close
Lompat ke isi

Daftar negara dan dinasti Muslim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Daftar negara dan dinasti Muslim memuat negara, kekhalifahan, kesultanan, emirat, kerajaan, dan dinasti yang diperintah oleh penguasa Muslim atau secara historis menjadi bagian penting dari perkembangan politik dunia Islam. Daftar ini dimulai dari pembentukan komunitas politik Muslim di Madinah pada abad ke-7 dan berlanjut hingga dinasti Muslim yang masih berkuasa pada masa kini.[1]

Istilah "negara Muslim" dalam konteks sejarah tidak identik dengan istilah modern "negara mayoritas Muslim". Sebuah negara dapat dimasukkan apabila dinasti atau penguasanya Muslim dan pemerintahannya merupakan bagian dari sejarah politik masyarakat Islam, meskipun penduduknya tidak seluruhnya Muslim. Sebaliknya, daftar ini tidak dimaksudkan sebagai daftar semua negara modern yang berpenduduk mayoritas Muslim.[2]

C. E. Bosworth dalam The New Islamic Dynasties mencatat 186 dinasti utama dari wilayah Spanyol, Afrika Utara, Mesir, Suriah, Arabia, Afrika, Iran, Asia Tengah, India, hingga Asia Tenggara. Karena jumlah negara dan dinasti lokal jauh lebih besar, daftar di bawah bersifat selektif dan mengutamakan entitas yang berpengaruh secara regional, berlangsung relatif lama, atau mempunyai arti penting dalam sejarah Islam.[1]

Kekhalifahan dan negara Islam awal

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Pusat utama Keterangan
Negara Madinah 622–632 Madinah Komunitas politik Muslim yang dibentuk oleh Muhammad setelah Hijrah.
Kekhalifahan Rasyidin 632–661 Madinah; kemudian Kufah Dipimpin Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Kekhalifahan Umayyah 661–750 Damaskus Kekhalifahan dinasti pertama; wilayahnya meluas dari Iberia hingga Asia Tengah.
Kekhalifahan Abbasiyah 750–1258 Baghdad Menggantikan Umayyah; kekuasaan politik pusat melemah sejak abad ke-9 tetapi kekhalifahan bertahan hingga penaklukan Mongol.
Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 1261–1517 Kairo Garis Abbasiyah simbolis di bawah perlindungan Kesultanan Mamluk.
Kekhalifahan Fatimiyah 909–1171 Mahdia; kemudian Kairo Kekhalifahan Ismailiyah yang memerintah Afrika Utara, Mesir, dan sebagian Levant.
Kekhalifahan Kordoba 929–1031 Kordoba Cabang Umayyah di al-Andalus yang mengklaim gelar khalifah.
Kekhalifahan Almohad 1147–1269 Marrakesh Kekuasaan Berber di Maghrib dan al-Andalus.
Kesultanan Utsmaniyah 1299–1922 Bursa; Edirne; Konstantinopel Salah satu imperium Muslim terbesar; kesultanan dibubarkan 1922 dan institusi kekhalifahan Utsmaniyah dihapus 1924.

Peralihan dari Rasyidin ke Umayyah menandai tumbuhnya kekuasaan dinasti dalam politik Islam. Abbasiyah kemudian memerintah langsung hanya sebagian wilayahnya, sementara berbagai dinasti regional mengakui khalifah secara nominal atau menjadi sepenuhnya merdeka.[3]

Jazirah Arab dan Teluk Persia

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Ziyadid 819–1018 Yaman
Sulayhid 1047–1138 Yaman
Rasulid 1229–1454 Yaman
Tahirid 1454–1517 Yaman
Imamah Zaidiyah Yaman 897–1962 Yaman utara
Kerajaan Mutawakkiliyah Yaman 1918–1962 Yaman
Dinasti Nabhani sekitar 1154–1624 Oman
Dinasti Yaruba 1624–1742 Oman dan pesisir Afrika Timur
Dinasti Al Said 1744–sekarang Oman dan dahulu Zanzibar
Negara Saudi Pertama 1727/1744–1818 Najd
Negara Saudi Kedua 1824–1891 Najd
Kesultanan Najd 1921–1926 Arabia tengah
Kerajaan Hijaz dan Najd 1926–1932 Sebagian besar Arabia
Arab Saudi 1932–sekarang Jazirah Arab
Dinasti Al Khalifa 1783–sekarang Bahrain
Dinasti Al Sabah abad ke-18–sekarang Kuwait
Dinasti Al Thani abad ke-19–sekarang Qatar

