close
Lompat ke isi

Kerajaan Shilluk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
BERJAYA
Bendera
BERJAYA
Wilayah kekuasaan Kerajaan Shilluk

Kerajaan Shilluk, yang dikuasai oleh suku Shilluk, adalah sebuah kerajaan yang terletak di sepanjang tepi kiri Sungai Nil Putih di wilayah yang kini menjadi Sudan Selatan dan Sudan bagian selatan. Ibu kota dan istana kerajaan berada di kota Fashoda. Menurut sejarah lisan Shilluk dan catatan negara tetangga, kerajaan ini didirikan oleh Nyikang, yang kemungkinan hidup pada paruh kedua abad ke-15.

Suku Shilluk berhasil membangun kerajaan yang terpusat dan mencapai puncak kejayaannya pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, saat Kesultanan Funj di utara mulai menurun. Pada abad ke-19, Shilluk mengalami serangan militer dari Kesultanan Utsmaniyah, yang mengakibatkan kehancuran kerajaan pada awal 1860-an. Saat ini, raja Shilluk bukan lagi pemimpin politik independen, melainkan kepala adat yang berperan dalam pemerintahan Sudan Selatan dan Sudan. Raja Shilluk saat ini adalah Reth Kwongo Dak Padiet, yang naik tahta pada 1993.[1]

Monarki Shilluk (Reth) bersifat politik sekaligus religius. Sang raja menjamin tertib sosial, dan kesehatan raja dianggap terkait langsung dengan kesehatan bangsa. Ibadah dilakukan melalui ritual yang terinspirasi dari mitos nasional Nyikang, Reth pertama. Sistem monarki Shilluk dan kepercayaan rakyatnya dipelajari pada 1911 oleh Charles Seligman dan pada 1916 oleh antropolog Inggris James George Frazer dalam bukunya The Golden Bough. Seligman menggambarkan bentuk pemerintahan Shilluk sebagai "kerajaan suci".[2]

Menurut legenda Shilluk, kerajaan didirikan pada 1490. Penguasa pertamanya yang legendaris, disebut "Reth", adalah pahlawan Nyikang, yang dikatakan setengah buaya dan memiliki kekuatan atas hujan.[3] Lokasi awalnya kemungkinan adalah Danau Albert, tempat suku Acholi tinggal.

Setelah kematian Okwa, Nyikang berperang dengan saudaranya, Duwadh, penerus sah tahta. Menghadapi kekalahan, Nyikang meninggalkan tanah kelahirannya bersama rombongannya dan bermigrasi ke timur laut menuju Wau (dekat Bahr el Ghazal, yang berarti "sungai rusa" dalam bahasa Arab). Di sini, yang dikenal Shilluk sebagai Pothe Thuro, Nyikang menikahi putri Dimo, seorang penyihir lokal. Setelah terjadi konflik dengan Dimo, Nyikang pindah ke utara, menyeberangi Bahr el Ghazal, dan menetap di Acietagwok, sebuah desa Shilluk sekitar 30 kilometer barat desa Tonga, sekitar 1550. Nyikang kemudian pergi ke Nyilual, wilayah tak berpenghuni di barat kota Malakal saat ini.[4] Legenda menyebutkan bahwa pada akhirnya Nyikang lenyap dalam pusaran angin di tengah pertempuran.[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Joshua Ojwok Yor (1993). "The istallation of the Reth of the Shilluk: Kwongo Dak Padiet" (PDF). Sudanese Folklife Research and Documentation Center - Ministry of Culture, Youth and Sports. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-05-16.
  2. Seligman, Charles Gabriel (1934). Egypt and Negro Africa: A Study in Divine Kingship. Routledge and Sons.
  3. 1 2 Martell 2018, hlm. 18.
  4. Oyler 1918, p. 108

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]
  • Martell, Peter (2018). First Raise a Flag. London: Hurst & Company. ISBN 978-1849049597.
  • Oyler, D. S. (1918). "Nikawng and the Shilluk migration". Sudan Notes and Records. Vol. I.