini.[3][4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. A Guerra do Golfo, os Estados Unidos e as Relações Internacionais accessed on 29 March 2011.
  2. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine. Guerra/Terrorismo  O maior bombardeio da história Diarsipkan 2012-04-26 di Wayback Machine., access on 27 November 2011.
  3. "This Unstoppable Game Boy Survived a Gulf War Bombing". Ripley's Believe It or Not! (dalam bahasa American English). 2018-03-07. Diakses tanggal 2018-10-21.
  4. "Blown Up Game Boy From The Gulf War". TechCrunch (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2018-10-21.