Irak, Suriah, Mesir, dan Levant

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Tuluniyah 868–905 Mesir dan Suriah
Ikhshidiyah 935–969 Mesir dan Suriah
Hamdanid 890–1004 Mosul dan Aleppo
Uqaylid 990–1096 Irak utara
Zengid 1127–1250 Mosul, Aleppo, Suriah
Dinasti Ayyubiyah 1171–1260; cabang hingga abad ke-14 Mesir, Suriah, Yaman, Hijaz
Kesultanan Mamluk 1250–1517 Mesir dan Suriah
Artuqid 1102–1409 Diyarbakir dan Jazira
Dinasti Burid 1104–1154 Damaskus
Dinasti Mirdasid 1024–1080 Aleppo

Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Salahuddin Ayyubi setelah berakhirnya Fatimiyah. Di Mesir, Ayyubiyah kemudian digantikan oleh Mamluk, yang menahan ekspansi Mongol di Ain Jalut pada 1260 dan memerintah Mesir hingga ditaklukkan Utsmaniyah pada 1517.[3]

Iran, Kaukasus, dan Asia Tengah

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Tahiriyah 821–873 Khurasan
Saffariyah 861–1003 Sistan, Iran timur
Samaniyah 819–999 Transoxiana dan Khurasan
Alawiyah Tabaristan 864–928 Tabaristan
Sajid 889–929 Azerbaijan
Sallarid 919–1062 Azerbaijan dan Iran barat laut
Ziyarid 930–1090 Gorgan dan Tabaristan
Buwaihi 934–1062 Iran dan Irak
Ghaznawiyah 977–1186 Afghanistan, Iran timur, India utara
Kekaisaran Seljuk 1037–1194 Iran, Irak, Anatolia, Asia Tengah
Kekaisaran Khwarezmia 1077–1231 Iran dan Asia Tengah
Negara Nizari Ismailiyah 1090–1256 Iran dan Suriah
Ilkhanat 1256–1335 Iran, Irak, Kaukasus
Jalayirid 1335–1432 Irak dan Iran barat
Muzaffarid 1314–1393 Iran tengah dan selatan
Kekaisaran Timuriyah 1370–1507 Asia Tengah, Iran, Afghanistan
Qara Qoyunlu 1374–1468 Iran barat, Irak, Azerbaijan
Aq Qoyunlu 1378–1501 Iran, Irak, Anatolia timur
Kekaisaran Safawiyah 1501–1736 Iran dan Kaukasus
Dinasti Afshariyah 1736–1796 Iran
Dinasti Zand 1751–1794 Iran
Dinasti Qajar 1789–1925 Iran
Karakhanid 840–1212 Transoxiana dan Turkestan
Kekhanan Chagatai 1227–sekitar 1680 Asia Tengah
Dinasti Shaybanid 1500–1598 Transoxiana
Kekhanan Bukhara 1500–1785 Transoxiana
Keamiran Bukhara 1785–1920 Bukhara
Kekhanan Khiva 1511–1920 Khwarezm
Kekhanan Kokand 1709–1876 Lembah Fergana
Kekhanan Kazakh sekitar 1465–1847 Stepa Kazakh

Kebangkitan dinasti Persia dan Turki setelah melemahnya Abbasiyah mengubah politik dunia Islam dari satu kekhalifahan besar menjadi sistem banyak pusat kekuasaan. Seljuk memperkenalkan model kesultanan yang hidup berdampingan dengan khalifah Abbasiyah, sedangkan setelah invasi Mongol berbagai dinasti baru seperti Ilkhanat dan Timurid mengembangkan bentuk pemerintahan Islam-Persia yang berpengaruh luas.[1][2]

Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Danishmendid 1071–1178 Anatolia tengah dan timur
Kesultanan Rûm 1077–1308 Anatolia
Karamanid sekitar 1250–1487 Anatolia selatan-tengah
Germiyanid sekitar 1300–1429 Anatolia barat
Candarid 1292–1461 Anatolia utara
Beylik Aydin 1308–1426 Anatolia barat
Beylik Menteshe 1261–1424 Anatolia barat daya
Beylik Saruhan 1300–1410 Anatolia barat
Dulkadirid 1337–1522 Anatolia tenggara
Ramadanid 1352–1608 Çukurova
Kesultanan Utsmaniyah 1299–1922 Anatolia, Balkan, Timur Tengah, Afrika Utara

Beylik-beylik Anatolia muncul ketika kekuasaan Seljuk Rum melemah akibat dominasi Mongol. Salah satunya, dinasti Utsmaniyah, berkembang menjadi imperium lintas benua yang bertahan hingga awal abad ke-20.[1]

Afrika Utara dan al-Andalus

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Idrisiyah 788–974 Maroko
Rustamid 777–909 Aljazair tengah
Aghlabiyah 800–909 Ifriqiya dan Sisilia
Zirid 972–1148 Ifriqiya
Hammadid 1014–1152 Aljazair
Murabitun 1040–1147 Maghrib dan al-Andalus
Muwahhidun 1121/1147–1269 Maghrib dan al-Andalus
Marinid 1244–1465 Maroko
Zayyanid 1235–1556 Tlemcen
Hafsid 1229–1574 Tunisia dan Libya barat
Dinasti Saadi 1549–1659 Maroko
Dinasti Alaouite 1666–sekarang Maroko
Keamiran Kordoba 756–929 al-Andalus
Kekhalifahan Kordoba 929–1031 al-Andalus
Taifa abad ke-11–13 Iberia Muslim
Kesultanan Granada 1230–1492 Granada

Dinasti Umayyah di Kordoba bertahan setelah jatuhnya Umayyah di Suriah. Ketika kekhalifahan Kordoba pecah pada 1031, wilayah Muslim Iberia terfragmentasi menjadi kerajaan-kerajaan taifa, yang kemudian beberapa kali disatukan oleh Murabitun dan Muwahhidun dari Afrika Utara. Granada Nasrid merupakan negara Muslim terakhir di Iberia dan berakhir pada 1492.[4]

Afrika Barat dan Sahel

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Kekaisaran Mali sekitar 1235–1670 Mali dan Afrika Barat
Kekaisaran Songhai sekitar 1464–1591 Niger tengah dan Afrika Barat
Dinasti Askia 1493–1591 Kekaisaran Songhai
Kekaisaran Kanem–Bornu sekitar abad ke-9–1900 Chad, Nigeria, Niger
Kesultanan Darfur sekitar 1603–1916 Sudan barat
Kesultanan Wadai 1635–1912 Chad timur
Imamah Futa Jallon 1725–1896 Guinea
Imamah Futa Toro 1776–1861 Senegal
Kekhalifahan Sokoto 1804–1903 Nigeria dan Niger
Kekaisaran Massina 1818–1862 Mali
Kekaisaran Toucouleur 1848–1893 Senegal dan Mali

Islam telah hadir di Sahel melalui jaringan perdagangan trans-Sahara jauh sebelum sebagian besar masyarakat kawasan tersebut menjadi Muslim. Penguasa Mali dan Songhai menggunakan Islam sebagai bagian dari legitimasi dan diplomasi, sementara pada abad ke-18 dan ke-19 muncul negara-negara reformis seperti Futa Jallon dan Sokoto.[4][2]

Tanduk Afrika dan Afrika Timur

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Kesultanan Kilwa sekitar abad ke-10–1513 Pesisir Tanzania
Kesultanan Ifat sekitar 1285–1415 Ethiopia timur dan Somalia
Kesultanan Adal sekitar 1415–1577 Tanduk Afrika
Kesultanan Ajuran sekitar abad ke-13–17 Somalia
Kesultanan Warsangali sekitar 1218–1886 Somalia utara
Kesultanan Geledi akhir abad ke-17–1911 Somalia selatan
Kesultanan Majeerteen pertengahan abad ke-18–1924 Somalia timur laut
Kesultanan Hobyo 1878–1925 Somalia
Kesultanan Zanzibar 1856–1964 Zanzibar dan pesisir Afrika Timur

Anak benua India dan Afghanistan

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Ghaznawiyah 977–1186 Afghanistan dan India barat laut
Ghuriyah sekitar 879–1215 Afghanistan dan India utara
Kesultanan Delhi 1206–1526 India utara
Dinasti Mamluk Delhi 1206–1290 Delhi
Dinasti Khalji 1290–1320 Delhi
Dinasti Tughlaq 1320–1414 Delhi
Dinasti Sayyid 1414–1451 Delhi
Dinasti Lodi 1451–1526 Delhi
Kesultanan Bengal 1352–1576 Bengal
Kesultanan Gujarat 1407–1573 Gujarat
Kesultanan Malwa 1392–1562 India tengah
Kesultanan Jaunpur 1394–1479 India utara
Kesultanan Bahmani 1347–1527 Dekkan
Kesultanan Ahmadnagar 1490–1636 Dekkan
Kesultanan Bijapur 1490–1686 Dekkan
Kesultanan Berar 1490–1574 Dekkan
Kesultanan Bidar 1492–1619 Dekkan
Kesultanan Golkonda 1518–1687 Dekkan
Kekaisaran Mughal 1526–1857 Sebagian besar anak benua India
Dinasti Sur 1540–1555 India utara
Nawab Bengal 1717–1757/1880 Bengal
Negara Hyderabad 1724–1948 Dekkan
Kerajaan Mysore 1761–1799 di bawah Haidar Ali dan Tipu Sultan India selatan
Nawab Awadh 1722–1856 India utara
Negara Bhopal 1707–1949 India tengah
Dinasti Hotak 1709–1738 Afghanistan dan Iran timur
Kekaisaran Durrani 1747–1823 Afghanistan dan wilayah sekitarnya
Dinasti Barakzai 1823–1973 Afghanistan

Kesultanan Delhi terdiri atas lima dinasti utama dan menjadi basis utama kekuasaan Muslim di India utara sebelum Mughal. Di Dekkan, pecahnya Bahmani menghasilkan lima kesultanan yang dikenal sebagai kesultanan-kesultanan Dekkan.[1][4]

Asia Tenggara

[sunting | sunting sumber]

Islamisasi Asia Tenggara terutama berlangsung melalui jaringan perdagangan dan hubungan Samudra Hindia. Negara-negara Muslim mulai muncul secara jelas di kepulauan Asia Tenggara sejak sekitar abad ke-13, kemudian berkembang di Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Filipina selatan.[5]

Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Kesultanan Samudera Pasai sekitar 1267–1521 Aceh utara, Sumatra
Kesultanan Malaka sekitar 1400–1511 Semenanjung Malaya
Kesultanan Aceh 1496–1903/1904 Aceh dan Sumatra utara
Kesultanan Demak sekitar 1475–1554 Jawa
Kesultanan Cirebon abad ke-15–17 Jawa Barat
Kesultanan Banten 1526/1527–1813 Jawa Barat dan Lampung
Kesultanan Pajang 1568–1586 Jawa tengah
Kesultanan Mataram sekitar 1587–1755 Jawa
Kesultanan Palembang 1659–1823 Sumatra selatan
Kesultanan Siak Sri Indrapura 1723–1946 Sumatra timur
Kesultanan Deli 1632–1946 Sumatra timur
Kesultanan Langkat 1568–1946 Sumatra utara
Kesultanan Asahan sekitar 1630–1946 Sumatra timur
Kesultanan Banjar 1526–1860 Kalimantan selatan
Kesultanan Pontianak 1771–1950 Kalimantan barat
Kesultanan Kutai Kartanegara Islamisasi sejak abad ke-16; kerajaan hingga 1960 Kalimantan timur
Kesultanan Brunei sekitar abad ke-14–sekarang Brunei dan dahulu Kalimantan utara
Kesultanan Ternate sekitar 1257–1914 Maluku
Kesultanan Tidore sekitar 1450–1904 Maluku dan Papua barat
Kesultanan Gowa Islam sejak 1605; kerajaan hingga 1946 Sulawesi selatan
Kesultanan Buton 1542–1960 Sulawesi tenggara
Kesultanan Johor 1528–sekarang dalam berbagai bentuk dinasti Semenanjung Malaya
Kesultanan Perak 1528–sekarang Perak
Kesultanan Kedah dinasti lama; Islam sejak sekitar abad ke-12 Kedah
Kesultanan Kelantan dinasti modern sejak abad ke-18 Kelantan
Kesultanan Sulu sekitar 1405–1915 Kepulauan Sulu
Kesultanan Maguindanao sekitar 1515–1888 Mindanao
Kesultanan Pattani sekitar abad ke-15–1902 Thailand selatan

Kemunculan kesultanan-kesultanan Muslim di Nusantara merupakan bagian dari proses Islamisasi maritim yang berlangsung melalui perdagangan, jaringan ulama, perkawinan, diplomasi, dan pembentukan negara. Kajian modern menekankan bahwa proses tersebut memiliki banyak pusat dan tidak berlangsung melalui satu gelombang tunggal.[5]

Eropa Timur, Balkan, dan Laut Hitam

[sunting | sunting sumber]
Negara/dinasti Periode Wilayah utama
Volga Bulgaria Islam diadopsi 922; negara hingga 1236 Volga
Gerombolan Emas sekitar 1240–1502 Stepa Eurasia
Kekhanan Krimea 1441–1783 Krimea
Kekhanan Kazan 1438–1552 Volga tengah
Kekhanan Astrakhan 1466–1556 Volga bawah
Kekhanan Sibir sekitar 1490–1598 Siberia barat
Kesultanan Utsmaniyah 1299–1922 Balkan dan Anatolia

Islamisasi negara-negara penerus Mongol berlangsung secara bertahap. Gerombolan Emas menjadi kekuatan Muslim besar di Eurasia setelah konversi sejumlah khannya, dan pecahannya melahirkan beberapa kekhanan Muslim.[1]

Dinasti Muslim yang masih berkuasa

[sunting | sunting sumber]

Beberapa dinasti Muslim historis masih menjadi keluarga penguasa negara berdaulat pada abad ke-21.

Dinasti Negara Mulai berkuasa
Dinasti Alaouite Maroko 1666
Dinasti Al Said Oman 1744
Dinasti Al Sabah Kuwait abad ke-18
Dinasti Al Khalifa Bahrain 1783
Dinasti Al Saud Arab Saudi negara modern sejak 1932; akar dinasti abad ke-18
Dinasti Hasyimiyah Yordania 1921
Dinasti Al Thani Qatar abad ke-19
Dinasti Al Nahyan Uni Emirat Arab (Abu Dhabi) abad ke-18
Dinasti Al Maktoum Uni Emirat Arab (Dubai) 1833
Dinasti Bolkiah Brunei tradisional sejak abad ke-14

Di Malaysia, sembilan kerajaan Melayu tetap menjadi monarki turun-temurun dalam sistem federal, dengan Yang di-Pertuan Agong dipilih secara bergiliran dari para penguasa tersebut.

Klasifikasi menurut gelar

[sunting | sunting sumber]

Negara Muslim historis menggunakan berbagai gelar politik. Gelar tidak selalu menunjukkan tingkat kekuasaan yang sama dan penggunaannya berubah menurut tempat dan masa.

Gelar negara/penguasa Penjelasan
Kekhalifahan / khalifah Mengklaim kepemimpinan politik-religius komunitas Muslim secara luas.
Kesultanan / sultan Bentuk pemerintahan yang dipimpin sultan; meluas terutama sejak periode Seljuk.
Emirat / amir Negara atau wilayah yang dipimpin amir; dapat merdeka atau berada di bawah kekuasaan yang lebih besar.
Imamah / imam Negara yang legitimasi pemimpinnya terkait fungsi imam; digunakan antara lain di Oman dan Yaman.
Kekhanan / khan Negara dinasti Turki-Mongol yang dipimpin khan; beberapa menjadi Muslim setelah proses Islamisasi.
Nawab / nizamat Pemerintahan regional di anak benua India, terutama pada periode Mughal dan sesudahnya.
Kesyarifan / syarif Pemerintahan yang dipimpin keturunan Nabi Muhammad, seperti penguasa Makkah.

Catatan historiografis

[sunting | sunting sumber]

Klasifikasi "dinasti Muslim" tidak selalu sederhana. Sebagian dinasti memeluk Islam setelah beberapa generasi berkuasa, seperti sejumlah dinasti Mongol; sebagian menguasai masyarakat multireligius; dan sebagian negara tidak menggunakan hukum Islam sebagai satu-satunya dasar pemerintahannya. Karena itu, istilah tersebut terutama merupakan kategori historis mengenai identitas penguasa dan keterlibatan suatu negara dalam jaringan politik dunia Islam, bukan ukuran tingkat "keislaman" suatu pemerintahan.[2]

Dinasti dapat pula berkuasa secara bersamaan dan tumpang tindih. Khalifah Abbasiyah, misalnya, tetap memiliki legitimasi simbolis ketika Seljuk memegang kekuasaan militer dan administratif di sebagian besar wilayahnya. Di Mesir, khalifah Abbasiyah di Kairo pada era Mamluk tidak mempunyai kekuasaan teritorial seperti para khalifah Baghdad sebelumnya.[3]

Daftar kronologis juga dipengaruhi perbedaan penanggalan. Sejumlah negara tumbuh secara bertahap dari konfederasi, keamiran, atau kerajaan lokal sehingga tanggal "pendirian" dapat berbeda antarsumber. Tanggal dalam tabel mengikuti kronologi yang paling umum digunakan dalam literatur sejarah dan dalam banyak kasus bersifat perkiraan.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 Bosworth, C. E. (2004). The New Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Manual. Edinburgh: Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-2137-8.
  2. 1 2 3 4 Lapidus, Ira M. (2002). A History of Islamic Societies (Edisi 2). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.
  3. 1 2 3 Holt, P. M.; Lambton, Ann K. S.; Lewis, Bernard, ed. (1977). The Cambridge History of Islam. Vol. 1A. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29135-4.
  4. 1 2 3 Holt, P. M.; Lambton, Ann K. S.; Lewis, Bernard, ed. (1977). The Cambridge History of Islam. Vol. 2A. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29137-8.
  5. 1 2 Kersten, Carool (2017). A History of Islam in Indonesia: Unity in Diversity. Edinburgh University Press. doi:10.3366/edinburgh/9780748681839.001.0001. ISBN 978-0-7486-8183-9.

Bacaan lebih lanjut

[sunting | sunting sumber]
  • Bosworth, C. E. (2004). The New Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Manual. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-2137-8.
  • Holt, P. M.; Lambton, Ann K. S.; Lewis, Bernard, ed. (1977). The Cambridge History of Islam. Cambridge University Press.
  • Hodgson, Marshall G. S. (1974). The Venture of Islam. University of Chicago Press.
  • Lapidus, Ira M. (2002). A History of Islamic Societies (Edisi 2). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.
  • Kersten, Carool (2017). A History of Islam in Indonesia: Unity in Diversity. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-8183-9.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]